Dewan Minta Tekong TKI Gelap Disanksi

PRAYA –Tenggelamnya kapal pengangkut tenaga kerja Indonesia (TKI) gelap di perairan Teluk Mata Ikan Tanjung Bembam, Nongsa, Batam, Kepulauan Riau, Rabu lalu (2/11) menyisakan penyesalan di Lombok Tengah.

Tak hanya oleh keluarga korban, tetapi juga pemerintah daerah setempat. Musibah ini mendapatkan perhatian langsung dari Ketua DPRD Lombok Tengah, H Achmad Puaddi FT.  Puaddi mengaku, pihaknya prihatin dengan musibah ini. Terutama banyaknya TKI/TKW ilegal asal Lombok Tengah.

Karenanya, politisi Partai Golkar ini meminta agar Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disosnakertran) setempat, mendata ulang jumlah tekong/calo di daerah itu. Menurutnya, keberadaan para calon inilah yang menjadi salah satu penyebab maraknya TKI ilegal selama ini. ‘’Dinas terkait harus mendata kembali para tekong ini. Dinas juga harus memberikan sanksi tegas kepada tekong yang memberangkatkan TKI secara ilegal,’’ ujar Puaddi kemarin (7/11).

Desakan ini juga disampaikan Puaddi mengingat sudah terlalu banyak kasus TKI gelap selama ini. Mereka banyak pulang sengsara daripada bahagia. Sehingga dinas terkait harus segera mendata ulang untuk mengevaluasi keberadaan Penyalur Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) di daerah itu. Maksudnya, agar keberadaan mereka dipastikan legal semuanya. 

Puaddi pun mewanti-wanti agar dinas terkait lebih teliti dan berhati-hati lagi dalam mendata para PJTKI ini. Sehingga data yang dihasilkan betul-betul valid. Artinya, jika kemudian ditemukan ada PJTKI bodong atau diketahui sering menirim TKI gelap ke luar negeri, maka harus segera ditindak. ‘’Bila perlu harus dilaporkan ke pihak berwajib agar mereka bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya,’’ tegas mantan Kepala Desa Montong Terep ini.

Anggota dewan dua periode ini juga mengaku, pihaknya akan segera merancang regulasi tentang pengiriman TKI ini. Sehingga regulasi ini nantinya dapat dijadikan panduan dinas terkait dalam bekerja. Artinya, secara khusus Lombok Tengah akan mengatur masalah TKI-nya. Sehingga keberadaan para TKI ini bisa terlindungi mulai dari pemberangkatan hingga pemulangan. ‘’Kita akan segera membuat peraturan daerah untuk mengatur khusus masalah TKI ini. Kita akan evaluasi masalah kejadian yang menimpa TKI kita selama ini,’’ tutupnya. 

Wakil Bupati Lombok Tengah, L Pathul Bahri juga menyampaikan penyesalan dan keprihatinan yang sama. Dia menyesali pahlawan devisa ini tak seharusnya berangka secara gelap ke negeri orang. Seihingga mereka bisa mendapatkan jaminan dan perlindungan selama mencari nafkah di negeri rantau. Begitu juga ketika terjadi musibah, pemerintah bisa menjamin asuransi mereka dengan bukti dokumen tenaga kerja yang diakui legalitasnya. ‘’Sebaiknya kalau tidak resmi jangan berangkat, soalnya kita bingung kalau ada masalahnya seperti ini. Mereka tidak tedaftar,’’ imbuhnya.

Politisi Partai Gerindra ini mengimbau lagi, musibah tenggelamnya kapal TKI gelap ini bisa jadi pembelajaran. Masyarakat mestinya sudah sadar jika ingin bekerja di luar negeri, maka harus dilengkapi dokumen resmi. Sehingga legalitas mereka bisa dijamin sampai pulang. ‘’Tidak seperti musibah sekarang ini, kita bingung karena mereka tidak terdaftar,’’ tandasnya.

Informasi yang dihimpun Radar Lombok Tengah, TKI korban kapal tenggelam di perairan Teluk Mata Ikan Tanjung Bembam, Nongsa, Batam, Kepulauan Riau, asal NTB bertambah. Di antaranya Mustar 39 tahun, asal Desa Buntiang Kecamatan Sakra Barat Lombok Timur, Supardi 33 tahun, asal Dusun Lengkarak Desa Langko Kecamatan Janapria, Khairil Anwar 18 tahun, warga Dusun Tanak Embang Daye Desa Selebung Kecamatan Batukliang, dan Saeful Bahri 30 tahun, warga Dusun Gelogor Mapong Desa Bunut Baok Kecamatan Praya, Lombok Tengah. Tiga dari korban tambahan yang berhasil teridentifikasi ini merupakan warga Lombok Tengah.

Kepala Desa Bunut Baok Kecamatan Praya, Yasir Amrillah yang dikonfirmasi mengakui, jika Saeful adalah salah satu warganya. Kabar itu memang sudah berhembus sejak kemarin pagi. ‘’Besok sore (hari ini, Red) jenazahnya akan dipulangkan,’’ uangkapnya.

Kakak almarhum Saeful Bahri, Faridah yang dikonfirmasi juga membenarkan berita duka yang menimpa adiknya. Faridah menuturkan, informasi meninggal adiknya pertama kali diketahui dari salah seorang warga setempat bernama Udin, yang bekerja di Batam. Petugas identifikasi jenazah itu pertama kali menginformasikan, bahwa jenazah Saeful yang merupakan kerabatnya sudah teridentifikasi. ‘’Kami tahu dari kakak itu yang bekerja di Batam. Dia yang pertama kali menginformasikan,’’ tutur Faridah saat ditemui di rumahnya, kemarin.

Saat ini, keluarga besarnya sedang menunggu kedatangan jenazah almarhum. Meski belum mengetahui jelas jam berapa jenazahnya dipulangkan, tetapi keluarganya akan menyiapkan pemakamannya. Sehingga jenazah adiknya tak berlarut dan bisa langsung dikebumikan. ‘’Kami sedang menyiapkan untuk pemakamannya besok (hari ini, Red),’’ pungkasnya. (cr-met/dal)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid