DBD Masih Mengancam Warga NTB

MATARAM – Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) Provinsi NTB  dr Nurhandini Eka Dewi mengingatkan seluruh masyarakat NTB atas bahaya dan ancaman Demam Berdarah Dengue (DBD). Apalagi sampai saat ini sudah ada 27 warga NTB meninggal dunia akibat terserang DBD.

Menurut wanita yang baru seminggu dilantik ini, anomali cuaca yang terjadi tahun ini membuat  warga NTB terancam DBD. “Lebih baik hujan terus-terusan daripada terkadang hujan dan terkadang juga panas, kondisi seperti ini sangat bahaya dan mengancam warga terserang DBD,” ungkap Eka saat ditemui Radar Lombok di ruang kerjanya, Senin kemarin (17/10).

Hal yang patut menjadi perhatian ujarnya, tahun 2016 ini memang telah diprediksi nyamuk Aedes Aegypti akan memakan banyak korban. Nyamuk yang menyebarkan virus dengue tersebut terbukti telah menghilangkan 27 nyawa dan menyerang 2.657 warga NTB. Ganasnya virus dengue disebabkan siklus lima tahunan yang terjadi. Parahnya lagi, selama ini penanganan DBD dilakukan dengan cara yang keliru. “Ini siklus lima tahunan yang harus diwaspadai setiap waktu, cara penanganannya bukan melalui fogging,” ucapnya.

Upaya memberantas DBD melalui fogging dinilai bukanlah solusi. Pasalnya, fogging hanya sifatnya mengusir nyamuk dewasa. Sementara, sarang nyamuk dan jentik dibiarkan terus berkembang. “Kalau fogging paling sebentar saja aman, karena jentik atau telur-telur nyamuk dibiarkan berkembang dan menjadi dewasa. Makanya dulu saya sampai bertengkar waktu bertugas di Loteng, gara-gara ada yang maksa terus pakai fogging,” tutur Eka yang sebelumnya bertugas sebagai Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) Lombok Tengah.

Sebanyak 27 orang yang meninggal dunia akibat DBD berasal dari Kabupaten Lombok Timur sebanyak 9 orang, kemudian Kota Mataram 8 orang, Kota Bima 4 orang, Lombok Barat 3 orang, Sumbawa 2 orang dan Lombok Tengah 1 orang. Untuk Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Lombok Utara, Bima dan Dompu tidak ada ditemukan pasien meningal dunia.

Namun warga NTB yang terkena DBD ditemukan disemua wilayah dengan jumlah yang cukup tinggi. Kota Mataram ditemukan 789 kasus, Lombok Barat 205 kasus, Lombok Tengah 108 kasus, Lombok Timur 708 kasus, Lombok Utara 147 kasus, Bima 83 kasus, Kota Bima 37 kasus, Dompu 89 kasus, Sumbawa 259 kasus dan Sumbawa Barat 34 kasus. “Orang yang terkena DBD parah kalau sudah digigit dua kali, itu bisa sampai meninggal dunia,” terang Eka.

Selain karena siklus lima tahunan yang membuat DBD tahun banyak memakan korban, majunya pariwisata NTB ternyata juga menjadi salah satu penyebab tingginya kasus DBD di NTB. Kesimpulan tersebut berani disampaikan Eka, setelah pihaknya beberapa kali menemukan fakta di lapangan. Disampaikan, dalam temuannya, beberapa pasien yang terkena DBD karena ditularkan oleh orang luar daerah yang datang ke NTB. “Mereka yang datang kesini terkadang sudah kena, terus tertularlah warga kita,” bebernya.

Meskipun begitu, Eka mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk tetap tenang. Cara mengantisipasi dan melawan DBD sebenarnya sangat mudah. Pemberantasan DBD haruslah dilakukan secara menyeluruh, yaitu tidak membiarkan sarang nyamuk, jentik dan nyamuk dewasa berkembang.

Untuk bisa melakukan itu, setiap minggu masyarakat harus melakukan 3M. “Saya tidak bosan-bosannya akan bilang kita kembali lagi lakukan 3M, yaitu menguras, menutup dan mengubur. Cukup 30 menit lakukan itu, kita akan aman kok dari DBD,” terang Eka.

Hal yang jarang disadari oleh masyarakat lanjutnya, nyamuk penyebab DBD menggigit pada siang hari. Oleh karena itu, tempat-tempat seperti sekolah dan kantor menjadi lokasi yang rentan terkena DBD. “Kalau rumah yang tidakmenerapkan 3M juga bahaya itu, maka segera lakukan,” tutupnya. (zwr)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid