Bulan Ramadan, BI Prediksi Inflasi 1 Persen

Prijono (LUKMAN HAKIM/RADAR LOMBOK)

MATARAM–Bulan puasa Ramadan selalu identik dengan kenaikan berbagai bahan pokok bagi masyarakat. Karena di saat bulan Puasa Ramadan pola konsumsi masyarakat cenderung lebih besar, sehingga permintaan akan bahan pokok juga meningkat dan berdampak terhadap kenaikan harga di pasaran.

Adanya perilaku konsumtif masyarakat di bulan puasa Ramadan akan berdampak terhadap laju inflasi yang cukup tinggi. “Kami prediksi laju inflasi selama Puasa Ramadhan atau tepatnya Juni ini sekitar 1 persen,“ kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi NTB, Prijono, Sabtu (3/6).

Menurut Prijono setiap bulan puasa ramadhan kecendrungan inflasi itu tinggi dan itu terjadi setiap tahunnya. Kendati demikian, kenaikan inflasi di bulan Puasa Ramadhan tahun ini tidak terlalu tinggi sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Karena harga bahan pokok relatif stabil, begitu juga dengan ketersediaan stok bahan pokok dalam kondisi aman.

Kendati demikian, lanjut Prijono, pemerintah daerah bersama pihak terkait lainnya perlu tetap mengantisipasi berbagai hal yang bisa terjadi di jelang lebaran Idhul Fitri mendatang utamanya terkait permintaan untuk bahan pokok tertentu yang bisa berdampak meningkatkan laju inflasi. Seperti bawang putih, daging sapi, telur ayam ras, daging ayam dan beberapa komoditas bahan pokok lainnya yang rentan pasokannya berkurang sementara permintaan akan tinggi.

Kepastian stok dan pasokan bahan pokok sangat penting diperhatikan. Begitu juga dengan arus distrbusi hingga ke pedagang di pasar pasar tradisional. Sehingga masyarakat selaku konsumen tidak khawatir dan panik terkait ketersediaan berbagai bahan pokok strategis tersebut.

Prijono mengatakan, pihaknya tetap menurunkan tim survey untuk memantau dan mencatat pergerakan harga bahan pokok di sejumlah pasar tradisional yang ada di beberapa tempat. Seperti pasar Mandalika, pasar Kebon Roek , Pasar Pagesangan dan beberapa pasar tradisional lainnya.

“Meski ada kenaikan  harga bahan pokok, tapi masih wajar. Pengendalian harga itu perlu dilakukan pemerintah daerah, sehingga inflasi bisa tetap terjaga,’ tutupnya. (luk)

BACA JUGA :  Gubernur Terima Penghargaan sebagai Penggerak Ekonomi Syariah