Christin Eka Widyanti, Perempuan Pertama di NTB jadi Konselor Pecandu

Selama 7 tahun terjerumus dan berkubang dengan penyalahgunaan narkoba membuat Christin Eka Widyanti  bertekad dan mendedikasikan hidupnya untuk membantu para pecandu agar bisa pulih dan bebas dari ketergantungan barang haram tersebut.

 


Ahmad Yani — Mataram


 

Kedua bola mata dari ibu satu anak itu nampak berkaca – kaca. Pandangannya pun menatap kosong. Ingatannya kembali pada kehidupan kala dirinya masih terjerumus dan terkungkung dalam pemakaian dan penggunaan narkoba.

Rentang waktu tahun 2006 – 2011, menjadi masa – masa terburuk dan suram  yang dialami Christin dalam kehidupannya. Selama itu dirinya menjadi pecandu berat dari barang haram tersebut.

Hadirnya sang buah hati tahun 2011 itu menyadarkannya agar terlepas dari barang haram itu.  Pada tahun  itu pula pernikahan harus berakhir dengan perceraian. Dirinya pun resmi menyandang status  single parent (orang tua tunggal,ded).

Tak mau terlalu lama terpuruk dan mengalami ketergantungan terhadap pemakaian narkoba, Christin membulatkan tekad untuk bisa bebas dari ketergantungan dan  pulih agar bisa menjalani kehidupan secara normal. Layaknya seperti orang lain pada umumnya. " Putri saya inilah menjadi spirit dan motivasi utama saya harus bisa pulih dan sembuh dari ketergantungan," tutur kepada Radar Lombok Kamis kemarin (18/8).

Saat itu, dia mulai berpikir bahwa dirinya tidak bisa lagi hidup seenaknya dan semau dirinya sendiri. Dirinya sudah memiliki tanggung jawab seorang anak. Tuhan menitipkan kepadanya. Putrinya pasti sangat membutuhkan kasih sayang dan belaian dari dirinya sebagai seorang ibu. Terlebih, dengan status sebagai single parent, dirinya  harus bertanggung jawab terhadap kehidupan nafkah dan masa depan putri itu.

Atas kesadaran itu, pelan tapi pasti Christin nama panggilannya, akhirnya bisa sembuh, pulih dan membebaskan diri dari ketergantungan  barang haram tersebut. Diakuinya,  semua dilalui sangat tidak mudah dan berat. ''Tetapi akhirnya saya pun bisa pulih,'' tuturnya.

Ada satu hal mengganjal dalam diri Christin kala itu. Keprihatinannya terhadap terus meningkatnya pengguna  barang haram  ini. Terutama usia produktif dari kalangan perempuan. Dia bisa merasakan bagaimana kehidupan mereka menjadi pecandu. Acap kali dikucilkan, dipandang sebelah mata bahkan dianggap sebagai sampah masyarakat. Bahkan, tak jarang mereka "dibuang" sendiri oleh keluarganya.

Dengan rasa empati tinggi terhadap para pecandu. Akhirnya, membuat Christin memilih mendedikasi hidup untuk menolong dan membantu mereka yang  ketergantungan narkoba. " Apa yang  dialami mereka menjadi pecandu, pernah saya alami semua. Ini makin mengkuatkan saya untuk mendampingi dan membantu mereka agar bisa pulih," ucapnya.

Komitmen, konsistensi dan kesungguhan dari Christin membantu dan mendampingi pecandu agar bisa keluar dari jeratan barang haram itu, membuat dirinya dipercaya sebagai konselor adiktif. Tak mudah menjadi seorang konselor. Mesti harus melalui berbagai rangkaian pelatihan dan ujian serta harus memperoleh pengakuan dari pemerintah, dengan terbitkannya sertifikat sebagai konselor.

Dalam menjalani profesi sebagai konselor itu tidak mudah. Seorang kenselor adiktif harus memiliki kesabaran dan keuletan. Apalagi mengingat, konselor harus bisa memberikan pendampingan, motivasi,spirit dan sugesti terhadap pecandu, dengan berlatar belakang karakter. Misalnya, ada yang memiliki karakter pemarah, pendiam dan berbagai lainnya.

Christin bisa dibilang sebagai konselor pertama perempuan di NTB berbasis komunitas dan berlatar belakang pecandu.  Dia pun saat ini tergabung dalam komunitas AKSI NTB. Komunitas yang banyak bergerak dalam upaya rehabilitasi para pecandu obat – obatan terlarang itu.

Di kalangan pecandu yang didampinginya, Christin dirinya sering kali dipanggil "Emak". Dia pun sangat menikmati panggilan tersebut dari para kliennya. Ada puluhan pecandu  sedang didampingi  baik klien berstatus rawat inap dan rawat jalan.

Baginya, sebagai seorang konselor, dirinya tidak boleh menggurui, menjustifikasi atau memberikan penilaian negatif bagi klien tersebut. Meski begitu, pecandu tidak bisa sepenuhnya bisa sembuh atau pulih total. Menurutnya, kesembuhan atau bebas dari ketergantungan dari narkoba sangat tergantung dari individu bersangkutan dan dukungan kuat dari keluarga dan lingkungan sekitarnya. Karena itu, pihaknya sedang giat – giatnya  mengkampanyekan family support group.

Mereka sudah pulih atau sembuh, sangat rentang sekali  bisa kembali terjerumus dalam penggunaan narkoba tersebut. Sehingga harus ada peran dan keterlibatan secara aktif dari keluarga dan lingkungan sekitarnya. Selain itu, bisa mendorong lebih kuat bagi kesembuhan bagi yang bersangkutan.

Di komunitas AKSI NTB hampir dua kali dalam seminggu menggelar pertemuan secara rutin. Baik yang sudah pulih maupun sedang berproses penyembuhan. Dengan tujuan bisa saling mengingatkan dan menguatkan agar tidak kembali menggunakan barang terlarang itu. " Acap kali ada sugesti mau mencoba lagi barang itu, bagi mereka sudah sembuh atau pulih. Disinilah peran penting keluarga dan komunitas ada seperti AKSI NTB untuk bisa mengingatkan dan melindungi agar tidak kembali terjerumus," pungkasnya.(*)