Dampak Toxic Parents bagi Mental dan Psikologis Anak

Baiq Ayuni Via Lestari, Mahasiswi Jurusan PIAUD UIN Mataram

Oleh Baiq Ayuni Via Lestari, Mahasiswi Jurusan PIAUD UIN Mataram 

Setiap anak berhak untuk mendapatkan kebahagiaan dan kasih sayang termasuk kebahagiaan di dalam keluarganya yang didapatkan sejak lahir. Namun, sangat disayangkan sekali banyak anak-anak yang tumbuh dengan orang tua destruktif, kasar bahkan mampu meracuni psikologis dan mental anak sendiri. Dan dalam istilah psikologi, orang tua seperti ini disebut  sebagai toxic parents “orang tua yang beracun”.

Melansir dari Psychcentral, toxic parents dikategorikan sebagai orang tua yang keliru dalam mengasuh dan mendidik anak, orang tua yang abusive, tidak dewasa, hingga mengalami gangguan mental dalam mengasuh dan mendidik anak. Selain itu, toxic parents juga tidak memberikan afirmasi positif, rasa aman, rasa cinta dan kasih sayang kepada anak mereka, sehingga anak tidak bertumbuh dalam lingkungan keluarga yang hangat. Toxic parents sering kali melakukan playing victim atau seakan mereka yang paling berkorban atau merana di dalam keluarga.

Masing-masing orang tua memang memiliki pola asuh tersendiri dan tentu mereka berharap pola asuh tersebut bisa membuat anak tumbuh dan berkembang dengan baik, akan tetapi tanpa disadari beberapa pola asuh bisa menjurus ke pola asuh toxic parents. Pola asuh inilah yang harus dihindari karena bisa berefek buruk pada psikologis dan mental anak.  Selain pola asuh, toxic parents  juga selalu menekankan hukuman fisik kepada anak-anak apabila mereka melakukan kesalahan. Bahkan ada pula orang tua yang meracuni kesehatan mental anak dengan kata-kata kasar maupun ucapan yang secara perlahan membunuh semangat anak, yang di mana hal tersebut justru lebih berbahaya karena tidak terlihat namun menyakitkan.

Apabila anak-anak tidak mengikuti aturan dan kepercayaan dari orang tuanya, orang tua toxic biasanya bereaksi dengan memberikan hukuman atau bahkan menahan cinta dan kasih sayang mereka dan tidak peduli seburuk apa pun posisi anak. Dan pada akhirnya, anak akan terpaksa tetap mengikuti peraturan keluarga toxic hanya karena mereka tidak mau dihukum atau anak-anak tidak mau menjadi pengkhianat keluarga karena tidak patuh. Hal seperti inilah kemungkinan yang akan membuat anak sangat tertekan dan memengaruhi faktor kesehatan psikologis dan mental anak.

Kesehatan psikologis ataupun mental sering menjadi isu serius di kalangan anak remaja. Isu stres, depresi dan bipolar semakin sering terdengar dan datang dari kalangann anak remaja. Bahkan, tidak jarang beberapa remaja menjadi rentan bunuh diri karena orang tua yang tidak mengenali kesehatan mental tersebut sejak awal. Itulah sebabnya, mengapa sebagai orang tua perlu mengenali persoalan kesehatan mental pada anak sejak masih usia dini. Orang tua perlu memperhatikan sejumlah faktor yang memengaruhi kesehatan psikologis anak. Misalnya, faktor pola asuh, lingkungan, perhatian orang tua, cara berkomunikasi dan cara memberikan cinta dan kasih sayang kepada anak. Jika sejak kecil anak sudah tidak diperhatikan kesehatan mental dan psikologisnya, bisa saja ketika besarnya nanti malah mengalami gangguan mental dan jangan sampai anak mengalami trauma keluarga. Anak yang mengalamai trauma keluarga bisa disebabkan karena adanya masalah toxic parents. Masalah keluarga ini terkadang membuat anak menjadi lebih tertutup dengan siapa pun, bahkan dengan orang tua mereka sendiri.

BACA JUGA :  Pengasuhan dan Rasa Bersalah yang Berlebihan

Menurut (Forward & Buck 2002), toxic parents biasanya terjadi sebagai sebuah cycle atau mata rantai yang terus berulang. Orang tua yang melakukan toxic parents pun bisa jadi sebenarnya merupakan korban dari toxic parents yang dilakukan oleh orang tua mereka dulu. Pengalaman-pengalaman tersebut akhirnya terus menumpuk dan mengubah cara berpikir mereka, sehingga tanpa sadar mewariskan hal tersebut di kemudian hari.

Adapun kebiasaan-kebiasan toxic parents yang sering dilakukan pada anak ialah :

  1. Memiliki ekspektasi yang berlebihan pada anak

Saat anak memiliki impian dan cita-cita, kadang ada orang tua yang membuyarkannya dengan ekspektasi yang berlebihan. Misalnya, ketika anak ingin menjadi seorang guru maka ayah dan ibu mematahkan semangatnya dengan berkomentar yang negatif. Mereka tidak men-support keinginan anaknya tetapi orang tua mereka malah mengarahkan anaknya pada keinginan orang tua. Yang dimana, hal inilah yang akan membuat anak merasa terbebani dan tertekan.

