Bulog NTB Baru Serap 103 Ribu Ton Beras

MATARAM—Perum Bulog Divisi Regional (Divre) Provinsi NTB terus memacu penyerapan gabah petani agar mampu mencapai target 211 ribu ton setara beras hingga akhir tahun 2016 ini. Bulog Divre NTB hingga Rabu kemarin (9/8), baru menyerap pembelian gabah petani sebanyak 103 ton setara beras, atau 213 ribu ton setara gabah kering panen (GKP).

“Serapan pembelian gabah petani terus kami lakukan, meski harga kecenderungannya mengalami kenaikan,” kata Kepala Perum Bulog Divre NTB, Arif Mandu di Mataram, kemarin.

Arif menyebut, jika saat ini harga gabah ditingkat petani untuk GKP sudah tembus di angka Rp 4.000/kg hingga Rp 4.250/kg. Sementara harga pembelian pemerintah (HPP) yang menjadi acuan pembelian Bulog adalah Rp 3.700/kg.

Kendati demikian, di musim panen “gaduh” saat ini Bulog NTB betul-betul mengoptimalkan peran mitra dan tim dari Bulog untuk menyerap gabah petani dengan melakukan pendekatan langsung kepada para petani, dan juga gabungan kelompok tani (Gapoktan) serta kelompok tani (Poktan).

Pembelian gabah petani setelah musim panen raya pada April lalu, kini Bulog terdapat kesulitan dalam membeli gabah petani. Karena sebagian besar petani lebih memilih menyimpan gabah hasil panen mereka daripada menjualnya.

Akibatnya pada musim panen “gaduh” sekarang ini pembelian gabah petani kurang signigfikan, meski setiap hari ada pembelian. “Serapan terus jalan, tapi tidak signifikan. Petani masih banyak yang menyimpan gabah mereka. Mungkin saja petani menunggu harga naik,” ujarnya.

Kendati demikian, Arif Mandu tetap optimis dengan waktu tersisa hingga Desember 2016 mendatang, target penyerapan pembelian gabah petani sebanyak 211 ribu ton setara beras untuk beras PSO, dan 30 ribu ton untuk pengadaan beras komersil yang ditotal menjadi 241 ribu ton akan bisa tercapai.

Terlebih lagi di beberapa daerah masih ada yang akan panen, meski tidak sebanyak seperti panen raya atau rentengan. Arif menyebut beberapa daerah di Provinsi NTB pada Agustus dan September yang mulai masuk musim panen, sebagian Lombok Timur, Lombok Barat, Lombok Tengah dan juga di wilayah Bima, Sumbawa bagian barat dan juga di beberapa titik di Sumbawa Barat.

Dengan potensi masih cukup banyak petani yang akan panen dari Agustus hingga Desember mendatang, Arif Mandu berkeyakinan target 241 ribu ton setara beras bisa terpenuhi. Selain fokus memenuhi target pembelian, Arif juga memastikan tidak akan mengirim keluar beras produk petani NTB keluar daerah, sebelum stok beras untuk NTB aman dan terkendali hingga empat bulan di awal tahun 2017 mendatang.

“Kita fokus amankan cadangan pangan untuk NTB, baru keluar. Selama cadangan belum aman, saya tidak akan mengizinkan beras NTB keluar, meski itu permintaan dari Bulog pusat,” pungkasnya. (luk)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid