DBD Mengancam, Dikes Mulai Waspada

Kurnia Kamal (GAZALIE/RADAR LOMBOK)

SELONG—Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) kini kembali mengancam wilayah Lombok Timur (Lotim). Lotim sendiri merupakan kabupaten dengan jumlah kasus DBD tertinggi dibandingkan dengan kabupaten lainnya di NTB, bersaing dengan Kota Mataram.

Berdasarkan data, terhitung sejak Januari sampai Nopember 2016, jumlah kasus DBD di lotim mencapai 800 kasus, yang tersebar di 20 kecamatan di Lotim. Dari jumlah itu, sebanyak 9 orang warga meninggal.

Bulan ini DBD kembali mengancam setelah terjadinya pergantian musim. Kini Dinas Kesehatan (Dikes) setempat mulai waspada dan terus melakukan pencegahan, agar jumlah korban tidak semakin banyak. “Kalau dilihat dari jumlah kasus dan meninggal memang DBD di Lotim ini mengalami peningkatan kasus,” ungkap Kabid Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dikes Lotim, Kurnia Kamal, Senin (21/11).

Dengan 800 kasus penderita DBD, maka angka tersebut  dianggap  telah melewati standar nasional, seperti yang telah ditentukan pemerintah pusat. Karena untuk standar nasional itu  sendiri , incident rate kasus DBD yaitu 50 orang per seratus ribu penduduk. Sementara Lotim  saat ini berada pada angka kejadian 72 orang per seratus ribu penduduk.

Begitu juga dengan kematian, Lotim disebut masih diatas standar nasional yang telah  ditentukan pusat. Dengan 9 orang yang meninggal, menunjukkan incident rate mencapai 1,1 persen. Sementara standar naisonal angka kematian harusnya dibawah 1 persen. “Ini data yang kami kumpulkan dari seluruh Puskesmas yang ada di wilayah Lotim,” katanya.

Dijelaskan, DBD disebabkan karena gigitan nyamuk aedies aegypti. Virus dengue yang ada dalam nyamuk tersebut akan menyebabkan seseorang itu menderita DBD jika terkena gigitannya. Bagi penderita DBD, virus dengue akan bertahan dalam tubuhnya selama 7 hari,  setelah itu  virus akan mati sehingga penderita DBD akan sembuh dengan sendirinya.

“Tapi jika dalam jangka waktu 7 hari itu ada nyamuk lain yang mengigit penderita DBD, maka darah yang dihisap oleh nyamuk mengandung virus. Virus tersebut bisa menginfeksi nyamuknya. Sehingga jika nyamuk terinfeksi ini menggigit orang sehat, maka akan menular DBD ke orang itu,” sebutnya.

Jumlah penderita DBD akan semakin bertambah, jika nyamuk yang sudah terinfeksi virus DBD ini dibiarkan terus berkembang biak. Inilah yang menjadi penyebab kasus DBD ini sulit untuk dikendalikan. Selama ini pihaknya telah melakukan segala upaya untuk melakukan pencegahan DBD. Baik itu melalui pogging atau pengasapan, maupun dengan cara pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

Dari semua itu, PSN-lah yang dianggap sebagai cara terbaik untuk  melakukan pengendalian DBD ini. “Nyamuk ini meninggit siang hari, mulai dari jam 09.00 Wita sampai 12.00 Wita. Dan sore hari dari jam 16.00 Wita. Ini artinya serangan nyamuk pada saat orang sedang melakukan aktifitas. Inilah yang menyebabkan pengendalian penyakit DBD sangat sulit ,” sebut dia.

Untuk kasus DBD ini dijelaksan, harus dilihat dari beberapa faktor. Diantaranya factor orang, dimana orang  yang terjangkit harus segera dilakukan terapi untuk disembuhkan, dan orang yang sehat bagaimana pencegahannya supaya tidak terjangkit.

Selanjutnya virus, dimana DBD yang disebabkan virus ini masih belum ada obatnya. Inilah yang memicu rentan terjadinya kasus DBD. “Intinya pengendalian DBD ini sedikit rumit, dan membutuhkan kerjasama yang baik dengan lintas sektoral, termasuk dengan Kades dan pihak terkait lainnya,” ujar Kamal.

Lebih lanjut dikatakan, memasuki siklus ancaman DBD, pihaknya pun telah melayangkan surat ke semua instansi terkait di  Lotim. Itu dilakukan sebagai upaya untuk melakukan kewaspadaan sejak dini untuk pencegahan penularan DBD.

Surat edaran itu telah dilayangkan ke semua Puskesmas di Lotim dan pihak terkait. Seperti ke Dikpora, supaya nantinya ditindak lanjuti ke semua sekolah, pun ke BPMPD agar ditindak lanjuti ke semua desa, dan lainnya. “Termasuk juga surat edaran itu kita berikan ke Kemenag,” lanjut dia.

Semua wilayah yang ada di Lotim berpotensi akan terkena ancaman DBD ini. Namun dari data yang ada, wilayah yang  dilaporkan paling banyak terjadinya kasus DBD adalah Kecamatan Sakra, Terara, Selong, dan Sikur. Meski di beberapa tempat lainnya ditemukan, namun tidak sebanyak di empat kecamatan tersebut.

“Untuk pencegahan, pertama kita sampaikan surat edaran, mengkampanyekan PSN, baik itu Puskesmas dan aparat terkait agar mengajak masyarakat membersihkan lingkungan. Terakhir kita lakukan pogging. Jadi pogging ini langkah terakhir,” tutupnya. (lie)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid