Danau Gili Meno Ditawarkan kepada Investor

Gili Meno
GARAP : Danau asin Gili Meno Desa Gili Indah Kecamatan Pemenang KLU perlu digarap lebih maksimal. Danau yang dikelilingi mangrove ini sangat digemari wisatawan. (HERY MAHARDIKA/RADAR LOMBOK)

TANJUNG-Danau asin di Gili Meno Desa Gili Indah Kecamatan Pemenang Kabupaten Lombok Utara (KLU) sangat eksotis bagi wisatawan.  Hanya saja pengelolaannya belum maksimal. Bahkan bagian jembatan kayu di sekitar mangrove banyak yang rusak. Belum ada investor yang berinvestasi mengelola danau yang akrab disebut Salt Lake atau danau garam ini.

Kabag Administrasi Pengendalian dan Pembangunan Setda KLU, Lalu Majemuk mengatakan, pernah investor dari Kota Surabaya melakukan survei ditemani Wakil Bupati KLU, Sarifudin ke danau tersebut belum lama  ini. Sekilas ada ketertarikan dari investor tersebut. Namun kepastian merealisasikan investasi belum diketahui, termasuk investasi apa yang akan dilaksanakan. Bagaimanapun untuk investasi tersebut, masih banyak tahapan yang harus dilakukan. “Awalnya survei, baru mereka mengkaji,” ucapnya, Rabu (21/3).

Pihaknya juga telah menawarkan kepada para investor Korea Selatan yang melakukan kunjungan balasan beberapa waktu lalu. Mereka merespon positif, namun sama belum ada kepastian realisasi. “Untuk model kerja sama belum kita pikirkan, apakah pola Kerja sama Pemerintah Badan Usaha (KPBU) atau lain. Hal ini perlu diputuskan secara resmi oleh pemerintah daerah,” terangnya.

Melihat potensi yang ada di danau itu kata Majemuk, investasi yang cocok adalah wahana olahraga air dan kuliner di atas air. Dua hal itu dianggap mampu menghadirkan aktivitas alternatif bagi wisatawan saat berkunjung ke Gili Meno. Di luar yang dua tersebut, tentu masih ada hal-hal lain yang lebih menarik untuk ditawarkan kepada investor nantinya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata KLU, H. Muhammad mengatakan, pengembangan destinasi wisata danau itu perlu dibahas bersama dengan mengundang para pemangku kebijakan terkait, mulai dari pemerintah desa, para pengusaha setempat, bagian pembangunan dan instansi lainnya. Jangan sampai dalam pengembangan pariwisata ini berjalan sendiri-sendiri sehingga arah konsep pariwisata tidak sejalan. “Sangat cocok perlu pengembangan destinasi danau itu, seperti wahana air, spot-spot selfie dan lain sebagainnya,” katanya.

Pengelolaan danau itu perlu pengkajian oleh konsultan pariwisata yang profesional. Kemudian perlu dipertimbangkan, apakah anggaran yang digunakan membangun itu dari APBD atau investor. Jika APBD mampu menganggarkan dalam pengelolaan destinasi maka lebih baik. Jika pun tidak mampu, maka sesuai arahan presiden kepada daerah-daerah bisa menggandeng para investor sehingga tidak mengeluarkan APBD/APBN. “Tidak menutup kemungkinan akan dilakukan KPBU yang dilakukan secara terbuka. Dalam pengembangan destinasi buatan harus melibatkan investor, dan itu sangat mungkin karena kawasan ini termasuk daerah strategis yang ramai dikunjungi,” jelasnya.

Selain itu diharapkan agar pengelolaan destinasi ini ada keterlibatan Pemerintah Provinsi NTB, karena masih banyak destinasi wisata di tiga gili belum digarap maksimal. Selain juga diharapkan agar revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) cepat diselesaikan supaya pengembangan danau bisa segera ditawarkan ke investor. “Dalam waktu dekat ini, kita akan menindaklanjuti saran dari Pak Wabup untuk segera menyimpulkan dan dilemparkan ke para investor,” tandasnya. (flo)