Cerita Sedih Petani Tembakau Menghadapi Cuaca Tidak Menentu

Cerita Sedih Petani Tembakau Menghadapi Cuaca Tidak Menentu
TEMBAKAU LAYU: Akibat guyuran hujan beberapa hari terakhgir, membuat tanaman tembakau milik Amaq Kar menjadi layu. (IRWAN/RADAR LOMBOK)

Hujan yang sering turun, ternyata tidak selamanya membawa manfaat bagi masyarakat, khususnya bagi para petani tembakau. Pasalnya, derasnya hujan yang mengguyur, ternyata justeru membawa petaka bagi mereka.

JANWARI IRWAN – LOTIM

HUJAN ternyata tidak selamanya membawa berkah bagi manusia, terutama bagi para petani tembakau. Banyaknya air yang turun mengguyur tanaman tembakau, justeru membuat tanaman ini menjadi layu.

Kenyataan ini tentu berbanding terbalik dengan para petani padi. Dimana hujan yang turun merupakan keberkahan bagi mereka, karena lahan sawah petani padi bisa terairi. Kian banyak air yang mengalir, maka semakin baik pula dampak untuk tanaman padi mereka.

Di wilayah Kecamatan Sakra Barat dan dan Sakra Timur misalnya, di dua Kecamatan ini masyarakat lebih banyak berprofesi menjadi petani tembakau. Sebab, di dua kecamatan ini bisa dikatakan wilayahnya tandus, dan tanahnya juga tergolong tanah liat, sehingga sangat cocok untuk menanam tembakau.

Selain itu, rata-rata masyarakat di dua kecamatan ini tidak sedikit yang berhasil melalui tembakau. Ada yang berhasil menyekolahkan anaknya sampai sarjana, dan ada juga yang bisa berangkat haji dari hasil tembakaunya.

Namun akibat cuaca yang tidak menentu, kali ini para petani tembakau terpaksa harus gigit jari. Dan dapat dipastikan, nasib mereka tidak akan bisa sama lagi dengan tahun lalu, yang mampu meraih keuntungan melalui tanaman tembakaunya. “Kami sudah tidak bisa berbuat apa-apa pak, karena derasnya hujan yang turun membuat tembakau saya menjadi layu,” tutur H. Yam, petani tembakau asal Desa Bungtiang, Kecamatan Sakra Barat.

Dikatakan, jika hujan tetap turun seperti ini, maka pihaknya memastikan petani tembakau bakal gagal total. Sebab, akibat guyuran hujan beberapa hari terakhir ini saja, sekarang tanaman tembakaunya sudah merunduk. Karena tanahnya terlalu basah.

Untuk merawatnya pun sudah tidak ada jalan lain, kecuali kalau hujan tidak turun lagi. “Saya sudah coba cari obat biar tembakaunya bisa menahan lembab. Namun ternyata setelah dicoba, sama saja hasilnya tidak ada. Malah kami semakin merrugi,” keluhnya.

Jika beberapa hari kedepan hujan tetap turun, pihaknya berharap ada bantuan dari pemerintah. Berapa jumlah petani yang menanam tembakau dilakukan pendataan, sehingga bisa ditafsirkan berapa kerugian mereka. “Itung-itung bisa kurangi beban, dan modal kembali,” harapnya.

Sementara petani tembakau lainnya, Amaq Kar mengatakan derasnya hujan yang turun ini, meyakini kalau dia pasti akan mengalami kerugian. Namun karena ini faktor alam, dia tentu tidak bisa berbuat apa-apa. “Untuk mencegah tentu suatu hal yang tidak mungkin. Sebab, ini faktor alam dan kuasanya Tuhan. Jadi saya hanya bisa berusaha dengan membeli obat saja, meski tidak yakin berhasil,” bebernya.

Namun melihat kondisi tanaman tembakau yang sudah mulai layu, membuat dia tidak berani mengobati tanaman tembakaunya, karena bisa lebih parah kerusakannya. “Kebetulan baru kemarin kita pupuk. Jadi tidak berani kita pupuk kembali. Karena akan berdampak pada hasil pengomprongan nantinya,” sebutnya.

Dijelaskan, tanaman tembakau yang layu akibat air, hanya bisa diselamatkan dengan pupuk urea, dibantu dengan penyemprotan. Namun bukan berarti dengan pupuk urea akan mendapatkan hasil yang bagus, tetapi paling tidak akan berdampak. “Kalapun bisa selamat, pasti akan terjadi kerusakan daun yang sudah layu ini,” sedihnya.

Sebagai petani tembakau yang kadang mendapat untung banyak, dan kadang kala rugi, saat ini dia hanya bisa pasrah saja. “Kalau sudah rusak, kita hanya berharap ada bantuan dari pemerintah untuk meningkatkan harga pembelian nantinya. Karena secara nyata petani sudah mendapat cobaan dari Tuhan, sehingga kita hanya minta pemerintah untuk meningkatkan harga tembakau nantinya,” pungkas Amaq Kar. (*)