Cerita Guru Tentang Perjuangan Siswa SMPN 2 Gunung Sari Untuk Sekolah

Siswa Banyak Tinggal Diatas Bukit, Guru Urunan Beli BBM

SMPN-2-GUNUNG-SARI
BELAJAR: Para siswa SMPN 2 Gunung Sari tetap masih belajar seperti semula, karena eksekusi sekolahnya ditunda hingga selesai ujian. (FAHMY/RADAR LOMBOK)

Siswa-Siswi SMPN 2 Gunung Sari, Desa Mambalan, Kecamatan Gunung Sari, banyak diisi oleh para siswa yang berasal dari sejumlah desa yang cukup jauh dari lokasi sekolah. Para guru memiliki cerita sendiri tentang perjuangan anak didiknya tersebut. Seperti apa?


ZULFAHMI – LOMBOK BARAT


SALAH satu alasan para guru tidak menginginkan para siswa SMPN 2 Gunung Sari dipindahkan kegiatan belajar mengajarnya ke SMPN 4 Gunung Sari, setelah nanti dilakukan eksekusi, karena jarak yang terlalu jauh jika semua siswa harus digabung bersekolah ke SMPN 4 Gunung Sari.

BACA JUGA: SMPN 2 Gunung Sari akan Dieksekusi, Pemda “Menyerah”

Lokasi SMPN 4 Gunung Sari berada di Desa Ranjok, berjaraK sekitar 3 kilometer dari lokasi SMPN 2 Gunung Sari. Kalau siswa dipindahkan ke sekolah itu, jelas masa tempuh untuk bisa sampai sekolah akan lebih lama. Sekarang saja, pihak SMPN 2 Gunung Sari menyediakan angkutan perintis untuk mengantar jemput para siswanya dari dan menuju sekolahnya.

Seperti yang dituturkan Ibu Ida, salah satu guru SMPN 2 Gunung Sari. Guru yang sudah puluhan tahun mengajar di sekolah ini memiliki banyak cerita, baik manis maupun pahit selama mengajar di SMPN 2 Gunung sari. “Dulu tahun 2000-an, jalan menuju sekolah ini masih sangat jelek. Saya sendiri berkali-kali jatuh dari sepeda motor saat sedang dalam perjalanan, bahkan tidak jarang mengalami cedera, mulai cedera tangan, kaki, hingga patah gigi. Belum lagi pengalaman lainnya, saya pernah dikejar sama anjing, bahkan menabrak anjing saat sedang mengendarai motor,” tuturnya.

Karena itu, ketika mendengar kalau sekolah ini akan di eksekusi, dia pun mengaku sangat terpukul. Karena sudah banyak kenangan selama mengabdi di sekolah tersebut.

Bagaimana dengan para siswanya? Kembali Guru Ida bertutur, kalau terkadang para guru harus mengelus dada, melihat kenyataan yang harus dialami oleh para siswanya. Bagaimana tidak, beberapa siswa diantaranya rumahnya sangat jauh diatas bukit. “Para siswa ini baru bisa sampai ke rumahnya sekitar puku 16.00 Wita, sore hari. Padahal jam pulang sekolah pukul 13.00 Wita,” tutur Ida.

Bahkan kadang beberapa siswa terlihat ke sekolah tidak menggunakan sepatu, melainkan hanya menggunakan sandal jepit saja. Alasannya, karena sepatu mereka basah ketika perjalanan pulang. “Kalau mereka kena hujan ketika pulang, maka mereka sekolah keesokan harinya hanya menggunakan sandal,” jelasnya.

Diakui, para siswa yang sekolah di SPN 2 Gunung Sari ini berasal dari Desa Penimbung, Desa Bukittinggi, Desa Mekar Sari, Desa Mambalan, Desa Gelangsar, dan Desa Jeringo, yang memang beberapa diantaranya terletak di wilayah dataran tinggi atau perbukitan.

Sehingga untuk operasional pengangkutan siswanya, para guru terkadang harus rela mengeluarkan iuran untuk membeli BBM untuk kendaraan angkutan perintis. “Untuk BBM angkutan, kita para guru iuran sendiri. Ya dari gaji sertifkasi kalau sudah keluar,” akunya.

BACA JUGA: Hari Ini SMPN 2 Gunung Sari Dieksekusi

Iuran yang mereka keluarkan juga seikhlasnya, tergantung kemampuan masing-masing guru. Ada yang mengeluarkan Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu. “Kami ikhlas, yang penting anak-anak tetap bisa dijemput pulang pergi sekolah,” jelasnya.

Sementara sopir angkutan perintis, Virgo, menuturkan bagaimana perjuangannya kelilling desa untuk menjemput anak-anak yang sekolah di SMPN 2 Gunung Sari. Dia sendiri sudah menjadi sopir angkutan selama kurang lebih 2 tahun. Setiap hari dia berangkat menjemput siswa mulai pukul 06.15 Wita dan pulang sekitar pukul 14.00 Wita. “Ini saya lakukan setiap hari. Dalam sehari saya menghabiskan sekitar 5 liter BBM untuk antar jemput siswa,” tuturnya. (*)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid