Data Covid-19 NTB Masih Semrawut

BERSAMA: Wakil Gubernur NTB, Siti Rohmi Djalilah bersama Kapolda NTB, Irjen Pol Mohammad Iqbal usai Rakor Antisipasi Ekslasi Pasien Covid-19 di ruang vidcon Polda NTB, Jumat (18/6). (DERY HARJAN/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Wakil Gubernur NTB, Siti Rohmi Djalillah menekankan kepada semua kabupaten atau kota se-NTB agar manajemen data tentang Covid-19

harus sinkron dengan data pada aplikasi allrecord TC19, aplikasi pencatatan dan pelaporan tes Covid-19 dari Kementerian Kesehatan RI.

Seluruh kabupaten atau kota se-NTB diminta bekerja sungguh-sunggu dalam meng update data. “Tidak boleh lalai dengan data karena dari data itu dilihat kinerja kita. Keadaan kita  baik-baik saja. Rumah sakit tertangani dengan baik, masyarakat tertangani dengan baik. Tetapi data yang kita sajikan jelek maka tetap saja kita dianggap jelek. Nah itu yang harus kita pahami,” kata Rohmi yang ditemui usai mengikuti Rapat Koordinasi Antisipasi Ekslasi Pasien Covid-19 di Provinsi NTB berlangsung di ruang vidcon Polda NTB, Jumat (18/6).

Data all new record, kata Rohmi, harus sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. Sebab yang dibaca oleh pusat adalah data all record. “Jadi harus selalu di update datanya. Misalnya ada kesembuhan itu harus langsung diupdate. Jangan sampai orang sudah kemana-mana tetapi datanya belum juga di-update,” harapnya.

BACA JUGA :  Enam Bulan, 56 TKI Meninggal

Senada dengan Wagub, Kapolda NTB, Irjen Pol Mohammad Iqbal juga menekankan pentinganya soal data. Sebab data itu merepresentasikan kondisi yang sesungguhnya. ”Kalau kita sudah kerja di lapangan tetapi datanya amburadul sama saja bohong. Data tang terlihat di seluruh Indonesia, bahkan dunia NTB malah jelek. Padahal tidak, yang rugi kan masyarakat. Orang mau berwistaa ke NTB, ekonomi dan lain-lain jadi enggan,” ujarnya.

Iqbal menyebutkan, bahwa saat ini  yang paling bagus dalam pengelolaan data adalah Kabupaten Lombok Timur. “Kita harus berikan reward. Sejauh ini yang paling baik adalah Lombok Timur.  Bagaimana covid penanganannya baik  kerja lapangan dan manajemen data karena memang leadership. Bupati mau tahu dan dia paham konstruksi, pak sekda mau tahu, kadis kesehatan mau tahu. Ada politikal wil,” ujar Iqbal.

BACA JUGA :  Pengumuman Pendaftaran CPNS dan PPPK NTB Diundur

Lanjut Iqbal, jangan sampai seperti Kabupaten Lombok Tengah. Manajemen  datanya masih buruk. Padahal kemungkinan kerja lapangannya bagus. Tetapi itu dari data yang disajikan itu orang menilai bisa menilai kondisi Kabupaten Lombok Tengah. “Per 16 Juni, Lombok Tengah yang terburuk,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, dr Lalu Hamzi Fikri mengatakan, bahwa saat ini provinsi NTB dari indikator kesembuhan, kasus aktif dan BOR tergolong baik. Namun CFR terkait dengan tracing terus menurun. “Untuk itu tracing ini harus ditingkatkan. Kalau ada satu orang positif, maka tidak hanya anggota keluarganya, tetangganya, lingkungan kerjanya harus dikejar. Sekarang kan kita sudah punya sistem SILACAK. Jadi lebih mudah lagi” ujarnya. (der)