Buntut Pemukulan di Kejati NTB, Mahasiswa NTB akan Demo di Kejagung

Pemukulan demonstran oleh oknum pegawai Kejati NTB Jumat (1/4/2022) menuai kecaman.(ist)

MATARAM – Aksi pemukulan oleh oknum pegawai Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTB terhadap Adi Faisal, pendiri LSM Lembaga Advokasi Pemuda Antikorupsi (LAPAS) saat demonstrasi Jumat (1/4/2022) menuai kecaman.

Sejumlah mahasiswa asal NTB di Jakarta yang tergabung dalam Barisan Mahasiswa Manggala Garuda Putih mengecam aksi pemukulan itu. ” Insiden pemukulan yang terjadi di ruangan center Kejati NTB tidak bisa dibiarkan begitu saja. Pasalnya tugas kejaksaan itu sebagai penuntutan bukan sebagai algojo atau petinju,” terang koordinator mahasiswa Ahmad Fino dalam pernyataan sikapnya yang diterima media ini, Senin (4/4/2022).

Dikatakan, bukti video sangat jelas oknum kejaksaan yang berbaju kaos kuning memukul salah satu peserta aksi. Yang dikhawatirkan bila mana hal ini dibiarkan begitu saja akan menjadi preseden buruk bagi Kejati NTB. Apalagi tempat kejadian pemukulan di ruang audensi bukan di ruangan ring tinju.

Ahmad menegaskan kasus pemukulan ini harus segera diproses secara hukum. ” Coba perhatikan di video, pelaku pemukulan tidak sedang terancam keselamatannya ( pembelaan) , yang artinya ini murni tindak pidana kekerasan,” tegasnya.

Indonesia ini kata Ahmad Fino negara hukum dan demokrasi, jadi tidak bisa main hakim sendiri. Apalagi pelaku pemukulan mengetahui dan mengerti akan tentang hukum.

Jaksa Agung didesak segera menyikapi kasus ini dengan membentuk tim guna mengusutnya. Lalu memecat oknum pegawai yang terbukti bersalah serta memproses hukum mereka.
Hal ini demi menjadikan institusi kejaksaan lebih baik kedepanya sesuai harapan pemerintah dan masyarakat.
“Kami dari Gerakan Mahasiswa NTB mengecam keras atas tindakan represif terhadap mahasiswa yang melakukan aksi depan gedung Kejati NTB,” desaknya.

Ahmad Fino mengatakan malu atas perilaku oknum Kejati NTB itu. Apapun alasan pemukulan itu, tetap tidak bisa dibiarkan. Untuk itu para mahasiswa ini berencana menggelar aksi di depan Kejaksaan Agung (Kejagung) RI di Jakarta pada Rabu (6/4/2022) mendatang.

Aksi pemukulan ini terjadi di sela-sela demonstrasi sejumlah pemuda dari LAPAS Jumat (1/4/2022) sekitar pukul 11.00 WITA. Demo ini menuntut penjelasan dari Kejati NTB terkait vonis bebas Aryanto Prametu Direktur PT SAM dalam kasus korupsi benih jagung Kementerian Pertanian tahun 2017 lalu. Pengadilan Tinggi (PT) Mataram menjatuhkan vonis lepas kepada Aryanto. Di Pengadilan Tipikor PN Mataram, Aryanto sebelumnya divonis bersalah dan dijatuhi hukuman 8 tahun penjara.

Terhadap aksi pemukulan ini
Kejati NTB melalui Asisten Intelijen Kejati NTB Munif telah memberikan klarifikasi.

Dijelaskannya, semula pemuda dari LAPAS ini diketahui melakukan demo di Pengadilan Negeri Mataram. Adapun dalam mengadakan demo di Kejati NTB, LAPAS tidak memberitahukan terlebih dahulu, sebagaimana regulasi yang ada.
Dan karena tidak ada pemberitahuan terlebih dahulu, maka pintu masuk ditutup, namun massa mencoba mendobrak. “Kemudian ada kesadaran dari teman-teman kita melakukan negosiasi. Oke silakan kalau ada yang ingin masuk perwakilan. Semula kita tawarkan 5 orang. Tetapi mereka minta 8 orang. Itupun kita layani, kita persilakan masuk untuk sampai di media center ini,” ungkapnya.

Terkait pemukulan oleh oknum anggota Kejati NTB itu, ditegaskannya, pemukulan tidak terjadi begitu saja, ada sebab akibat. “Tidak benar kalau tiba-tiba ada pemukulan dari anggota kita. Itu karena ada rasa kejengkelan dari anggota kita, karena yang bersangkutan teriak-teriak, bahkan mengumpat-umpat pimpinan kita dengan bahasa, ada yang dengan Bahasa Bima, saya kurang tahu. Tetapi ada bahasa yang dimengerti oleh kita, ada umpatan-umpatan anjing, monyet, itu banyak didengar oleh teman-teman kita. Itulah yang memancing, kenapa sampai terjadi pemukulan,” jelasnya.

Di samping juga lanjutnya, oknum anggota terpancing emosi karena pendemo ini petantang-petenteng, merokok, selain mengumpat itu. “Harapan saya ini bisa diluruskan. Jadi tidak semata-semata karena orang ini seperti apa kemudian tiba-tiba dipukul, itu terjadi sebab akibat sebenarnya. Ada anggota kami yang terpancing emosinya karena tidak rela kalau pimpinannya diumpat-umpat,” pungkasnya.(rl)