Cerita Theresia Enty Ningrum Lumban Gaol Hingga Masuk Islam

Theresia Enty Ningrum Lumban Gaol Hingga Masuk Islam
MUALAF: Tahany Saniyya ketika dipandu masuk Islam oleh Gubernur NTB TGH Zainul Majdi di Islamic Center, Jumat kemarin (31/3). (M.Haeruddin/Radar Lombok)

Wajah haru penuh bahagia terlihat di wajah Theresia Enty Ningrum Lumban Gaol.  Gadis kelahiran Jakarta 18 Juli 1990 itu,  Jumat kemarin (31/3) memutuskan masuk Islam dipandu oleh Gubernur NTB TGH Zainul Majdi.


M.Haeruddin-Mataram


Selesai salat Jumat, Theresia yang mengenakan hijab putih langsung duduk bersimpuh di depan Gubernur TGH Zainul Majdi. Jamaah salah Jumat yang masih berada  di Islamic Center langsung mendekat mengerumuninya.  Para jamaah ini menjadi saksi kalau Theresia Enty Ningrum Lumban Gaol yang sekarang namanya menjadi Tahany Saniyya resmi memeluk agama Islam. Dia  mengucapkan dua kalimat sahadat dan meninggalkan agama lamanya.

Meskipun agak sedikit gugup namun ia dengan begitu lancar mengucapkan semua itu. Tampak  kebahagiaan terpancar di wajah  gadis  yang mendapat hidayah tersebut. “Sebenarnya dari kecil saya mempelajari agama Islam, karena saya sekolah negeri jadi terbiasa dengan lingkungan Islam. Bahkan saya juga ikut belajar agama Islam di sekolah. Mama saya juga awalnya Islam tapi ikut (keyakinan) papa. Alhamdulillah sekarang saya dapat hidayah,”ungkapnya ketika ditemui selesai berikrar masuk Islam,Jumat kemarin (31/3).

[postingan number=5 tag=”features”]

Kedatangannya ke Lombok tiga tahun lalu, mengikuti kegiatan Mapala. Dia lalu tinggal dan bekerja. Selama di Lombok, dia banyak bergaul dengan teman-teman yang beraga Islam. Sejak tiga tahun itu juga ia tidak pernah mengikuti ibadah agama yang dianut sebelumnya. ”Saya sudah niat dari tiga tahun lalu sehingga sejak saat itu juga saya banyak belajar Islam,”ungkapnya.

Kisahnya juga berawal ketika ia bermimpi memakai hijab. Sejak saat itu mimpinya itu selalu terbayang. ”Saya selalu merenung ketika mengingat mimpi itu dan saya tambah giat belajar agama Islam,”ujarnya.

Hingga kini orangtuanya di Jakarta belum mengetahui keputusannya  masuk Islam. Rasa was-was akan sikap orangtuanya nanti ketika mengetahui dirinya pindah agama masih terbersit. Namun ia sudah membulatkan tekad bahwa apapun yang terjadi bahwa Islam agama yang tepat untuk dirinya.”Kalau orang tua tidak tahu tapi saya didukung sama paman. Saya juga sudah dewasa dan oleh paman mengatakan bahwa saya bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk,”ujarnya.

Rasa rindu sama orang tua selalu ada setiap waktu. Namun ia sendiri belum mau pulang ke Jakarta karena dikhawatirkan nanti ketika pulang maka harus mengikuti aturan-aturan yang berlaku dalam keluarganya itu.”Saya tidak mau pulang ke Jakarta karena tidak mau mengikuti aturan rumah, saya menghilangkan rasa kangen sama keluarga karena sudah niat masuk Islam,”ucapnya.

Kini meskipun di Lombok ia seorang diri namun rasa bahagia dan lega terpancar di hidupnya, ia bahkan tidak ragu meminta kepada teman kerjanya untuk diajarkan ilmu agama.”Kalaupun saya sendiri di Lombok jauh dari keluarga namun bahagia, lega dan merasa hidup baru  meskipun tidak diterima sama keluarga maupun dibuang nantinya, karena pertolongan Allah pasti ada,”tuturnya.(*)