Cerita Kasek Dan Guru Juara Lomba Inovasi Daerah Yang Melaju Ke Tingkat Nasional

KOMPAK: Kepala SDN 23 Mataram Asmawati Aziz dan guru kelas VI Khaerudin, juara lomba inovasi daerah tahun 2020 yang melaju ke tingkat nasional.(SUDIRMAN/RADAR LOMBOK)
KOMPAK: Kepala SDN 23 Mataram Asmawati Aziz dan guru kelas VI Khaerudin, juara lomba inovasi daerah tahun 2020 yang melaju ke tingkat nasional.(SUDIRMAN/RADAR LOMBOK)

Ada Kartu Sikap, Ubah Prilaku Murid yang Kecanduan Game Online

Berbagai inovasi dilakukan Kepala SDN 23 Mataram Asmawati Aziz bersama guru kelas VI Khaerudin dari segi pelayanan pendidikan. Dari hasil kreasinya mampu menjadi inovator terbaik di Kota Mataram dan masuk dalam kompetisi Innovative Government Award (IGA) tahun 2020. Bagaimana kisahnya?

SUDIRMAN-MATARAM

SDN 23 Mataram di Jalan Amir Hamzah No. 28, Lingkungan Karang Sukun, Kelurahan  Mataram Timur, tampak bersih, hijau, tanaman hidup. Deretan piala sudah berjejeran di ruang khusus. Kepala SDN 23 Mataram Asmawati Aziz, bersama guru kelas VI Khaerudin, salah satu contoh tenaga pendidik di Kota Mataram yang tidak pernah lesu berionvasi selama ini.

Di tingkat Kota Mataram, mereka tercatat sebagai pemenang Lomba inovasi daerah tingkat Kota Mataram tahun 2020 yang diseleggarakan Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kota Mataram, beberapa hari lalu. Salah satunya melalui program sekolah yang ada dua dicetuskan yakni Kartu Sikap Murid dan program sambut pagi dengan membentuk polisi murid Karang Sukun (Karsun).

Dalam ajang inovasi daerah Kota Mataram  tersebut, tak tanggung-tanggung, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) langsung memberikan kesempatan untuk ikut lomba tingkat nasional dalam memperebutkan tropi Innovative Government Award (IGA) tahun 2020.

      Kepala SDN 23 Mataram Asmawati Aziz menuturkan, program yang simpel namun memiliki nilai tinggi. Salah satunya, melalui melatih karakter murid. Dalam lomba yang dipaparkan dalam bentuk tulisan yakni, program sambut pagi bersama polisi murid. Tentunya, dengan melatih kedispilinan anak-anak.‘Kalau tidak bentuk sejak dini, ketika SMP, SMA sampai kuliah banyak akalnya,’’ katanya kepada Radar Lombok, Selasa (18/8).

Melalui lomba inovasi dari 65 peserta berdua melaju ke tingkat nasional. Satu program namanya kartu sikap dicetuskan guru kelas VI Khaerudin. Sedangkan dirinya mulai banyak melakukan perubahan sejak didapuk menjadi kepala sekolah dua tahun lalu. Melalui program pagi biasanya, kalangan murid hanya upacara, senam, hampir sama. Sehingga dia berpikir kegiatan pagi bisa lebih menarik. Melihat anak-anak saat itu masih kurang percaya diri (PD). ‘’Kegiatan pagi dibuat menarik, senang aktivitas, kita saja manusia dewasa pasti bosan. Kita saja dari rumah di sekolah rutintas yang sama, bosen, boring. Sehingga mulai terpikirkan, malah murid siap pakai. Saya harus jadi contoh teman lainya,’’ tuturnya.

      Dari segi lingkungan, juga kata Asmawati mengubah secara pelan-pelan dari  pola hidup sehat untuk anak-anak. Belajar tidak hanya buka buku, tapi praktik dan terlibat sehingga melekat di jiwa mereka. Seperti apotik hidup di halaman sekolah, kalangan murid diajarkan pembibitan. Mereka yang rawat, tanam, panen sendiri.

Kalangan guru kelas mencari anak-anak yang berbakat tampil di depan teman-temanya. ‘’Awalnya, dari 4 siswa kini sudah bisa tampil lebih banyak,  jumlah murid 159 jumlah murid,’’ jelasnya.

