Dari Ritual Budaya Perang Topat di Komplek Pura Lingsar

Simbol Toleransi di Tengah Menguatnya Sektarianisme

Perang Topat
ANDALAN : Ritual budaya Perang Topat di komplek Pura Lingsar Desa Lingsar Kecamatan Lingsar, Kamis (22/11). Perang Topat adalah satu andalan pariwisata Lombok Barat. (FAHMY/Radar Lombok)

Perang Topat kembali berlangsung di komplek Pura Lingsar di Desa Lingsar Kecamatan Lingsar Lombok Barat, Kamis (22/11). Ini adalah rangkaian ritual Puja Wali setiap tahun pada bulan purnama sasih ke enam menurut penanggalan Bali, atau kepituq (ketujuh) berdasarkan penanggalan Sasak. Lebih dari sekedar event budaya, Perang Topat adalah semacam simbol terus menguatnya toleransi antar umat beragama di kalangan warga. Dari perspektif pariwisata, perang ini harus mendapat sokongan promosi yang memadai.


RASINAH ABDUL IGIT- LOBAR


Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, Perang Topat kali ini dibanjiri ribuan pengunjung, kebanyakan warga sekitar. Wisatawan asing juga terlihat banyak yang hadir.” Alhamdulillah kegiatan ini sukes,” ungkap Kepala Dinas Pariwisata Lombok Barat Ispan Junaidi usai acara.

BACA JUGA: Keluh Kesah Korban Gempa Saat Hujan Turun

Lingsar adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Lingsar Lombok Barat. Di Desa ini terdapat komplek bangunan persembahyangan yang unik. Di Lingsar berdiri sebuah pura suci umat Hindu tempat pemujaan Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa). Di tempat yang sama dengan hanya dibatasi oleh penghubung yang merupakan jabe ( pelataran_red) tengah pura, terdapat bangunan Kemaliq yakni tempat yang dikeramatkan oleh sebagian orang Sasak yang beragama Islam.

Komplek bangunan pura dan Kemaliq ini didirikan sekitar tahun 1759 oleh Raja anak Agung Ngurah dari kerajaan Karang Asem yang pada waktu itu memerintah bagian barat Pulau Lombok. Bangunan Pura yang bernama Pura Gaduh terletak di bagian atas atau di sebelah utara menghadap barat. Sementara di selatannya terdapat Kemaliq yang menghadap ke barat. Bangunan tersebut dibangun menggunakan gaya arsitektur Bali.

Di komplek ini setiap tahun pada bulan purnama sasih ke-enam menurut kalender Bali dan ke-pituq menurut kalender Sasak, diadakan upacara Pujawali. Upacara ini merupakan pencerminan rasa syukur kepada Tuhan yang telah memberikan kemakmuran dan kesejahetraan. Beberapa jenis kesenian tradisional dipertunjukkan sebelum dan sesudah upacara untuk menyemarakkan suasana.

Ritual Perang Topat adalah satu dari sekian ritual inti upacara Pujawali. Event ini dilaksanakan setelah acara di pura dan Kemaliq selesai, dengan saling lempar menggunakan topat (Ketupat) kala sore sekitar pukul 17.00 Wita.

Topat yang dipergunakan untuk saling lempar merupakan bagian dari sesajian yang disiapkan masyarakat desa yang terlibat di dalamnya. Topat yang sudah dipergunakan melempar kemudian dipungut kembali untuk ditaburkan di sawah-sawah warga pada malam hari sambil memohon kesuburan tanah dan melimpahnya hasil panen.

Warga tidak hanya membawa topat. Beberapa yang menjadi perangkat ritual mereka diantaranya lumbung kecil yang berisi beras ketan sebagai lambang kemakmuran dan kesejahteraan sosial. Sesaji (persembahan) yaitu berupa dulang berjumlah 9 buah yang berisi nasi, mengandung arti sebagai lambang kesuburan alam dan kemakmuran rakyat.

Kebon Odeq(kebun kecil), terbuat dari buah kelapa tua yang bagian atasnya dipangkas rata dan ditancapkan 9 batang bamboo kecil sepanjang 30 cm. Kebon odeq melambangkan kesuburan tanah yang dipenuhi dengan batang pohon yang lebat dan hijau pertanda kemakmuran. Di dalam kebon odeq ini terdapat berbagai macam buah-buahan yang melambangkan di bumi ini di penuhi oleh berbagai macam buah-buahan sebagai tanda kesuburan pula.

Selanjutnya ada Lamak atau tikar dari daun pandan. Tikar ini digulung, didalamnya terdapat perangkat alat sembahyang muslim. Di atas gulungan tikar tersebut diletakkan kitab suci Al-Qur’an yang ditempatkan peti yang terbuat dari anyaman bambu berbentuk segi empat tertutup.

Momot,adalah botol kosong yang ditutup rapat dan dibungkus kain putih. Benda ini melambangkan kehidupan yang kekal di alam akhirat. Ada pula hewan kerbau dipergunakan saat napak tilas mengelilingi pura.

Tradisi Perang Topat merupakan tradisi tahunan yang sudah digelar sejak ratusan tahun silam. Perang budaya ini telah dilaksanakan sejak Pura Lingsar mulai dibangun pada tahun 1759 oleh Raja Anak Agung Ngurah dari Kerajaan Karang Asem, Bali, yang pada waktu itu memerintah bagian barat Pulau Lombok.

BACA JUGA: Rizki Maulana, Anak Pelanggar Lalu Lintas yang Viral di Medsos

Bagi masyarakat Lingsar,  perang ini merupakan wujud kebersamaan dan keharmonisan antar umat. Perang topat ini diharapkan bisa menjadi pengingat abadi tentang bagaimana manusia melakukan perubahan dari sisi kebersamaan beragama, pendidikan, pariwisata dan lain-lain untuk kesejahteraan masyarakat. Diharapkan pula agar rasa kebersamaan umat beragama yang terjalin pada tradisi ini bisa diimplementasikan di seluruh wilayah nusantara sehingga bisa menjadi modal besar dalam mewujudkan pembangunan di segala bidang.“ Dan alhamdulillah Lombok Barat tetap harmonis,” ungkap Bupati H. Fauzan Khalid.

Event budaya ini kini menjadi salah satu agenda wisata andalan Lombok Barat, meski harus butuh promosi maksimal.(*)