Cerita Keluarga Penderita Lumpuh Layu dan Busung Lapar

TERBUJUR: Kais Mukammal, penderita penyakit lumpuh layu dan busung lapar hanya bisa terbujur di pembaringannya.

Kais Mukammal, warga Desa Bonder Kecamatan Praya Barat Lombok Tengah, saat ini masih terkulai di pembaringan. Dia mengidap penyakit busung lapar dan lumpuh layu. Penyakit ini diduga disebabkan program samit tahun 2003 silam.


SAPARUDDIN-PRAYA


KAIS Muammal hanya bisa terbujur tak berdaya di tempat pembaringannya. Sejak divonis menderita penyakit lumpuh layu dan busung lapar sejak tahun 2003 silam, Kais nyaris tak pernah beraktivitas. Terlebih, dokter RSUD Praya tidak sanggup menanganinya sehingga ia diminta untuk berobat ke RS Sanglah Bali.

Namun, orang tua Kais tak bisa melakukannya karena keterbatasan ekonomi. Orang tuanya Sewangse dan Karyawati hanya bisa memilih melakukan pengobatan di sejumlah klinik saja selama ini. Dari beberapa klinik yang didatanginya, sejauh ini belum ada hasilnya. ‘’Karena tidak ada hasilnya, maka kita merawat di rumah saja,’’ tutur ayah Kais, Sewangse.

Seiring itu, badan Kais sudah tidak bisa bergerak dan bahkan punggungnya sudah mengeluarkan bau amis.  “Sudah 6 tahun lamanya, Kais tidak bisa bangun dan bahkan penyakit yang menyerangnya ini sudah mengakibatkan badannya tidak bisa bergerak dan sudah mengeluarkan bau amis,” tutur Sewangse.

Diceritakan, awal mulanya penyakit yang diderita anaknya dari program pemerintah disebut program samit atau program imunisasi tahun 2003. “Gejala penyakit ini muncul setelah program imunisasi kala itu, dan bahkan ada yang sudah meninggal,” tuturnya.

Sebelum program samit itu penyebabnya, sebab sebelum dilakukan imunisasi tidak pernah sakit. Setelah dilakukan imunisasi, itulah awal dari penyakit ini mulai bersarang di tubuh anaknya. “Saya lebih mengarah kepada dampak obat yang diberikan petugas saat itu, sebab satu temannya yang ikut diimunisasi malah sudah meninggal sebelumnya,” ulangnya.

Namun, Sewangse hanya bisa menyesali program imunisasi itu. (**)