Bupati dan Wabup Sumbawa Dilantik, Gubernur: Jadi Kepala Daerah Tak Harus Pintar

Gubernur NTB Zulkieflimansyah melantik Mahmud Abdullah-Dewi Noviany menjadi Bupati dan Wakil Bupati Sumbawa masa jabatan 2021-2026. Pelantikan berlangsung di Gedung Graha Bakti Praja Kantor Gubernur NTB, Senin (26/4/2021).

MATARAM–Gubernur NTB Zulkieflimansyah melantik Mahmud Abdullah-Dewi Noviany menjadi Bupati dan Wakil Bupati Sumbawa masa jabatan 2021-2026. Pelantikan berlangsung di Gedung Graha Bakti Praja Kantor Gubernur NTB, Senin (26/4/2021).

Pelantikan didasarkan atas Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) RI Nomor: 131 52 043 Tahun 2021 tertanggal 19 April. “Saya percaya Saudara dan Saudari akan menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya, sesuai tanggung jawab yang diberikan,”ucap Gubernur saat pelatikan.

Dalam sambutannya, Gubernur menyampaikan bahwa pelantikan ini merupakan gerbong akhir dari pelantikan kepala daerah hasil Pilkada serentak 2020.

Ia berpesan agar Bupati dan Wakil Bupati Sumbawa bisa melanjutkan kerja keras dari Bupati sebelumnya. Terutama dalam penanggulangan covid-19. “Jangan disepelekan. jangan dianggap enteng. Karena kalau dianggap enteng wabah ini tidak akan selesai, kita juga yang akan rugi semua,” pesannya.

“Pak Presiden menegaskan kepada kita, pengendalian covid adalah satu hal, tapi menggerakkan ekonomi, investasi dan menekan permasalahan sosial adalah sisi yang lain. Oleh karena itu harus satu ritme, seirama sehingga dengan sinergi kita semua, covid bisa kita kendalikan, ekonomi bisa berjalan dengan baik, permasalahan sosial bisa kita selesaikan bersama,” tambahnya.

BACA JUGA :  Hoaks Penemuan Mayat ABK Nanggala-402 di Gili Lombok, Cek Faktanya!

Kemudian, Bang Zul sapaan akrab Gubernur NTB ini mengatakan, saat ini berada pada zaman yang berbeda. Menjadi Bupati, Gubernur atau Pejabat Negara itu tidak harus pintar, tidak harus panjang gelarnya. Melainkan mereka yang punya kerendahan hati dan kesediaan untuk berkorban lebih banyak untuk melayani masyarakat. “Ini kelihatan sederhana. Saya sering mendengar dari Lombok Tengah jadi khadimul ummah, pelayan masyarakat. Nah jangan sampai pelayan masyarakat ini manis kita ucapkan tapi dalam tingkah laku kita feodal dan seperti kita yang ingin dilayani,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa, revolusi sosial media menyebabkan masyarakat semakin demanding; semakin banyak maunya. “Oleh sebab itu menjadi pemimpin adalah kesediaan untuk mendengar, kemudian merefleksikan dalam aktivitas dan program untuk kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat yang kita inginkan,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan, pimpinan harus punya kelapangan jiwa. Oleh sebab itu ia juga berpesan agar lawan politik pada saat kontestasi Pilkada agar bisa dirangkul dan didatangi. “Tidak boleh ada dendam. Hati boleh sakit, kemarin ada kontestasi tapi tugas pemimpin adalah merangkul semuanya demi daerah yang kita cintai ini. Memaafkan kelihatan sederhana tapi berat sekali dilakukan. Hanya mereka yang punya kemampuan kematangan dan jiwa besar yang sanggup melakukan itu,” ujarnya.

BACA JUGA :  Purnatugas, Lalu Bayu Windya Terima Tabungan Hari Tua Rp 82 Juta

Kemudian birokrasi agar dibikin stabil. Jangan menonjobkan yang tidak mendukung. “Tapi datangi sebagai satu tim yang yang kompak sehingga betul-betul daerah kita nyaman,” ucapnya.

Disamping itu, Bang Zul juga, mengingatkan agar jangan sungkan belajar dari kepala daerah yang lain. Karena rata-rata Bupati dan Wali Kota di NTB saat ini adalah senior-senior bepengalaman. “Insyallah dengan sering datangi kabupaten/kota yang lain, kita akan sinergi. Kita banyak belajar. Tidak boleh jadi raja-raja kecil. Karena bagaimanapun usia kekuasaan ada batasnya tapi usia persahabatan dan persaudaraan akan langgeng selamanya,” pesannya. (sal)