Dewan Lotim Dukung Langkah KPPU

SELONG—Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Lotim mendukung penuh langkah Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) untuk mengusut kecurangan proses pembelian tembakau Virginia para petani oleh perusahaan tembakau. Langkah ini  dianggap sangat tepat, mengingat selama ini perusahaan terkesan seenaknya dalam menentukan satuan harga. Praktik “nakal” yang dilakukan perusahaan tersebut sangat merugikan para petani tembakau.

Jika proses pembelian tembakau dilakukan secara sehat, maka diyakini para petani tembaku Virginia Lotim hidupnya akan sejahtera. Namun nyatanya, para petani  tembakau, terutama petani binaan selama ini mereka selalu terkekang oleh perusahaan yang menjadi mitranya. “Saya kira kita mendukung langkah KPPU membongkar praktik penjualan tembakau virginia ini,” tegas Wakil Ketua DPRD Lotim, H. Daeng Paelori, kemarin (13/11).

Dijelaskan, dalam proses penetapan harga tembakau Virginia, DPRD Lotim sama sekali tidak pernah dilibatkan. Prosesnya sepenuhnya dilakukan di DPRD Provinsi, dengan melibatkan perusahaan dan pihak-pihak terkait.

Dia sepaham kalau tembakau Virginia yang dihasilkan para petani Lotim kualitasnya sangat baik, bahkan terbaik kedua di dunia. Namun kualitas  itu nyatanya tidak dibarengi hasil maksimal yang dirasakan oleh para petani tembakau itu sendiri. “Adanya permainan ini karena petani kita tidak berdaya,” jelasnya.

Kondisi ini lanjutnya, tentu menjadi dilema bagi petani tembakau itu sendiri. Meski dengan harga murah dan merugikan, mau tidak mau mereka harus tetap menjual tembakuanya ke perusahaan tersebut. Jika keinginan perusahaan tidak dituruti, tentu yang dirugikan adalah petani itu sendiri. Sebab, tidak ada tempat lain untuk menjual tembakaunya. “Kalau seperti ini petani tembakau kita tidak akan bisa mandiri. Karena posisinya sangat lemah,” katanya.

Baginya, meski perusahaan berdalih penetapan harga tembakau dilakukan melalui proses musyawarah. Namun itu dianggap hanya bentuk pembelaan diri dari pihak perusahaan.  Apa yang dikatakan perusahaan itu realitasnya tidak sesuai di lapangan.

Selama ini  para petani tembakau Virginia  masih  terkekang oleh aturan yang dibuat perusahaan tersebut.  Hal itu dapat dilihat mulai dari proses tanam, hingga paska panen, para petani tembakau harus mengikuti aturan yang dibuat perusahaan tersebut. “Gimana petani bisa mandiri, kalau ada ketergantungan seperti itu. Perusahan itu harus jujur, jangan tetapkan harga seenaknya,” kesalnya.

Agar masalah ini  tidak terus berlarut, secara pribadi ia meminta pemerintah harus segera bersikap. Pemerintah sebaiknya segera menyelamtakan petani tembakau Virginia dengan cara  mencari alternatif tanaman  lain bagi para petani yang setara dengan tembakau. Karena banyak tanaman lain yang bisa menguntungkan bagi para petani tembakau di Lotim, misalnya menanam Palawija dan lainnya. “Kalau ada alternatif lain yang bisa sama hasilnya dengan tembakau, lebih baik seperti itu,” tukas Daeng.

Terpisah, Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Lotim, Sahabuddin, juga menyambut baik langkah KPPU untuk mengusut proses pembelian tembakau  Virginia, khususnya dalam hal penetapan harga. Langkah KPPU dianggap sebagai bentuk kepedulian terhadap nasib para petani tembakau itu sendiri.

Namun dia menilai, penetapan harga tembakau Virginia di Lotim sejauh ini cukup baik, jika dibandingkan dengan sebelumnya. Terlebih ada rencana KPPU untuk mengusut terkait proses penjualan tembakau Virgnia, maka hal itu dianggap malah akan lebih bagus  bagi perusahaan dan para petani. “Semua persoalan akan bisa dinormalkan, sehingga harga akan semakin mahal. Kalau semuanya bisa dinormalkan, jelas akan menguntungkan petani,” terangnya.

Penetapan harga tembakau lanjutnya, tentu tidak bisa ditentukan dengan hanya menguntungkan pihak tertentu saja. Semua harus berdasarkan kesepakatan bersama dan mengutamakan keuntungan kedua pihak. Jika ini bisa dilakukan, maka tidak hanya APTI saja yang senang, melainkan semua pihak yang terlibat didalamnya juga akan merasakan hal yang sama.  “Kalau KPPU bisa mewakili semua pihak, Alhamdulillah,” terangnya.

Sepengetahuan APTI, selama ini proses pembelian tembakau para petani telah banyak mengalami perubahan. Terutama menyangkut harga. Satuan harga pembelian tembakau tahun ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Baik itu harga tembakau dengan grade terendah sampai grade tertinggi.

“Harga-harga dasar tembakau sudah semakin bagus. Contohnya di PT Bentol Prima, dulu untuk  tembakau top grade harganya Rp. 34 ribu. Sementara kalau harga rata-rata mulai dari daun bawah sampai pucuk Rp. 30 ribu. Tapi tahun ini untuk top grade harganya Rp. 42 ribu, sementara untuk harga rata-rata dari daun bawah sampai pucuk Rp. 33. 500 ,” bebernya.

Bisnis  tembakau dkaui memang tidak selamanya untung. Meski ada sebagian petani yang rugi, namun banyak juga yang bisa meraup untung. Kondisi seperti ini sudah biasa dialami  para petani tembakau. “YYang jelas, pihak perusahaan saat ini sudah mulai peduli dengan para petani binaan mereka. Misalnya selain mereka diberikan pembinaan, juga diberikan bantuan seperti kambing untuk kesejahteraan petani tersebut,” tutupnya.

Sedangkan dari pihak perusahaan tembakau belum ada satupun yang memberikan tanggapan terkait rencana KPPU hendak mengusut praktik “nakal” pembelian tembakau Virginia. Saat dihubungi, Hasbi dari PT.Bentol Prima enggan berkomentar, sebelum ada rekoemendasi dari pimpinannya di pusat.

Namun dia menyarankan, sebaiknya terlebih dahulu melayangkan surat jika hendak meminta tanggapan terkait masalah tersebut. Dimana nantinya surat itu akan disampaikan ke pimpinannya. “Kalau ada rekomendasi dari pimpinan di atas, saya siap memberikan komentar. Sebaiknya masukkan surat dulu,” sarannya.

Begitu juga dengan pihak PT. Sadhana, saat didatangi tak satupun pejabat tertinggi di perusahaan itu yang bisa ditemui. Petugas jaga pun menyarankan, sebaiknya datang di hari berikutnya. “Kalau sekarang tidak bisa ditemui, lain kali aja ya,” saran Satpam perusahaaan tersebut. (lie)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid