Cerita Para Napi Penghuni Rutan Kelas Ii B Selong

Cerita Para Napi Penghuni Rutan Kelas Ii B Selong
NAPI RUTAN: Tampak para narapidana (Napi) di Rutan Kelas II B Selong, Lotim, ketika mengikuti salah satu kegiatan keseharian di Rutan. (IRWAN/RADAR LOMBOK)

Menjalani hidup dan tinggal dibalik jeruji besi (penjara), tentu tak seindah hidup bebas di lingkungan masyarakat. Seperti kisah yang disampaikan para narapidana (Napi) penghuni rumah tahanan (Rutan) Kelas II B Selong, Lombok Timur (Lotim) ini. Sepeti apa ceritanya?


JANWARI RIWAN – LOTIM


ADALAH Napi bernama Luqman, lelaki bertubuh tinggi dan berkulit putih, berusia 23 tahun ini mengaku telah menjalani hidupnya selama hampir delapan bulan di Rutan Kelas II B Selong. Sedangkan tak jauh disampingnya, Rozi, pria 34 tahun, yang juga mengaku sekitar setahun lebih berada di Rutan Selong. Dari raut wajah keduanya, sekilas mungkin seperti tidak ada beban apapun tinggal di Rutan. Mungkin itu akibat sudah mulai terbiasa dan beradaptasi dengan suasana di Rutan.

Meski dahulu keduanya pernah melakukan aksi kejahatan. Namun seiring tinggal dan dilakukan pembinaan secara terus-menerus oleh para petugas Rutan, mereka sekarang menjadi sosok-sosok yang baik.

Mereka juga sangat ramah, dan bersahabat. Luqman lebih dulu membuka pembicaraan. Pria asal Dusun Penakaq, Masbagik Timur ini menceritakan alasan bagaimana dirinya harus masuk di Rutan. “Saya terlibat kasus narkoba mas. Saya pengedar,” ceritanya dengan polos ketika dijumpai Radar Lombok, Kamis kemarin (17/8).

Dia tertangkap saat sedang asik berjudi bol adil, dan kedapatan membawa sejumlah barang haram (narkoba) tersebut. Luqman juga mengaku mengenal barang haram tersebut dari lingkungannya. Pamannya adalah seorang bandar narkoba, bahkan menjadi orang yang memasok barang tersebut untuk diedarkan. “Biasanya didatangkan dari luar negeri. Yang jadi TKI ini banyak yang bawa. Tapi paman itu juga sudah tertangkap, dan dia dihukum 15 tahun,” tuturnya.

Diungkapkan Luqman, dia sendiri tak pernah menyangka, bahwa apa yang dilakukan dengan mengedarkan narkoba itu akan berakibat seperti sekarang ini (penjara). Dia di vonis lima tahun penjara, dan terpaksa harus menghabiskan masa mudanya dibalik jeruji besi. “Kalau tahu gini tersiksanya hidup di Rutan, baru kita menyesal mas,” ujarnya memelas.

Setelah lama berbincang, dia pun kemudian menceritakan bagaimana kesehariannya hidup di Rutan. Mulai dari makanan yang dikatakan tanpa rasa atau hambar), hingga bagaimana keinginan untuk berkumpul bersama keluarga. “Makanannya cuma tempe sepotong, sayur berkuah yang tak ada rasa asam garamnya, dan nasi putih. Itu saja,” akunya sambil menunjuk ke arah makanan yang telah disediakan di Rutan.

Kalau hanya untuk dimakan sekali saja, menurutnya mungkin tak ada masalah. Tapi makanan seperti ini dikatakan harus dirasakan para penghuni Rutan setiap hari dan selama bertahun-tahun. “Kadang lauknya juga ada daging, tapi itu seminggu sekali,” bebernya.

Selain itu, rasa rindu akan keluarga, teman, bahkan pacar, menjadi salah satu hal yang paling menyakitkan saat berada di Rutan. Apalagi ketika bulan puasa atau hari besar lainnya. Luqman mengaku bahwa rasa kangen itu selalu muncul, meski dia berupaya mengacuhkan dengan melakukan berbagai aktivitas di Rutan.

“Kalau sudah seperti itu ya kita main tenis meja, nonton tv atau kegiatan yang lainnya, biar nggak ingat rumah terus. Tapi memang nggak bisa,” ucap mantan mahasiswa di salah satu universitas ternama di Mataram ini.

“Pokoknya kalau tahu gini akibatnya narkoba itu, nggak akan pernah saya mau terlibat lagi dah. Nggak pernah terpikir kalau akibatnya akan seperti ini. Saya masih empat tahun lagi harus hidup di dalam sini,” akunya pasrah.

Sama halnya dengan Luqman, Rozi juga juga megungkapkan demikian. Hidup di Rutan membuatnya mati rasa. Dia merasa seperti mayat hidup, tak bisa menyalurkan ekspresi dan hasrat sebagai manusia normal. Tidur harus saling menumpuk akibat kondisi Rutan yang over kapasitas, hingga kesulitan saat ingin ke kamar mandi. “Tapi kalau bagi saya yang paling nyakit itu nggak bisa menyalurkan hasrat seks. Khususnya bagi yang sudah berkeluarga seperti saya ini. Ruang biologis sekarang kan sudah nggak ada lagi,” ungkapnya.

Kerinduan akan istri, keluarga dan yang lainnya, menjadi hal terberat yang kadang tak kuat dihadapi para penghuni Rutan. Sehingga kadang mereka harus menyalurkan hasrat tersebut dengan banyak kegiatan lainnya seperti olahraga.

“Kadang kalau nggak kuat, teman-teman itu pura-pura mereka tidur cepat membungkus diri pakai sarung. Padahal di dalamnya mereka onani,” ungkap Rozi tertawa, disambut gelak para narapidana lainnya. (*)