Melalui program polisi murid, Asmwati menambahkan, mereka mulai menyambut teman-temannya. Program sambut pagi ini sekarang berubah menjadi murid yang membantu gurunya. Jadi simbol yang dibanggakan bagi anak-anak, pemilihan istimewa diseleksi selama satu bulan. Mereka terpacu dan berlomba-lomba, datangnya paling pagi. ‘‘Jadi anak yang paling rajin, gurunya mengumumkan. Kami terus lakukan evaluasi, dan tugasnya semakin bertambah kegiatan pagi lama-lama ada tabungan siswa ada juga piket tabungan,’’ singkatnya.

      Sementara itu, Khaerudin guru kelas VI sang pemenang juara lomba inovasi daerah yang mencetus kartu sikap menambahkan, sejak tahun 2019 lalu sudah mulai membuat model pembelajaran yang lebih unik.  Ada rombel karsi karsun (rumah belajar dan kartu sikap karang sukun dalam peningkatan pelayanan pendidikan di era 4.0). ‘’Setiap murid ada buku saku bentuk kartu sikap,’’ sebut Khaeruddin.

Ia melakukan inovasi pelayanan publik di sekolah dengan mengambil rombel kartu sikap rumah belajar dikombinasikan kartu sikap karang sukun. Awalnya, masuk nominator dari 65 peserta, mengerucut dari 15 masuk dan akhirnya jadi pemenang tingkat Kota Mataram yang langsung ke tingkat nasional.

Kata Khaerudin, kartu sikap ini melatih anak lebih jujur yang kita lakukan. Bagaimana mengubah pola anak-anak yang dir umah dan di sekolah, dimulai sejak tahun 2019. Kartu sikap, setiap anak-anak salah satunya menggunakan handphone. Di kartu sikap dikontrol, bisa disebut dalam kurikulm 2013 disebut penilaian pribadi.

Ada juga anak yang kencanduan game online menyampaikan secara jujur. Karena mereka kecanduan, ada beberapa kencanduan ditulis setiap hari di kartu sikap. Kita analisis, ada pengakuan murid ada yang main game satu jam, ada dua jam.

Setelah diketahui, baru diarahkan ke yang lebih positif. Mereka kita kumpulkan di rumah. Datang tempat waktu, dalam satu hari dapat bintang sikap. Wujud pemberian dari hasil penilaian sendiri, terhadap pribadi mereka.

Bagaimana cara mengukur ketika mereka berbohong? Itulah anak-anak sekolah dasar, mereka masih jujur dan polos. ‘’Kita evaluasi setiap satu bulan sekali, ada juga kuisoner bagi orang tua. Kartu sikap diterapkan tahun 2019 lalu, kita coba di kelas VI,’’ sebutnya.

Dampaknya juga sangat positif di kondisi pandemi corona, kalangan murid terus menyampaikan hasilnya. Kedepan sudah ada rencana dibuat kartu pengawas untuk kalangan murid.  

Dikatakan Khaerudin, saat ini dampaknya dari murid  mereka lebih tertib. Dari yang main game diketahui, ada yang lebih segar ada juga yang tidur karena kecanduan game. ‘Dari laporan orang tua juga masuk, kita minta sikap apa saja ditambahkan. Ada juga yang salat lima waktu, salat Subuh berjamaah, karena masing-masing berbeda karakteristik lingkungan,’’ sebutnya.

Ada beberapa pengakuan tertera di kartu sikap, seperti contoh ada yang tidak pernah salat Subuh diberikan bimbingan. Ada juga guru agama yang memberikan arahan, penamanan karakter.  

Untuk evaluasi dilakukan setiap dua bulan, akhir semester dievaluasi. Ada rapor sikap anak-anak juga diberikan reward dapat hadiah yang memiliki bintang sikap. Untuk melaju tingkat nasional, persiapan materi semakin matang. Untuk melakukan uplod Innovative Government Award (IGA) Tahun 2020, termasuk persiapan vidio presentasi. ‘’Tingkat nasional pendaftaran 20 September, kita inovator dikumpulkan setiap sepekan sekali oleh Balitabang. Persiapan semakin matang, untuk maju ditingkat nasional,’’ pungkasnya. (**)