Dikes Jamin Tidak Ada Vaksin Palsu

PRAYA-Beredarnya vaksin palsu di berbagai wilayah Indoesia direspon Kepala Dinas Kesehatan Lombok Tengah, dr Nurhandini Eka Dewi.

Eka memastikan, tidak ada vaksin palsu yang masuk wilayah Lombok Tengah. Sebab, semua vaksin yang dikirim berdasarkan rekomendasi dan sudah terdaftar di Kementerian Kesehatan RI. Jadi, legalitasnya tidak diragukan lagi jika semua vaksin itu datangnya dari Kemenkes.

Jika kemudian ada vaksin palsu yang beradar, maka tidak di Lombok Tengah. Menurut informasi yang diperoleh Eka, vaksin palsu itu banyak beredar di wilayah pulau Jawa. Terutama di sarana kesehatan swasta yang digunakan jasanya oleh masyarakat. ‘’Kalau sarana kesehatan negeri saya yakin vaksin palsu ini tidak beradar,’’ tegas Eka, pekan lalu.

Begitu juga di Lombok Tengah, lanjutnya, rata-rata masyarakat menggunakan pusat kesehatan negeri dalam memberikan vaksin terhadap anaknya. Sehingga dijamin bahwa semua anak di Lombok Tengah, mendapatkan vaksin legal yang berfungsi menjaga ketahanan tubuh mereka.

Kembali ke pulau Jawa, katanya, banyak daerah yang tersiolir dan tidak bisa terjangkau. Sehingga banyak berdiri sarana kesehatan swasta. Kemungkinan, di sinilah banyak beradar vaksin palsu jika dilihat dari informasi yang beredar. ‘’Kalau kita di sini semuanya divaksin di puskesmas,’’ jelasnya.

Apa penyakit yang timbul akibat vaksin palsu ini? Eka menyebut, secara teoritis kesehatan vaksin anak berguna untuk membuat ketahanan tubuh sehingga terhindar dari penyakit. Karenanya, setiap anak diberikan vaksin agar tubuhnya menjadi kebal dan tidak mudah terserang penyakit.

Namun, belakangan ini di pulau Jawa muncul lagi penyakit yang sudah lama hilang. Yaitu penyakit Diperi, terdiri dari pertasi dan tetatus. Penyakit ini sebenarnya sudah lama hilang, tapi tiba-tiba muncul lagi.

Jika dikalkulasikan dengan lamanya beredar vaksin palsu, bisa saja ini disebabkan oleh vaksin palsu itu. ‘’Kalau tidak ada vaksin kemungkinan daya tahan dan kekebalan tubuh anak itu melemah. Seperti sekarang timbul lagi penyakit lama Dipteri,’’ beber dokter spesialis anak ini.

Dijelaskannya, penyakit ini merupakan penyakit membunuh. Anak yang terserang penyakit ini tidak aman dari gangguan penyakit lainnya. Sehingga bisa terserang kapan saja dan mengalami kematian. ‘’Penyakit ini merupakan penyakit membunuh,’’ sebutnya.

Untuk itu, Eka berjanji akan memperketat pengawasan lagi terhadap peredaran obat dan makanan. Pihaknya akan bekerjasama dengan Badan Pengawas Obat dan Makananan (BPOM) untuk terus memantau sejumlah peradaran obat dan makanan. Karena masalah pemalsuan itu masih menghantui setiap daerah di Indonesia. ‘’Seperti kosmetik palsu, nyaris di semua daerah ada. Tapi pelakunya bisa tertangkap,’’ tandasnya.

Ditambahkan ibu satu anak ini, sedangkan untuk pengawasan obat pihaknya akan memperketat seluruh apotik, klinik, dan berbagai sarana kesehatan lainnya. Eka juga meminta agar masyarakat tetap waspada terhadap penjual obat keliling.

Obat ini tidak memiliki jaminan kesehatan dan harus tetap diwaspadai. Lain halnya dengan apotik yang memiliki penanggung jawab. ‘’Masyarakat juga harus tetap mengantisipasi peredaran obat dan makanan. Terutama pedagang obat yang tidak memiliki lisensi,’’ imbuhnya. (dal)

BACA JUGA :  Dikes KLU Ingin Contoh Kab. Bantaeng