Cerita Keluarga Mahmud, Selamat dari Amukan Puting Beliung

Istri dan Cucu Lari Berhamburan, Mahmud Justru Mengincar Ekor Angin

Cerita Keluarga Mahmud, Selamat dari Amukan Puting Beliung
RUSAK PARAH : Saibi dan Munawir anak dari Mahmud memperlihatkan kondisi rumah orang tuanya yang rusak parah akibat angin puting beliung Selasa lalu.( HERY MAHARDIKA/RADAR LOMBOK)

Sekuat apapun manusia berlari menghindari ajal ketika waktu itu sudah ditetapkan kematiannya, maka manusia itu akan mati. Itulah sepenggal ucapan Mahmud warga Dusun Prawira Desa Sokong Kecamatan Tanjung, yang selamat dari amukan angin puting beliung yang terjadi Selasa lalu (17/10).


HERY MAHARDIKA-TANJUNG


PERUBAHAN cuaca ekstrem mendadak terjadi di wilayah Kecamatan Tanjung sekitar pukul 14.00 Wita, Selasa lalu (17/10). Tidak hanya hujan angin disertai petir, cuaca ekstrem yang paling mengerikan ialah angin puting beliung. Cuaca buruk menumbangkan sejumlah pepohonan di wilayah Tanjung. Beberapa di antara menimpa rumah warga, termasuk Mahmud, warga Dusun Prawira Desa Sokong.

Amukan pusaran puting beliung itu juga merusak lima rumah warga lainnya. Saat peristiwa itu terjadi, masyarakat yang terkena amukan angin puting beliung kocar-kacir tulang langgang menyelamatkan mencari tempat aman. “Saya sedang duduk di teras rumah sambil menyarungkan bantal, bahkan pakaian yang dijemur masih belum diangkat,” tutur Mustirah saat ditemui koran Radar Lombok di rumahnya, Rabu (18/10).

Terdapat sekitar tujuh unit rumah permanen dan semi permanen di tempat yang berjarak 200 meter dari pantai Rinjani Beach ini. Dikelilingi berbagai jenis pohon seperti kelapa, kluwih, mangga, jambu dan lainnya, yang berdekatan dengan rumah warga setempat. Ketika perempuan 70 tahun ini tengah duduk santai ditemani cucu perempuannya, hujan gerimis mulai turun. Selang beberapa detik tiupan angin semakin kencang dan semakin ribut.

Tak yakin adanya angin puting beliung, Mustirah berdiri keluar ke halaman rumah lalu melihat ke arah timur utara. Betapa kagetnya, angin puting beliung berputar di seputaran rumahnya. Spontan Mustirah berteriak memanggil suaminya Mahmud yang tengah berdzikir di dalam kamar. “Saya teriak panggil papuk mame (kakek) tapi tidak menyahut, mau ajak keluar,” ujarnya menggunakan bahasa sasak.

Setelah tak menyahut, ia pun hendak berlari ke arah barat namun atap dapurnya dari seng terbang berhamburan. Ia pun diam berdiri di berugak depan rumahnya. Sempat lupa membawa cucunya, ia kemudian kembali ke teras rumah menggendong cucunya. Ketika atap dapurnya berjatuhan, angin puting beliung itu menghantam pohon kluwih di belakang rumahnya.

Tak ayal, pohon berukuran besar itu terangkat dan jatuh menimpa rumahnya. Sedangkan suaminya masih berada di dalam rumah. Ketika hendak lari ke arah barat rumah tetangga, angin itu menghantam pohon mangga dan jambu berukuran sedang. Pohon itu kembali terangkat dan tumbang menimpa dua ekor sapinya. “Setelah terlihat aman, saya langsung berlarian ke rumah tetangganya,” terangnya sembari menggendong cucunya.

Mustirah memprediksi, angin puting beliung berputar di seputaran rumahnya sekitar dua menit. Suaminya yang baru sadar akan teriakan itu, kemudian berdiri dan keluar dengan tenang sembari masih berdzikir. Bukannya berlari, justru lelaki 84 tahun ini berdiri di teras rumah sembari melihat amukan angin puting beliung. Niatnya hendak mencari ekor angin (sumber atau dasar, red) untuk dipegang. Karena menurut keyakinan Mahmud, jika dipegang dan diucapkan doa akan berhenti sendiri atas izin sang pencipta. “Tapi, ketika saya keluar itu mutar selama satu menit terus menuju arah selatan. Setelah anginnya pergi, baru saya panggil anak saya di dalam rumahnya,” tutur Mahmud.

Setelah itu, Mahmud baru menyadari pohon kluwih di belakang rumahnya tumbang menimpa kamar tempatnya berdizkir. Lalu, ia mengingatnya, bahwa dirinya selesai salat di ruangan khususnya sekitar pukul 14.00 Wita. Setelah itu, ia berpindah di kamar tidur berada di selatan duduk bersandar menghadap kiblat sembari berdzikir. Ia sendiri mengetahui pohon itu jatuh tapi tidak yakin karena tak terdengar. “Pas di tengah saya jatuh, tapi gak kaget. Pas di atas kepala saya. Ini adalah kekuasaan Allah. Kemarin itu saya merasa tenang dan tidak takut sama sekali. Alhamdulillah saya tidak apa-apa,” katanya kakek yang mengenakan kopiah putih ini.

Setelah itu, baru ia memanggil anaknya Saibi dan Munawir di dalam rumahnya. Mereka mengecek kondisi tembok dan atap rumahnya yang ambruk. Kerusakan disebabkan bencana alam ini bisa memperbaiki namun harus dicicil. Karena hanya mengharapkan bantuan anak-anaknya yang menjadi nelayan, sedangkan ia sendiri sudah tidak menjadi nelayan lagi. Sekarang ia lebih memilih tidur di berugak sembari memperbaiki rumahnya. “Jika perbaiki sendiri butuh waktu lama,  tapi kami berharap pemerintah bisa membantu memperbaiki rumah kami,’’ harapnya.

Kabid RPJS Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) Lombok Utara Sariman yang dikonfirmasi terpisah menyampaikan, pihaknya sudah turun mengecek lokasi dan memberikan bantuan sembako. Tercatat enam unit rumah yang mengalami rusak, yaitu Dusun Prawira 4 KK dan Dusun Karang Ates 2 KK, totalnya 18 jiwa.

Yang rusak parah tiga rumah, satu rumah bedek Inaq Adinep, satu rumah semi permanen temboknya rusak milik Mahmud dan satu rumah sengnya beterbangan Munawir. Bantuan sementara sudah memberikan logistik berupa makanan, pakaian dan terpal. Sedangkan, bantuan jangka panjang untuk perbaikan rumahnya pihaknya sudah berkoordinasi dengan Sekdes Sokong direncakan program Jubah. “Kalau jangka panjang nanti akan diberikan tahun depan bersumber RTLH provinsi,” janjinya. (**)