Delapan Bulan Insentif Nakes Dibekukan

BEKERJA: Inilah para nakes yang masih tetap semangat dalam bekerja meski insentif mereka tak kunjung dibayarkan, Minggu kemarin (28/3). (ISTIMEWA/RADAR LOMBOK)

PRAYA – Kesejahteraan para tenaga kesehatan (nakes) yang bekerja di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Praya dan Puskesmas di Lombok Tengah betul-betul diabaikan. Tak kurang dari delapan bulan ini, insentif mereka dibekukan. Akibatnya, para nakes ini harus pontang-panting mencari tambal penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Menurut penuturan Humas RSUD Praya, dr Yudha Permana, sejumlah nakes banyak yang mengadu dan mengeluh kepadanya. Mereka nyaris tak bisa memenuhi kebutuhan pokoknya sehari-hari karena insentif mereka tak kunjung cair. ‘’Bahkan, mereka mengaku banyak yang ngutang untuk memenuhi kebutuhan pokoknya sehari-hari,’’ tutur Yudha kepada Radar Lombok, Minggu (28/3).

Yudha mengaku, penghasilan para nakes ini tak seberapa per bulannya. Terutama mereka yang non-PNS hanya memiliki penghasilan ratusan ribu per bulannya. Ketika insentif yang merupakan satu-satunya harapan mereka tak dibayarkan, maka tentunya jalan kebutuhan mereka akan akan semakin terjepit.

Yudha sendiri mengaku, insentif nakes ini sudah delapan bulan ini dibekukan. Tepatnya sejak bulan Juli-Desember 2020 dan Januari-Februari 2021. Sementara diketahui, nakes adalah garda terdepan yang telah mempertaruhkan nyawanya dalam menghadapi pandemi Covid-19 selama ini. “Ya ada beberapa teman nakes pernah bercerita akan seperti itu, kami pun pernah dipanggil untuk diutangi. Ini sungguh menyedihkan kami semua. Kami berharap pemerintah melihat dan segera memberikan solusi, dengan cara apa, segera bayar insetif mereka,” harap Yudha.

Yudha sendiri mengaku, insentif nakes ini setidaknya dibayarkan untuk enam bulan selama tahun 2020. Sementara dua bulan tahun 2021 masih bisa dimaklumi untuk ditunda hingga beberapa bulan ke depan. Dengan demikian, maka nakes ini akan punya penghasilan untuk menyambung hidup dan kebutuhan keluarganya. “Insentif mereka belum terbayar dari Juli 2020 sampai Februari 2021. Tetapi yang tahun 2021 kita abaikan dulu karena memang belum ada juklak dan juknis pengusulan insentif nakes dari Kementerian Kesehatan, karena masih dalam tahap pemberkasan pengusulan. Tapi yang kita tunggu adalah dari Juli-Desember 2020 lalu yang tak kunjung dibayar,” harapnya.

Pihaknya belum mengetahui secara pasti alasan dari belum terbayarnya insentif nakes ini. Bahkan pihaknya mengetahui dari kejaksaan sudah turun tangan menangani masalah belum terbayarnya insentif nakes ini, termasuk berbagai LSM yang bersimpati ikut juga memberikan dukungan kepada para nakes. “Organsisi profesi seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI), PPNI dan berbagai organisasi lainnya sudah berusaha maksimal dengan memberikan berbagai staetmen bahwa ini menjadi tanggung jawab dari pemda untuk membayarkan insentif para nakes, tapi sampai dengan saat ini tidak kunjung terealisasi,” katanya.

Yudha menegaskan, banyak nakes yang berhak atas insentif, mulai dari dokter spesialis, dokter umum di triase dan ruang isolasi, perawat dan bidan yang ada di triase dan isolasi, ada juga tenaga radiologi, ahli gizi, tenaga lingkungan hidup dan berbagai bidang nakes lainnya. “Tapi ini yang terutama adalah para perawat yang bekerja di ruang isolasi RSUD Praya yang rata-rata mereka bukan pegawai negeri dan gaji mereka tidak seberapa. Sehingga salah satu motivasi mereka bekerja di ruang isolasi adalah karena insentif yang pernah dijanjikan sebagai bentuk apresiasi dari pemerintah,” terangnya.

Yudha juga mengaku, fakta bahwa beberapa perawat yang memang siap bekerja dari awal di ruang isolasi. Salah satu motivasinya adalah mendapatkan insentif dengan nilai yang cukup fantastis bagi nakes ini, yakni Rp 7,5 juta per bulan untuk perawat dan bidan. “Tapi pada kenyataannya seperti ini, jadi bagaimana cara mereka untuk menyambung hidup. Kemarin saja ada beberapa yang pinjam uang untuk beli bensin, kasihan mereka. Jadi bisa disampaikan terkait ini terhadap orang-orang yang memiliki kewajiban dalam menunaikan hak mereka, beberapa dari mereka telah kering keringat mereka bekerja,” tambahnya.

Para nakes yang lain yang masih memiliki kecukupan hanya bisa memberikan mereka motivasi untuk tetap semangat bekerja. Pihaknya tetap mengingatkan para nakes bahwa ini adalah ujian dan perjuangan serta pengabdian yang suatu saat nanti akan menjadi indah salah satunya dibayarnya insentif mereka. “Sekarang para nakes sudah kalang kabut dan sudah mencari pinjaman utang. Tentu pemerintah sudah berusaha, kami meyakini ini. Tapi toh sampai sekarang kenyataannya belum terbayarkan dan nakes masih menunggu. Tapi tidak apa-apa, utang sebentar untuk bisa terus hadir berjaga dan melayani pasien Covid-19 dan janji nakes tidak akan mogok kerja, tidak akan demo, nakes optimis akan dibayar. Janji ini silakan disaksikan para stakeholder yang berkewajiban menunaikan hak mereka,” tandasnya. (met)