Cerita Keluarga TKW Korban Kebakaran di Makkah Saudi Arabia

Dari Video Call hingga Mimpi Buruk

tkw-makkah
DUKA : Saudara Kaini di Lingkungan Wakul Kurahan Renteng Kecamatan Praya saat menunjukan poto korban, Senin (24/6). (M.HAERUDDIN/ RADAR LOMBOK)

Musibah kebakaran terjadi di daerah Nakasa, Makkah, Saudi Arabia, 20 Juni 2019 lalu. Kebakaran ini menyebabkan empat tenaga kerja wanita (TKW) asal Lombok tewas. Empat TKW yang menjadi korban adalah warga Lombok Tengah.

BACA: Kebakaran di Makkah, Empat TKW Lombok Tewas

Mereka adalah Siti Nurjani, warga Lingkungan Meteng Kelurahan Prapen Kecamatan Praya, Tari Asma Yanti warga Dusun Tongkek Desa Btunyale, Ida Royani warga Jurang Jaler Kecamatan Praya Tengah dan Kaini Binti Basar Senah warga Kelurahan Renteng Kecamatan Praya. Kemarin koran ini mendatangi keluarga para korban.


HAERUDDIN-PRAYA


Suasana masih belum sepi di rumah Kaini, satu dari empat TKW asal Lombok Tengah yang menjadi korban kebakaran di Makkah. Rumahnya di Lingkungan Wakul Kurahan Renteng Kecamatan Praya. Keluarga dan tetangga masih tidak menyangka Kaini yang berangkat pada April 2018 lalu menjadi salah satu korban. Pasalnya sehari sebelum kejadian Kaini menghubungi keluarganya di Lombok.

Ini kali kedua Kaini jadi TKW. Pertama tahun 2011 ia berangkat dan pulang tahun 2016. Karena terdesak kebutuhan ekonomi, ia berangkat lagi tahun 2018. “Korban baru sekitar satu tahun empat bulan di Saudi. Hari Kamis sehari sebelum kejadian, korban masih berkomunikasi lewat video call dengan ibu dan saat itu tidak ada tanda-tanda. Ternyata pada Jumat korban terkena musibah,” ungkap Kasim, adik korban, saat ditemui, Senin (24/6)

Kaini berstatus janda satu anak. Demi anaknya, ia rela merantau. Di samping itu ia juga jadi tulang punggung keluarganya yang lain. “Kami tiga bersaudara dan almarhumah adalah anak pertama. Sebenarnya anaknya dua karena dari pernikahan kedua korban dapat anak juga tapi meninggal,” tegasnya.

Keluarga sangat kehilangan Kaini, sosok perempuan tangguh dan pekerja keras. Hasil bekerja di Saudi rutin dikirim. “Kita semua tidak menyangka dengan kejadian ini, karena tidak ada tanda- tanda sebelum kejadian. Dan memang korban sebelumnya berangkat berdua dengan keluarga juga tapi mereka beda tempat bekerja,” tambahnya.

Koran ini juga menyambangi rumah korban yang lain, Siti Nurjani di Lingkungan Meteng Kelurahan Prapen Kecamatan Praya Lombok Tengah. Ada Mustakim yang menemui bercerita bahwa almarhumah sudah lama punya keinginan jadi TKW ke Saudi. Bahkan ia pernah ikut pelatihan di Jakarta. Hanya saja karena saat itu umur korban masih tidak mencukupi,  ia batal bekerja ke luar negeri. “Korban baru lima bulan di Saudi dan informasinya kabur dari majikan karena pekerjaan tidak sesuai,” jelasnya.

Sebelum kejadian korban pernah bercerita ke ibunya, Inaq Isok, tentang mimpinya. Ia bermimpi potong rambut. Menurut sang ibu, mimpi potong rambut artinya akan ada masalah. Ia berpesan kepada anaknya untuk berhati-hati. “ Mungkin itulah maksud dari mimpi korban. Dia jadi korban kebakaran,” ceritanya.

Korban berangkat lewat jasa calo di Desa Jago Kecamatan Praya. Keluarga tidak mengetahui secara pasti korban berangkat lewat perusahaan apa. Yang jelas, korban memang sudah lama mengikuti berbagai pelatihan untuk bisa menjadi TKW. “Almarhum kini meninggalkan satu orang anak. Memang kita tidak pernah menyangka akan musibah ini,” ungkap Mustakim.( *)