Cabuli Putri Kandungnya, Mantan Anggota DPRD NTB Ditahan

Kasat Reskrim Polresta Mataram, Kompol I Kadek Adi Budi Astawa (Dery Harjan/Radar Lombok)

MATARAM– Mantan anggota DPRD NTB berinisial AA terpaksa berurusan dengan polisi.

Pria berusia 65 tahun ini diamankan unit PPA Satuan Reskrim Polresta Mataram lantaran diduga mencabuli anak kandungnya sendiri WM (17 tahun). Kasat Reskrim Polresta Mataram Kompol Kadek Adi Budi Astawa mengatakan, pihaknya mengamankan pelaku yang merupakan mantan anggota DPRD NTB empat periode ini usai menerima laporan korban setelah mendapatkan perlakuan tak senonoh di rumahnya pada Senin (18/1).

Saat kejadian, rumah yang ditempati korban di wilayah Sekarbela sedang dalam keadaan sepi. Pasalnya, ibu korban yang merupakan istri kedua dari pelaku sedang
menjalani perawatan medis di rumah sakit karena terjangkit COVID-19.
Begitu pelaku datang, ia langsung memeluk korban layaknya bapak dengan anak. Setelah itu korban diminta mandi dulu.
Begitu korban selesai mandi dan masuk ke kamar ternyata pelaku sudah ada di sana. Korban kemudian dipaksa membuka handuknya dan pelaku diduga langsung mencabuli korban. “Hal tersebut kemudian dilaporkan ke kami dan guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan tadi yang bersangkutan langsung kami amankan,”ujar Kadek Adi, Rabu (20/1).

Pihaknya telah memeriksa saksi-saksi dan mengumpulkan alat bukti.
Beberapa barang bukti yang sudah didapat yakni hasil visum dari rumah sakit Bhayangkara. “Jadi dari cek medis, ada luka robek baru tidak beraturan pada kelamin korban,” ucapnya.

Berdasarkan hal tersebut kemudian pihaknya melakukan gelar perkara. Hasilnya penyidik menyimpulkan bahwa perbuatan yang diduga dilakukan AA telah memenuhi unsur Pasal 82 Ayat 2 Perppu 1/2016 Juncto Pasal 76E Undang-Undang Nomor 35/2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23/2002 tentang Perlindungan Anak. “Saat ini yang bersangkutan sudah kami tetapkan tersangka dan ditahan,”ujarnya.

Gerak cepat kepolisian mendapat apresiasi dari penasihat hukum korban yakni Dr Asmuni,SH,MH.
Menurutnya tindakan kepolisian sudah sangat tepat. Pihaknya pun berharap terlapor dihukum seberat-beratnya. “Tindakannya sangat biadab. Sangat tidak pantas seorang ayah melakukan tindakan seperti itu terhadap anaknya. Terserah dia mau berdalih apa tetapi hasil visum tidak bisa dibohongi,”ujarnya.

Asmuni menyampaikan bahwa kondisi korban saat ini masih trauma.
Terlebih usai kejadian tidak ada keluarga yang mendampinginya karena ibunya masih menjalani perawatan di rumah sakit.
“Saat melaporkan kejadian yang dialami ke kami, korban menangis terus. Sampai-sampai menyebut nama nama pelakunya pun tidak bisa. Butuh waktu lama untuk memulihkan kondisinya psikologisnya,” ujar Asmuni.

Sementara dari pihak terlapor sendiri saat ini belum bisa dimintai keterangan. Radar Lombok telah berusaha menemuinya, hanya saja penyidik kepolisian belum memperkenankan karena masih dalam proses pemeriksaan. “Saya tidak berani mengizinkan. Belum ada izin atasan,”ujar salah seorang petugas di unit PPA Satreskrim Polresta Mataram yang enggan menyebutkan namanya.(der)