Desa Langko Jadi Tempat Belajar TPID Tiga Daerah

IST/RADAR LOMBOK F- BELAJAR:  TPID tiga daerah belajar di Desa Langko Kecamatan Lingsar(19/9).

GIRI MENANG -Desa Langko Kecamatan Lingsar menjadi tempat belajar Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) dari tiga daerah yakni Provinsi Sulawesi Tenggara, Provinsi Sumatera Barat dan Kabpaten Ngawi Provinsi Jawa Timur. Pejabat dari tiga daerah ini datang berkunjung ke Desa Langko, Kamis (19/9).

Mereka datang untuk belajar kemandirian warga memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari dengan menanam sayur-mayur memanfaatkan lahan pekarangan rumah. Dengan kemandirian memenuhi bahan pokok (Bapok) ini warga tidak bergantung pada pasar. Sehingga meskipun harga melambung, warga tidak terpengaruh. Kemandirian warga dalam memenuhi bahan pokok ini juga berkontribusi dalam menekan angka inflasi sehingga Lombok Barat dan NTB umumnya bisa mendapatkan penghargaan nasional.

Kepala Desa Langko, Mawardi, mengaku kunjungan ini sangat istimewa karena sebagai tempat belajar beberapa daerah. Dalam hal pemenuhan kebutuhan pokok, pihaknya sendiri konsen mendorong setiap KK menanam tanaman sayur-mayur sehingga tidak terpengaruh dengan kenaikan harga barang khususnya bahan pokok.” Kita memang mendorong agar warga menanam sayur sendiri di pekarangan mereka,” ungkap Mawardi.

Menurut dia, apa yang dilakukan warga ini memberikan kontribusi tingkat inflasi di Lobar sehingga bisa mendapatkan penghargaan nasional. Kesadaran warga menanam sayur di pekarangan rumah tumbuh sendiri dengan didorong oleh KWT.

Sejauh  ini KWT ini memiliki 30 anggota lebih. Namun sudah menyebar ke rumah-rumah warga yang bukan kelompok. Sebab KWT ini memberikan bibit gratis kepada warga, sehingga mereka punya tanaman di rumah masing-masing. Terkait pemasaran sayuran ini tidak sulit, sebab bisa langsung dikonsumsi oleh warga. Tanaman yang ditanam pun menggunakan pupuk organik. “Kita sudah membentuk kelompok wanita tani yang anggotanya menyebar ke rumah-rumah warga melakukan sosialisasi dan mengajak warga,” imbuhnya.

Pembina KWT LBS Mandiri, Abdul Hadi mengatakan, warga tidak bergantung pada pasar karena sudah mampu mandiri menghasilkan bapok. Sehingga ketika harga bapok mahal, warga tidak berpengaruh terhadap perekonomian warga. “Warga yang mau  menanam kami berikan bibit gratis,” tegasnya.

Ia pun menerapkan aturan, warga yang diberikan tanaman gratis maka harus menanam jahe di rumahnya. Setelah tanaman jahe ini ada, dijual ke pengolahan KWT dan dibayar harga pasar.  Menurut dia, semakin banyak warga yang sadar menanam sayur mayur di pekarangan maka bisa memenuhi kebutuhan sendiri. Sehingga tidak akan bergantung pada pasar. Ia pun mengajak agar warga genem atau ulet menanam sayur di pekarangan.

Dalam kesempatan ini, Wakil Bupati, Hj. Sumiatun hadir bmenerima kunjungan TPID beberapa daerah ini. Wabup mengatakan TPID Lobar berhasil mendapatkan penghargaan nasional.” Keberhasilan Lobar ini ingin dipelajari oleh sejumlah daerah tersebut sehingga mereka datang,” ungkap Wabup singkat.(ami)

 

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid