Cerita Retno Purwanti, Guru yang Terpilih ke Australia

Cerita Retno Purwanti, Guru yang Terpilih ke Australia
TERPILIH: Retno Purwanti salah satu guru di NTB yang terpilih mengikuti program pelatihan matematika di Australia. (M.Haeruddin/Radar Lombok)

Sejumlah guru di NTB terpilih mengikuti program pelatihan dan lokakarya tentang matematika di Australia selama  hampir sebulan. Salah satu yang terpilih   Retno Purwanti.


M Haeruddin–Praya


Retno Purwanti senang bisa terpilih mengikuti program ini. Seleksi mengikuti pelatihan ini diikuti banyak guru dari kabupaten/kota di NTB. Setelah melalui penilaian panjang, dia akhirnya terpilih mengikuti program yang digelar  University Of Canberra dan Departemen Luar Negeri Australia (DFAT).

Retno tercatat sebagai guru SMPN 2 Praya, Lombok Tengah. Perempuan berusia 49 tahun ini,  sudah 22 tahun mengabdi sebagai guru. Terpilih ke Australia menjadi perjalanan penting dalam karirnya sebagai guru. Bagaimana tidak,dirinya diberi kesempatan untuk berlatih mengembangkan keahlian yang dimilikinya dalam bidang matematika dan  bekerja sama dengan sejumlah pakar yang membidangi hal tersebut.

Dalam pembelajaran, dirinya sebenarnya sama dengan guru-guru lainnya. Namun  guru yang terpilih mengikuti program ini dipilih berdasarkan pada kapasitas, pengetahuan matematika dan pedagogi matematika serta komitmen yang ia miliki.  Dalam pembelajaran, dirinya lebih mengedepankan pembelajaran menggunakan eksperimen, anguage,pictorial,symbol dan aplications. ”Mungkin itu yang membuat saya bisa menang. Selain saya dianggap bisa mengelola kelas dengan baik.Padahal saya merasa biasa saja dan tidak ada perestasi,”tuturnya.

Dirinya juga  lebih mengedepankan agar siswa  mau menyampaikan pendapatnya. Retno bahkan melakukan hal- hal terkecil sehingga membuat anak didiknya merasa nyaman.

“Biasanya kalau saya mengajar, saya lebih mengedepankan agar anak-anak lebih giat dalam berpendapat. Saya sering menyampaikan kepada anak- anak agar jangan pernah takut untuk menyampaikan pendapat atau ngomong di depan kelas meskipun terkadang apa yang disampaikan oleh anak- anak tidak semuanya benar,”ungkapnya, Senin kemarin (31/7).

Banyak siswa yang cendrung  takut sama gurunya, terlebih terhadap  guru matematika. Namun perlahan imej bahwa guru matematika itu menyeramkan mulai bisa dirubah dengan pola pendekatan kepada siswa. “Hal terkecil terkadang kita lupa dan kita tidak pernah mau tahu tentang bagaimana membuat mereka (siswa) merasa nyaman sama kita,”ujarnya.

Bahkan dirinya lebih mengedepankan pola pembelajaran dengan cara mengikuti keinginan siswanya. Seperti siswa akan  lebih senang belajar ,atematika dengan cara lebih memahami hal- hal yang ada di sekelilingnya. Sehingga hal itu terus ia lakukan hingga  siswa  merasa senang dan nyaman. “Kalau kita sudah mengikuti cara yang mereka inginkan, maka barang tentu mereka akan lebih senang dan tidak takut lagi sama gurunya,”ujarnya.

Namun, apa yang ia dapatkan saat ini tidak semudah membolak- balikan telapak tangan. Pengorbanan dan perjuangan untuk melewati rintangan banyak ia lakukan. Bahkan ia rela usai mengajar di sekolahnya langsung melakukan pelatihan. Tidak jarang pula empat orang anaknya masak makanan sendiri karena belum sempat membuatkan sarapan pada pagi hari.

“Kita sudah melakukan tes dan sudah satu tahun menjalani pelatihan. Bahkan selesai ngajar saya langsung ikut pelatihan. Tapi semua itu didukung oleh anak dan suami, karena anak- anak juga sudah pinter masak sehingga terkadang pagi meskipun tidak dibuatkan sarapan dia bisa memasak sendiri dan anak sangat mendukung,”ujarnya.

Dengan terpilihnya dia mewakili Lombok Tengah ke kancah internasional, dia berharap agar kedepan semakin banyak para guru yang bisa mengikuti jejaknya. Disatu sisi dia berharap agar para guru juga tetap semangat untuk memberikan kontribusi kepada daerah dengan mengharumkan nama baik daerah ke kancah dunia. “Harapan saya semoga semua ini bermanfaat bagi diri saya peribadi dan menjadi motivasi bagi orang lain,”ujarnya.

Retno bersama guru lain, berada di Australia  dari tanggal 4 sampai 29 September 2017 nanti. Semua fasilitas ditanggung oleh pemerintah Australia. ”Semua kita ditanggung. Saya minta doa agar tetap sukses dan selamat serta bisa mengharumkan nama daerah tercinta,”tuturnya.(*)