  1. Memiliki sifat egois dan kurang empati

Selalu mengutamakan diri sebagai orang tua tanpa tahu kebutuhan dan perasaan anak seperti apa. Orang tua  dengan kriteria ini biasanya selalu mengukur segala sesuatu sesuai dengan perasaannya suka mengatur. Mengatur semua kegiatan anak dengan sesuka hati dari A sampai Z tanpa bertanya atau mengajak anak untuk melakukan kompromi. Tentu ini tindakan yang salah, karena tanpa disadari orang tua yang seperti ini sudah mengacaukan hati dan psikologis anak.

  1. Mengumbar keburukan anak

Layaknya manusia, anak kecil juga memiliki perasaan yang harus di jaga. Jagalah harga diri mereka di depan banyak orang, jangan sampai malah mengumbarnya hanya karena melihat anak orang lebih bisa dibandingkan anak sendiri. Membicarakan keburukan anak, apalagi didengar langsung oleh mereka tentu akan melukai hatinya sehingga rasa percaya dirinya juga akan hilang.

  1. Selalu menyalahkan anak

Jangan selalu menyalahkan anak, karena hal ini akan membuat si anak akan kurang percaya diri dan malu untuk mengeluarkan pendapatnya ketika sudah dewasa nanti.

  1. Tidak menghargai pendapat dan usaha anak

Pastikan orang tua untuk selalu  memberikan apresiasi dan menghargai pada setiap usaha dan pendapat anak, karena dari hal tersebut anak akan merasa percaya diri dan dihargai.

  1. Mengungkit kesalahan anak

Jangan sampai ayah dan ibu mengungkit setiap kesalahan si anak, karena ini akan membuat mereka merasa sangat bersalah. Jika sudah memaafkan, maka jangan diungkit lagi. Terlebih jika sudah main hitung-hitungan uang. Misalnya “Sudah berapa biaya yang Ibu habiskan untuk menyekolahkan kamu? Tapi kamunya begini,” (Ade, 2020).

BACA JUGA :  Indahnya Ramadan di Kota Tarim

 

Toxic parents memiliki dampak negatif yang sangat berpengaruh terhadap psikologis, mental bahkan tumbuh kembang anak. Selain memiliki rasa percaya diri yang kurang, anak-anak dari toxic parents akan terbiasa untuk menyalahkan diri sendiri. Dan tentu perilaku seperti ini akan terbawa hingga kelak ia dewasa bahkan sampai memiliki anak.

Biasanya, efek negatif dari anak dengan toxic parents adalah mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki citra diri yang buruk, merasa tidak berharga, merasa sendiri tidak ada teman, selalu dihantui rasa bersalah, stres, mudah marah dan gangguan mental lainnya.

Adapun hal-hal yang bisa ibu dan ayah lakukan dalam menghindari toxic parents dan menciptakan komunikasi yang berkesan dengan anak antara lain:

  1. Anggap anak sebagai teman

Berikan perhatian dan kasih sayang pada saat ia menceritakan kisahnya, berikan tanggapan selayaknya seorang teman dan bukan sebagai orang tua yang mengatur hidup anaknya.

  1. Puji keberhasilan-keberhasilan kecil yang telah dilakukan anak

Hal ini akan membuat anak merasa dihargai dan bisa membuat bangga keluarga, juga dapat menumbuhkan rasa percaya dirinya.

  1. Hargai apa yang telah dilakukannya pada kita
  2. Gunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh anak, bila perlu kita cari ungkapan yang paling sederhana agar ia dapat menangkap maksud tanpa salah mengartikan perkataan kita
  3. Yakinkan pada anak, kita bisa diandalkan

Tentu tidak hanya sebatas kata-kata, melainkan harus diwujudkan dengan perbuatan. Jadilah kita sebagai orang tua yang dapat diandalkan dan selalu ada untuk anak di saat mereka sedang membutuhkan bimbingan, dorongan atau hanya sekadar pujian

  1. Memberi ungkapkan dengan perbuatan

Adakalanya komunikasi tidak terjalin melalui kata-kata namun tidak berarti komunikasi tidak terjalin. Untuk menunjukkan kasih sayang bisa diungkapkan melalui sentuhan, memeluk, membelai, menatap dengan lembut ataupun mencium. Hal ini bisa membuat anak merasa disayang dan diperhatikan.

 

Kita semua tentu sepakat bahwa setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk setiap anak-anaknya. Namun kita pun harus bisa menyadari bahwa kita tidak bisa menjadi orang tua yang sempurna di dunia ini. Mari kita merenung sejenak, adakah perilaku kita yang dapat menjadi racun bagi anak?

Dear Parents, marilah kita terus belajar memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita dan mencoba terus ada untuk mereka. Mari kita memandang bahwa setiap anak adalah istimewa dengan keunikan mereka masing-masing dan menerima serta mencintai anak tanpa syarat, karena pada hakikatnya Tuhan tidak pernah menciptakan produk yang gagal. (**)