DBD Renggut 27 Nyawa

dr Nurhandini Eka Dewi (AZWAR ZAMHURI/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Hujan telah turun merata di seluruh wilayah NTB.

Demam Berdarah Dengue (DBD) kini kembali  menyerang masyarakat. Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) Provinsi NTB, dr Nurhandini Eka Dewi menyampaikan, saat ini musim hujan terjadi di semua wilayah. Akibatnya, korban DBD yang ditemukan dikes semakin bertambah. “Sekarang merata, tidak di Kota Mataram  saja. Malah yang terbanyak korban saat ini di Lombok Timur,” ungkap Eka kepada Radar Lombok Minggu kemarin (20/11).

Berdasarkan data terakhir yang dimiliki Dikes Provinsi NTB, sebanyak 27 orang warga NTB telah meninggal dunia akibat DBD. Jumlah penderita  terus meningkat mencapai 2.903 orang. Angka tersebut bertambah signifikan jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya. “Kita terus berupaya dan bertindak cepat, saat ini di Kota Mataram misalnya sudah dilakukan pembagian obat yang ditaruh di wadah air,” katanya.

Untuk 27 orang yang meninggal dunia, korban berasal dari Kabupaten Lombok Timur sebanyak 9 orang, kemudian Kota Mataram 8 orang, Kota Bima 4 orang, Lombok Barat 3 orang, Sumbawa 2 orang dan Lombok Tengah 1 orang. Untuk Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Lombok Utara, Bima dan Dompu tidak ada ditemukan pasien meningal dunia.

Sementara warga NTB yang terkena DBD ditemukan di semua wilayah dengan jumlah yang cukup tinggi. Untuk saat ini diurutan pertama Kabupaten Lombok  Timur sebanyak 923 kasus, berikutnya Kota Mataram ditemukan 833 dan urutan ketiga Kabupaten Sumbawa sebanyak 264 kasus. Kemudian  sisanya tersebar di Kabupaten/Kota lainnya seperti di Lombok Tengah lebih dari 108 kasus, Lombok Barat 205 kasus, Lombok Utara 147 kasus, Bima 83 kasus, Kota Bima 37 kasus, Dompu 89 kasus dan Sumbawa Barat lebih dari 34 kasus.

Serangan dari DBD  ini harus semakin diwaspadai. Pasalnya, apabila ada masyarakat yang telah digigit nyamuk beberapa waktu lalu, kemudian terkena gigitan lagi maka akibatnya sangat berbahaya. “Orang yang terkena DBD parah kalau sudah digigit dua kali, itu bisa sampai meninggal dunia,” terang Eka.

Hal yang patut menjadi perhatian ujarnya, tahun 2016 ini memang telah diprediksi nyamuk Aedes Aegypti akan memakan banyak korban. Ganasnya virus dengue disebabkan siklus lima tahunan yang terjadi. Parahnya lagi, selama ini penanganan DBD dilakukan dengan cara yang keliru. “Ini siklus lima tahunan yang harus diwaspadai setiap waktu, cara penanganannya bukan melalui fogging,” ucapnya.

Upaya memberantas DBD melalui fogging dinilai bukanlah solusi. Pasalnya, fogging hanya sifatnya mengusir nyamuk dewasa. Sementara, sarang nyamuk dan jentik dibiarkan terus berkembang. “Kalau fogging paling sebentar saja aman, karena jentik atau telur-telur nyamuk dibiarkan berkembang dan menjadi dewasa. Jangan biarkan jentik itu hidup, itu penting dilakukan,” ujar Eka.

Selain karena siklus lima tahunan yang membuat DBD tahun 2016 banyak memakan korban, majunya pariwisata NTB ternyata juga menjadi salah satu penyebab tingginya kasus DBD di NTB. Kesimpulan tersebut berani disampaikan Eka, setelah pihaknya beberapa kali menemukan fakta di lapangan.

Disampaikan, dalam temuannya, beberapa pasien yang terkena DBD karena ditularkan oleh orang luar daerah yang datang ke NTB. “Mereka yang datang kesini terkadang sudah kena, terus tertularlah warga kita,” bebernya.

Meskipun begitu, Eka mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk tetap tenang. Cara mengantisipasi dan melawan DBD sebenarnya sangat mudah. Pemberantasan DBD haruslah dilakukan secara menyeluruh, yaitu tidak membiarkan sarang nyamuk, jentik dan nyamuk dewasa berkembang.

Untuk bisa melakukan itu, setiap minggu masyarakat harus melakukan 3M. “Saya tidak bosan-bosannya akan bilang kita kembali lagi lakukan 3M, yaitu menguras, menutup dan mengubur. Cukup 30 menit lakukan itu, kita akan aman kok dari DBD,” terang Eka.

Terpisah, Ketua Komisi V DPRD NTB Hj Wartiah sangat prihatin dengan korban DBD. Terlebih lagi sudah 27 nyawa melayang, hal ini tentunya tidak bisa dibiarkan begitu saja. “Kamis secepatnya akan koordinasi kembali dengan Dikes,” katanya.

Menurut Wartiah, Pemprov harus lebih serius lagi meminimalisir terjadinya DBD. Pasalnya, apabila dibandingkan dengan tahun lalu, korban meninggal dunia sepanjang tahun hanya 3 orang saja. “Kita akan jadikan perhatian masalah DBD ini, apalagi sekarang kepala Dikes baru. Ini harus menjadi spirit baru,” tutup Wartiah. (zwr)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid