DBD Mengganas, 175 Kasus, 1 Meninggal Dunia

FOGGING: Upaya pencegahan penyebaran penyakit demam berdarah, Dinas Kesehatan Kota Mataram tetap rutin melakukan fooging, atau pengasapan untuk memberantas nyamuk dewasa. (ALI/RADAR LOMBOK)

MATARAM—Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi penyakit yang berbahaya di Kota Mataram. Tolok ukurnya, tentu saja dengan banyaknya kasus DBD yang ada di Kota Mataram. Jumlah kasusnya pun tidak main-main. Sejak awal Januari sampai 24 Februari, tercatat ada 175 kasus DBD terjadi di Kota Mataram.

“Kalau jumlah kasusnya dari awal Januari sampai sekarang ada 175 kasus. DBD masih cukup tinggi di Kota Mataram,” ujar Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) Kota Mataram, dr H Usman Hadi, di Mataram, kemarin.

Usman lalu merincikan jumlah kasus selama dua bulan di awal tahun. Bulan Januari dengan rincian 109 kasus, dengan rincian 7 kasus suspek. Lalu 30 kasus Demam Dengue (DD) atau demam berdarah versi ringan. Berikutnya 71 kasus DBD dan 1 kasus Dengue Shock Syndrome (DSS). Gejala DSS adalah tekanan darah yang menurun, kulit basah dan terasa dingin.

Sementara di bulan Februari tercatat terjadi 66 kasus, yaitu 18 kasus DD, DBD 45 kasus dan 3 kasus DSS. “Itu rinciannya dari awal tahun sampai Februari. Ada 175 kasus DBD di Kota Mataram,” katanya.

BACA JUGA :  Pedagang Diultimatum 14 Hari untuk Pindah dari Pasar Selak

Fatalitas DBD disebutnya tetap mengancam. Karena dari 175 kasus DBB sejak awal tahun. Tercatat 1 warga meninggal dunia karena DBD. Sehingga jelas DBD masih menjadi penyakit yang berbahaya. “Iya satu orang meninggal dunia. Itu warga Cakranegara,” ungkapnya.

DBD masih mengancam dan berpotensi bisa meningkat. Penyebabnya karena musim hujan yang tak kunjung berakhir. Karenanya, Usman menilai DBD belum mencapai puncaknya di Kota Mataram. “Karena sekarang masih musim penghujan. Belum tahu kita kapan berakhirnya dan masih berpotensi bertambah. DBD cukup identik dengan musim hujan,” terangnya.

Kendati demikian, upaya pencegahan tetap dilakukan Dinas Kesehatan. Seperti aktif memberikan sosialiasasi kepada warga masyarakat tentang DBD. Warga diingatkan untuk tetap menjaga kebersihan lingkungan. Sarang-sarang nyamuk juga ditekankan untuk dihilangkan.

Selanjutnya yang paling penting adalah upaya pencegahan dengan penyemprotan insektisida (Fogging). “Fogging kami pastikan tetap dilaksanakan begitu ada kasus. Tim kami selalu siap untuk fogging. Kapan saja dilaporkan dan dihubungi warga masyarakat kami turun ke lingkungan. Fogging tetap kita laksanakan,” jelasnya.

BACA JUGA :  Empat Rumah Ibadah Kena Proyek Pelebaran Jalan

Sementara tentang keberadaan Juru Pemandu Jentik (Jumantik) di Puskesmas. Usman juga memastikan tetap diberdayakan sampai saat ini. Tapi saat ini banyak yang turun untuk melaksanakan tugas lainnya.

“Jumantik kita tetap ada dan diberdayakan. Tapi saya minta kepada warga masyarakat. Kalau memang ada warga yang panas, batuk pilek. Tolong segera ke puskesmas. Kita siapkan di Puskemas itu gratis. Warga itu bukannya takut tapi banyak yang belum tahu. Sama koq alatnya sama faskes lain. Supaya jangan terlambat segera datang ke Puskesmas,” pinta Usman.

Sementara Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Mataram, I Nyoman Suwandiasa mengatakan, dengan musim penghujan yang belum berakhir. Penularan DBD masih mengancam. “Karena itu, warga masyarakat harus menjaga kebersihan lingkungan di musim penghujan ini. Karena nyamuk bisa bersarang di tempat yang kotor. Bisa melapor ke Dinas Kesehatan kalau mau fogging,” katanya. (gal)