Cetak Hafidz Sekaligus Ahli Kitab Gundul

Pondok Pesantren (Ponpes)  NU Darul Falah, Pagutan  termasuk salah satu ponpes tertua di Kota Mataram.  Ponpes telah melahirkan banyak tuan guru.

 


Zulkarnaen–Mataram


 

Ponpes  NU Darul Falah berlokasi di  Jalan Bhanda Sraya No 47 Pagutan Timur Kota Mataram. Ponpes ini didirikan TGH  Abhar Muhiddin yang dirintis sejak tahun 1950 dan resmi berdiri tahun 1968. Saat ini ada ratusan santri yang mondok di ponpes. Mereka tidak hanya dari warga sekitar tetapi dari berbagai daerah.

Seperti banyak ponpes lainnya, Ponpes Darul Falah mengajarkan program tahfidz kepada santrinya. Selain menyelanggarakan pendidikan formal juga non formal. Santri diajarkan membaca  kitab-kitab gundul  (kitab-kitab tradisional yang berisi pelajaran-pelajaran agama islam (diraasah al-islamiyyah) yang diajarkan pada pondok-pondok pesantren), juga menghafal Alqur'an. Jadi, selain santri belajar pendidikan formal, mereka bisa membaca kitab gundul dan juga hafal Alqur'an. Inilah yang menjadi kelebihan ponpes ini. “Kurikulum yang kami terapkan di ponpes ini,  metode menghafal dan membaca kitab-kitab gundul. Namun, para santri juga  dilatih untuk menghafal lqur’an.'' ungkap Pimpinan Ponpes  Darul Falah TGH Muamar Arafat kemarin.

Dalam belajar, santri dibagi dalam dua kelompok yakni penghafal atau pembaca kitab gundul dan penghafal Alqur’an. Dari dua kelompok besar ini, lalu dibuat kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan 10 sampai 15 santri.

Khusus program tahfidz, metode yang dikembangkan yakni metode klasik.  Santri berlatih menghafal kemudian menyetorkan hafalannya kepada ustad yang menjadi pembimbingnya sesuai target yang diberikan.  Para pembimbing ini akan membimbing santri yang kemampuan bacaannya masih rendah, mentahsin bacaan santri yang bacaannya masih belum sesuai dengan qaidah yang benar.

Program tahfidz di Ponpes Darul Falah ini sudah membuahkan hasil. Dalam satu bulan belajar menghafal, santri ada yang sudah bisa menghafal 23 juz. Banyak santri yang mampu khatam dalam menghafal Alqur'an.   Bahkan ada santrinya yang kuliah di salah satu perguruan tinggi di Yaman yakni Universitas Al-Ahgaff melalui program beasiswa yang diperuntukkan para hafidz di seluruh dunia.  Selain di Yaman, santri Darul Falah juga memperoleh besasiswa kuliah di  Universitas Al-Azhar Kairo Mesir. ''Mereka yang lulus seleksi yang diterima.

Salah satunnya yakni membaca kitab gundul dan mampu menghafalnya juga serta menghafal Alqur'an,'' jelas  TGH Muamar Arafat.

Belajar menghafal Alqur'an dan membaca kitab kuning sudah lama diterapkan ponpes   tahun 1968.  Secara turun temurun masih dilestarikan.  Menurut pendirinya yakni TGH Abhar  kata TGH Muamar Arafat para hafidz di zaman Rasulullah itu pertama kali menghafal Alqur’an itu, menggunakan kitab-kitab gundul. Hingga istilah itu berkembang di sejumlah ponpres dengan istilah kitab kuning atau gundul. “Metode membaca dan menghafal kitab gundul ini sudah lama diterapkan oleh kami. Karena, harapan dari pendiri ponpres ini, agar hafidz seperti di zaman Rasullah dapat dicetak juga di Ponpes NU Darul Falah, “ pungkas Arafat.

Ponpes NU Darul Falah cikal bakalnya kelompok pengajian, murid-muridnya terdiri dari pemuda-pemudi lingkungan sekitar. Kelompok pengajian tersebut diberi istilah dengan nama “Darul Falah” yang artinya “Rumah Kebahagiaan”. Dengan melihat kepandaiannya serta mempunyai pengaruh yang besar dalam masyarakat, maka  TGH Abhar Muhiddin mengembangkan kelompok pengajian ini menjadi Pondok Pesantren Darul Falah.(*)

BACA JUGA :  Santri Digratiskan, Biaya Ditebus Hafalan Alqur'an