Cerita Korban Selamat Tertimpa Runtuhan Masjid Jabbal Nur Lading-Lading

12 Jam Tertimbun Runtuhan, Sempat Syahadat dan Talkinkan Diri

KORBAN SELAMAT TERTIMPA RUNTUHAN MASJID JABBAL NUR LADING-LADING
BERTUTUR: Nartodi menceritakan kisahnya kepada wartawan koran ini ditempat pengungsiannya. (HERY MAHARDIKA/RADAR LOMBOK)

Bertahan selama 12 jam di bawah runtuhan Masjid Jabbal Nur Dusun Lading-Lading Desa Tanjung Kecamatan Pemenang, Nartodi berhasil selamat dari maut mengerikan tersebut.


*HERY MAHARDIKA – LOMBOK UTARA*


BARU dapat dua rakaat salat Isya, Minggu malam (5/8) bersama puluhan jemaah secara tiba-tiba bangunan ambruk menimpa mereka. Ketika mendengar suara gemuruh dengan guncangan 7.0 skala richter itu membuat para jemaah salat sempat berlarian ke arah tak beraturan. Ada yang ke utara, dan ada yang ke arah selatan.

BACA JUGA: Jumlah Korban Terus Bertambah, Gempa Susulan Perlu Diwaspadai

Seketika pada saat itu kondisi hening tertimpa runtuhan bangunan masjid 5dalam keadaan lampu padam.

“Saya sempat lari kea rah utara tapi beton atap masjid bagian utara lebih dulu jatuh, lalu saya lari balik dan memeluk tiang masjid, ketika balik saya sudah tertimpa dengan keras dan cepat,” ucap Nartodi menceritakan kisah mengerkan itu pada saat ditemui di rumahnya, Selasa (7/8).

Beberapa menit kemudian, baru Nartodi sadar setelah banyak yang memanggil namanya, lalu ia mengucapkan zikir. Ia pun menyahut kepada rekannya yang memangil dari luar tersebut. Mengetahui kondisi sedang dalam keadaan antara mati dan hidup, Nartodi pun membaca istigfar dan bersyahadat dengan air mata mengalir. 

“Jika Engkau (Allah) kiamat hari ini bagaimana dengan umat yang lain. Mungkin kau memanggil orang-orang yang beriman, saya pun tersenyum dan melafafkan surat Yasin dalam kondisi terjepit,” tuturnya dalam kondisi masih sakit.

Posisi Nartodi pada saat itu, muka menghadap atas dengan jarak runtuhan bangunan satu jengkal. Situasi gelap itu sempat Nartodi marah, pantas Allah murka karena masjid yang besar di Lading-Lading ini yang mengisi jemaah salat hanya satu setengah saf. Itupun banyak dari orang luar yang hendak pergi zikir ke Almarhum H Kartono. “Mengetahui saya terjebak, banyak warga menyampaikan keadaan kepada keluarga dan warga saya,” ucap Kadus Orong Naga Sari ini.

Meski kondisi kejepit, Nartodi yakin bisa selamat dengan satu syarat memperbanyak perbuatan baik dan membenahi desa. Karena, posisi tertindih dua lantai bangunan masjid terus gempa tak berhenti-henti. “Saya terus berzikir dan berjanji jika diizinkn hidup saya akan lebih baik,” katanya.

Satu malam hari penuh, Nartodi tidak bisa tidur, terus berzikir dengan kondisi badan dingin. Bahkan, pada waktu itu Nartodi kencing dalam kondisi tidur terbaring. Selama 12 jam terbaring. Ia terbaring bersama Amaq Kertodi dan Murni. Kedua orang tua itu Nartodi mengajaknya untuk terus berzikir dan pasrah, namun yang mengikuti ajakannya itu hanya Amaq Kertodi. Sementara Amaq Murni terus merengek dan memanggil nama-nama anaknya meminta tolong supaya bisa dikeluarkan, karena kakinya tertindih. “Saya bertahan dalam kondisi sudah kelelahan, saya sempat baca talkin untuk sendiri,” tandasnya.

Baru sekitar pukul 07.00 Wita, sinar matahari kelihatan masuk ke dalam runtuhan bangunan. Pada saat itu, ia lalu mendapatkan hidayah untuk membalik badan menghadap bawah (tengkurap) dengan memaksa diri, kemudian mencongkel keramik satu per satu sebanyak 20 keramik. Lalu digali menggunakan tangan secara perlahan-lahan, sembari meminta tolong kepada TNI berdatangan mengevakuasi. “Saya minta palu untuk memukul keramik, baru saya tarik Amaq Kertodi kayak mayat lemas. Sedangkan Amaq Murni sudah meninggal duluan karena kehabisan darah terus mengalir,” terangnya menangis bersyukur.

BACA JUGA: Kisah Korban Selamat Tertimpa Reruntuhan Gempa Bumi 7.0 Skala Richter

Setelah itu, langsung Nartodi dan Amaq Kertodi dibawa ke tim medis untuk perawatan karena kondisi sudah lemas. “Alhamdulillah sekarang masih hidup dan akan terus memperbanyak ibadah dengan mengajak masyarakat saya,” imbuhnya. Berbeda halnya dengan Fahrudin, posisi bersama empat rekannya yaitu Masyruf, H Bhakti, Kertayadi, dan H Tarma berada di tengah-tengah kubah yang terbuka, tak membutuhkan berjam-jam keluar. Setelah tahu kondisi selamat, langsung berlari menyelamatkan diri. “Kalau saya tidak tertimpa, saya berdiri di tengah kubah yang berlubang sehingga kami berlima selamat, siapa yang masih di dalam saya gak tahu,” tandasnya terpisah. (**)