Cerita Wakil NTB Pada Lomba Mendongeng Tingkat Nasional

Cerita Wakil NTB Pada Lomba Mendongeng Tingkat Nasional
PRESTASI: Hj Sri Wahyuni dan Ratna Dewi saat menerima tropi juara tiga lomba mendongeng dengan media boneka tingkat nasional belum lama ini. (ist for Radar Lombok)

Belum lama ini, perwakilan NTB pada lomba mendongeng dengan peraga boneka tingkat nasional belum lama ini, keluar sebagai juara tiga. Lomba itu diikuti oleh wakil seluruh provinsi yang semua pesertanya berprofesi sebagai guru TK. Meskipun hanya meraih juara tiga, tapi manfaat dari mendongeng ternyata diterapkannya  di TK tempatnya mengajar.


NASRI BOEDJANA- MATARAM


Hj Sri Wahyuni menceritakan pengalamannya mengikuti lomba dengan metode yang tergolong baru tadi. Sri sudah lama mengajar di TK Aisyah 5 di  Komplek BTN Pagutan Permai Kelurahan Pagutan Kota Mataram, namun metode mengajar dengan mendongeng menggunakan boneka sebagai media tidak dipraktekkan. Namun hal itu, tidak menghalangi niatnya untuk ikut serta pada lomba yang digelar Kemendikbud bekerja sama dengan    Ikatan Guru Bustanul Atfal (IGABA) itu.

Sri begitu antusias ingin mengikuti lomba ini. Dia pun segera mendaftar dan melakukan persiapan. Harapannya, dari keikutsertaannya di lomba itu bisa mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru  yang diterapkan di TK tempatnya mengajar.  ”Masalahnya untuk ikut lomba itu, tidak boleh sendiri-sendiri tetapi beregu. Jadi berpasangan dengan guru lain,” tuturnya Kamis kemarin (23/3).

Sri lalu mencari rekan sebagai pasangannya dalam lomba tersebut. Dia pun mendapatnya. Ratna Dewi  nama guru itu mengajar di  TK Aisyah 7. Keduanya mencoba mengikuti lomba yang sekubnya nasional itu sebagai regu perwakilan NTB.

Keduanya mempersiapkan diri dengan rutin berlatih. Latihan itu dilakukan dengan mempraktekkanya langsung  di hadapan peserta didiknya. Tema yang diangkat seputar cerita rakyat. Rupanya, metode ini direspon dengan baik. Sri maupun Dewi, optimis bisa menang. ”Saat lomba, peserta lain  juga bagus-bagus,” tutur Sri.

Peserta menyampaikan cerita yang sudah dipersiapkan.  Peserta tidak boleh menampilkan wajahnya melainkan diganti dengan sosok boneka yang digunakannya.  Sri dan Dewi dituntut berdialog aktif menyampaikan tema yang diangkatnya di hadapan dewan juri. Hasilnya, mereka berdua harus puas di tempat ketiga dikalahkan perwakilan dari Jakarta dan Banten. ”Tapi kami tidak berkecil hati,” tuturnya.

Yang paling penting kata Sri, manfaat dari keikutsertaannya itu. Ternyata metode mengajar dengan mendongeng menggunakan media boneka ini  bagus juga untuk diterapkan di peserta didiknya  terutama  dalam merangsang rasa ingin tahu peserta didiknya. “Tidak masalah meraih juara tiga, tapi sepulangnya itu kami langsung terapkan metode mendongeng dan hasilnya cukup bagus utuk pengetahuan anak,” terangnya.

Pada anak-anak yang sulit fokus dan konsentrasi,  metode mendongeng ini berdampak cukup bagus. Peserta didiknya lebih konsentrasi dan rasa ingin tahunya tinggi. Anak-anak semakin aktif dan kreatif. Mereka  menikmati metode belajar dengan mendongeng ini. “Bercerita lalu menggunakan boneka adalah kesukaan anak- anak, dan kami pun memanfaatkannya dengan menyelipkan cerita dan pesan yang mendidik,” tuturnya.

Sejauh ini, menurutnya memang belum banyak guru yang menerapkan metode tersebut, karena kemungkinan cara menyampaikan dengan mendongeng itu kesannya cukup sulit. Sebenarnya, jika mau diterapkan kata Sri, hal ini tidak akan sulit. (*)