Dari Potensi Manggis hingga Keseriusan Program Agrowisata di Lombok Barat

Dari Potensi Manggis hingga Keseriusan Program Agrowisata di Lombok Barat
MAHAL : Salah satu pedagang manggis di Narmada beberapa waktu lalu. Karena awal musim, harga Manggis masih mahal yakni di atas Rp 50 ribu per kilogram. (Rasinah Abdul Igit/Radar Lombok)

Lahan pertanian dan perkebunan yang luas menjadikan pulau ini potensial untuk pengembangan agrowisata secara maju dan profesional. Diantara daerah yang serius mengintip peluang besar ini adalah Kabupaten Lombok Barat.


Rasinah Abdul Igit-LOBAR


Lombok Barat merupakan salah satu kabupaten di NTB yang menjadi   Daerah Tujuan Wisata ( DTW )  dan mempunyai posisi sangat strategis sebagai daerah tujuan wisata dengan iconnya Pantai Senggigi, dan beberapa gili (Pulau) kecil di Kecamatan Sekotong.  Objek wisata  di daerah ini berupa objek wisata alam, wisata sejarah dan objek wisata minat khusus. Sektor pariwisata merupakan sektor andalan bagi Kabupaten Lombok Barat, disamping memberikan kontribusi bagi (PAD sebesar 65 % ), juga mendatangkan devisa bagi masyarakat dan mampu meningkatkan penyediaan lapangan kerja.

Pariwisata Lombok Barat masih bertumpu pada “penjualan” alam dan budaya, belum begitu merambah ke konsep pariwisata yang “diciptakan”. Karena itu pula, konsep agrowisata belum pernah dimatangkan daerah ini dalam sebuah perencanaan yang matang. Padahal jika didalami, potensi ke arah itu sangatlah besar. Lombok Barat memiliki sejumlah simpul wisata yang dapat dijadikan paket agrowisata menarik.

Istilah agrowisata, atau sering pula disebut wisata agro, makin populer sejak awal dekade 2000-an. Agrowisata adalah kegiatan wisata yang berlokasi/berada di kawasan pertanian, terutama tanaman perkebunan (kopi, teh, cokelat, dll) dan tanaman buah-buahan. Salah satu daya tarik agrowisata ialah adanya kesempatan bagi pengunjung untuk memetik (memanen) buah dan hasil perkebunan lainnya. Selanjutnya hasil panen ditimbang dan dihargai pengunjung sesuai dengan harga yang ditetapkan pengelola. Dengan cara tersebut, pengunjung memperoleh kepuasan dan pengalaman yang tak terlupakan. Di Indonesia, konsep agrowisata pertama kali diperkenalkan di sentra perkebunan apel dikawasan Batu, Kabupaten Malang.

Sebagai daerah agraris, Lombok Barat sudah sepatusnya mengembangkan konsep agrowisata sebagai trademark wisata. Agrowisata adalah salah satu bentuk pariwisata yang objek wisata utamanya adalah lanskap pertanian, maka dapat dikatakan bahwa agrowisata merupakan wisata yang memanfaatkan objek-objek pertanian. Agrowisata juga merupakan kegiatan wisata yang terintegrasi dengan keseluruhan sistem pertanian dan pemanfaatan kawasan pertanian sebagai objek wisata, seperti teknologi pertanian maupun komoditi pertanian. “ Mestinya kita serius menggarap potensi agrowisata ini bersama dengan potensi pertanian dan perkebunan yang kita miliki,” ungkap Sahidi, salah seorang pemilik kebun Manggis di Desa Batu Kumbung Kecamatan Lingsar belum lama ini.

Lombok Barat sendiri memiliki sekitar 16. 745 hektar lahan pertanian produktif dengan hasil surplus beras mencapai rata-rata 15 ribu ton setiap tahun. Jumlah lahan pertanian tersebut merata di seluruh kecamatan yang ada baik wilayah selatan, tengah maupun utara. Di Lombok Barat, corak agraris melekat pula dalam sistem kebudayaan masyarakatnya. Setiap menjelang masa tanam padi, masyarakatnya menggelar tradisi male’an sampi, sebuah tradisi lomba balapan sapi yang mirip seperti karapan sapi di Madura. Pesta ini adalah wujud syukur mereka atas karunia hasil bumi yang selalu melimpah setiap tahun.

Tidak hanya itu, Lombok Barat memiliki sentra hutan rakyat di lereng gunung bagian tengah sangat subur. Dimulai dari kawasan hutan Sesaot. Masyarakat telah mengelola hutan ini sebagai mata pencaharian utama. Hutan ini menghasilkan produksi buah yang berlimpah diantaranya manggis, durian, rambutan dan pisang. Buah-buah ini dikirim untuk memenuhi kebutuhan buah lokal maupun luar daerah.

Di wilayah Kecamatan Lingsar, terdapat kampung wisata yang erat kaitannya dengan pengembangan agrowisata. Sebut saja kampung Nyurbaye. Kampung ini dikenal sebagai sentra kerajinan anyaman ketak yang bernilai ekspor. Sebagian besar masyarakatnya menjadi perajin sebagai mata pencaharian. Disamping berkreasi anyaman, penduduk setempat juga menggarap kebun-kebun yang ditanami aneka macam buah. Banyak wisatawan yang datang ke kampung ini tidak hanya untuk memburu kerajinan saja, tetapi juga menikmati hawa sejuk perkampungan yang lebat oleh pohon buah. Mereka juga dapat secara langsung melihat aktifitas warga memetik beberapa jenis buah yang siap dijual ke pasar.

Di Kampung Prabe, Lingsar, terdapat sentra pembuatan kopi prabe yang bercita rasa khas. Banyak wisatawan yang mampir di kampung ini hanya untuk mencicipi hangatnya kopi lokal setelah menyusuri kawasan hutan. Di sekitar kampung ini juga terdapat air terjun. “Ini hanya sebagian dari potensi agrowisata yang ada. Kedepan, kami menginginkan para wisatawan tidak hanya datang menikmati keindahan alam saja, tetapi terlibat langsung dalam proses pertanian dan perkebunan kami. Semuanya akan diolah secara profesional, memberikan pengetahuan lebih bagi wisatawan, dan juga menyejahterakan masyarakat sendiri,” ungkap Kepala Dinas Pariwisata Lombok Barat Ispan Junaidi belum lama ini.

Pemerintah daerah sudah harus memikirkan pengembangan konsep agrowisata sebagai produk pariwisata selanjutnya dengan melihat potensi besar yang ada.  Langkah pertama yang bisa diambil adalah dengan membuka ruang diskusi bersama seluruh komponen pariwisata. Kedua, Pemerintah daerah membuat regulasi yang memungkinkan penerapan konsep agrowisata bisa berjalan. Beberapa regulasi yang dimaksud diantaranya penentuan zonasi agrowisata dengan melibatkan legislatif.(*)