Bulog Mendadak Turunkan Harga Beras Medium

Bulog Mendadak Turunkan Harga Beras Medium
KALAH SAING : Masyarakat lebih memilih beras medium yang langsung dari penggilingan daripada membeli beras dari Bulog, karena persoalan kualitas dan rasa.( DEVI HANDAYANI/RADAR LOMBOK)

Beras Bulog Kurang Laku

MATARAM – Memasuki awal tahun 2020, harga kebutuhan pokok mengalami kenaikan, khususnya beras jenis medium sudah melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET di sejumlah pasar tradisional. Di mana harga jual beras jenis medium di pasar tradisional sudah mencapai Rp 9.500 per kg, sementara HET beras medium sebesar Rp 9.450 per kg.

Hal tersebut diakui oleh Kepala Pasar Induk Mandalika, Bertais, H Ismail bahwa harga beras untuk jenis medium sudah mencapai Rp 9.500 beberapa hari belakangan ini.

“Sudah beberapa minggu ini harga beras medium di Pasar Mandalika Rp 9.500 per kg dan kalalu beras premium harganya Rp 10 ribu per kg,” sebut Ismail, Senin (6/1).

Ismail mengakui jika sudah beberapa minggu ini harga beras jenis medium sudah diharga Rp 9.500 per kg atau di atas HET dari ketentuan pemerintah. Penjualan beras medium yang paling laku di pasar induk Mandalika adalah beras yang langsung dari penggilingan pedagang swasta. Sementara itu, untuk beras medium dari Bulog, meski harganya lebih murah, tapi kurang diminati oleh konsumen.

“Kalau di Mandalika yang jual beras Bulog tidak begitu banyak. Yang paling laku tetap beras dibawa langsung pedagang dari penggilingan,” bebernya.

Sementara itu, Kepala Bidang Komersial Perum Bulog Divre NTB Rahamatullah, Senin (6/1) turun langsung ke sejumlah pasar tradisional untuk melihat langsung harga beras jenis medium, seperti di pasar Mandalika. Hanya saja, jika sebelumnya pada pagi hari harga yang tertulis di papan daftar harga di Pasar Mandalika untuk beras medium tercatat Rp 9.500 per kg, ketika tim Bulog datang berubah menjadi Rp 8.500 per kg. Padahal, sebelumnya pihak Bulog menyebut harga jual beras medium yang dijual Bulog dikisaran Rp 9000 per kg.

“Iya betul ada sedikit kekeliruan pencatatan di pasar,” ujar Rahmat.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Perdagangan Provinsi NTB Baiq Nelly Yuniarti mengakui jika untuk beras Bulog di pasar memang kualitasnya masih rendah. Berbeda dengan yang dijual oleh para pegadag di pasar, cenderung lebih bagus kualitasnya, sehingga masyarakat lebih memilih beras pedagang swasta di luar beras Bulog.

“Konsumen bisa memilih sesuai selera mereka, apakah yang bagus atau kualitas nya kurang bagus,” jelasnya. (dev)