Cara Pengusaha Mendukung Eko Tourism di Gili Trawangan

DIPERIKSA : Dokter hewan bersama para pengusaha menyaksikan sosialisasi kesehatan kuda kepada kusir cidomo yang ada di lapangan (HERY MAHARDIKA/RADAR LOMBOK )

Berbagai cara para pengusaha bergerak dalam mendukung Gili Trawangan menjadi destinasi eko tourism. Salah satunya memberikan pemahaman cara menjaga kesehatan kuda dan menyeragamkan warna cat cidomo. Seperti apa gaya para pengusaha melakukan pengecatan cidomo tersebut.

 

 


HERY MAHARDIKA – TANJUNG


 

GILI Trawangan salah satu objek wisata yang sangat diandalkan pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi dalam memasok sumber pendapatan asli daerah (PAD). Keberadaan objek wisata dengan pasir putih ini telah banyak pengusaha menanamkan investasinya. Seiring perkembangan dunia pariwisata, para pengusaha tidak mau ketinggalan untuk mengambil peran dalam mempertahankan khazanah budaya yang ada di Gili Trawangan.

Para pengusaha seperti PT MLBI, APGT dan pengusaha lain menggandeng Forum Masyarakat Peduli Lingkungan (FMPL) dan Asosiasi Dokter Hewan Kuda Indonesia untuk melaksanakan sosialisasi kepada kusir cidomo untuk memelihara kesehatan kuda dan menjaga lingkungan kandang kuda. Dalam kegiatan sosialisasi ini, para pengusaha mengangkat tema ‘I Support Healty Cidomo’. “Kami memberikan pemahaman kepada para kusir dalam memelihara kesehatan kuda. Dan kegiatan kali ini merupakan kedua kalinya,” terang Ketua Bidang Hukum dan Advokasi Asosiasi Dokter Hewan Kuda Indonesia Dewi Fitri Fathia, kemarin.

[postingan number=3 tag=”features”]

Ia menceritakan, kegiatan sosialisasi ke Gili Trawangan berasal dari adanya petisi pada tahun 2014 mengenai kuda di Gili Trawangan. Pada saat pihaknya langsung turun memberikan pemahaman kepada para kusir. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, pemeliharaan kuda di Gili Trawangan semakin baik, bahkan lebih baik dibandingkan daerah yang pernah datangi seperti Jakarta. “Rata-rata umur kuda di sini yang digunakan 17 tahun. Padahal, umur segitu sudah istirahat. Berarti disini lebih bagus pemeliharaanya dan kuda-kuda disini sehat semuanya,” akunya.

Dari hasil survei, para kusir mempekerjakan kuda dalam jangka waktu empat jam, kemudian dirotasi. Yang seharusnya kuda itu bekerja enam jam. Selanjutnya segi pakan para kusir memberikan dedak dan rumput segar. Dan para kusir di sini berani membeli rumput di daratan. “Pemahaman kusir dalam memberikan pakan sangat bagus dan teratur. Hanya saja yang perlu menjadi perhatian kondisi kandang, masih ada sebagian ditemukan tidak memberikan alas berupa jerami atau serbuk kayu. Kalau tidak ditaruhkan, maka kuda terpaksa tidur berdiri. Karena biasanya kalau kotor kuda juga gak mau tidur di tempat kotor itu,” tandasnya.

Ia memastikan bahwa kondisi kuda di gili trawangan tidak ada yang perlu ditakutkan. Kondisi kesehatan kuda sangat baik, sehingga para wisatawan tidak perlu khawatir. Kemudian, dari sisi menggantikan sepatu kuda, biasanya disini rata-rata dalam seminggu sudah menggantinya. “Kedepan kami akan bekerjasama dengan dinas peternakan di Lombok Utara,” tuturnya.

Selain itu, para pengusaha juga mengadakan menyeragamkan warna cat cidomo. Uniknya, para kusir cidomo hanya memperhatikan sembari melihat tangan para pengusaha yang datang untuk mengecat cidomo tersebut. Dari 164 jumlah cidomo, ada sekitar 50 cidomo yang dicat secara bergiliran. “Hari ini, kami lombakan warna cat yang mana bagus itu kita akan seragamkan kepada para kusir cidomo. Supaya cidomo ini kelihatan menarik dan bagus,” terang ketua APGT Acok Zaini Bassok.

Sementara itu, salah satu kusir Cidomo H. Suhaili mengucapkan terima kasih atas perhatian para pengusaha yang ada di gili ini. Dengan perhatian seperti ini baik memelihara kuda dan menyeragamkan warna cat cidomo para kusir menyambutnya dengan antusias. “Kegiatan ini memang kecil kelihatan tapi memberikan dampak positif yang sangat baik kepada kami,” katanya. (**)