Brigadir Komang Wahyu, Peraih Emas Pon dan Sea Games Pencak Silat

Brigadir Komang Wahyu Peraih Emas Pon dan Sea Games Pencak Silat
JUARA SILAT : Brigadir Komang Wahyu Purba Sari, anggota Dit shabara Polda NTB yang memupnyai prestasi mentereng sebagai atlet pencak silat. (ALI MA’SHUM/RADAR LOMBOK)

Membela negara di kancah internasional adalah sesuatu yang membanggakan. Begitu juga yang dialami Brigadir I Komang Wahyu Purbaya Sari. Sederet prestasi di bidang pencak silat telah diraihnya.


ALI MA’SHUM—MATARAM


BRIGADIR Komang Wahyu terlihat sibuk bersama dengan personel Dit Shabara Polda NTB lainnya, kemarin (11/4). Mereka saat itu asyik dengan urusan masing-masing. Ada yang sedang bercengkerama. Saling tukar pikiran. Ada juga yang sedang sekadar bercerita antara satu dengan yang lainnya.

Brigadir Komang Wahyu adalah salah seorang personel Dit Shabara Polda NTB. Ia saat ini menjabat sebagai Komandan Peleton (Danton) I Kompi 2 Dalmas Polda NTB. Kasat mata, ia terlihat sama seperti personel lainnya. Tapi, ia bukan hanya personel polisi biasa. Ia adalah polisi dengan segudang prestasi. Khususnya di bidang olahraga bela diri pencak silat.

Prestasinya antara lain, peraih medali emas Pekan Olahraga Nasional (PON) tahun 2008 di Kaltim. Emas di Sea Games tahun 2009 di Vientiane Laos tahun 2009. Emas Asian Martial Art tahun 2009 di Bangkok Thailand dan juara dunia pencak silat tahun 2011 kelas yang digelar di Indonesia. ‘’Semuanya itu untuk nomor tunggal perorangan,’’ ujarnya kepada Radar Lombok di Mapolda NTB, kemarin (11/4).  

[postingan number=5 tag=”features”]

Ia mengaku mendalami pencak silat sejak berumur dua tahun. Ia terlahir dari keluarga yang berkecimpung di pencak silat. ‘’Sejak saya berumur dua tahun. Bapak saya yang langsung melatih. Dulu saya diberikan seragam pencak silat dan terus saya pakai,’’ katanya.

Kemudian sejak duduk di kelas dua SD. Dirinya mulai mengikuti kejuaraan. Saat itu, dimulai dari kelas 25 kilogram (kg). Hingga akhirnya terus menerus mengikuti kejuaraan hingga dewasa. Dia kemudian masuk dan diterima sebagai polisi pada tahun 2004. Setelah masuk kepolisian, dia kemudian meminta izin untuk mengikuti salah satu kejuaran silat di Jakarta. Dia juga saat itu meraih emas. Prestasi itu kemudian mengantarnya untuk mengkuti PON tahun 2008 mewakili NTB. ‘’Saya juga saat itu meraih medali emas,’’ ungkapnya.

Dari sekian prestasi mentereng yang diraihnya. Komang mengaku medali emas Sea Games di Vientiane Laos paling berkesan. Pasalnya, banyak sebab yang membuatnya memilih momen tersebut. Bahkan ia mengaku sampai meneteskan air mata kala itu karena sangat terharu. ‘’Karena itu medali emas satu-satunya yang diraih Indonesia untuk kategori tanding. Apalagi saat itu ada rekan saya yang kakinya patah. Dia memeluk saya sambil mengatakan kamu harus mengibarkan merah putih di sini. Setiap saat saya mengingat itu, pasti saya merinding. Perjuangan dan pengorbanan saya untuk ikut Sea Games tahun 2009 itu memang berat,’’ terang lelaki kelahiran 22 September 1986 ini. 

Kedepannya, ia mengaku ingin turun di PON di Papua 2020 mendatang. Ia juga ingin kembali turun di ajang Sea Games. Ia mengaku vakum dari pencak silat sejak empat tahun yang lalu. Untuk itu, ia akan mempersiapkan mental karena pernah cidera parah usai kalah di Sea Games. ‘’Itu kalau diizinkan sama komandan dan keluarga. Kalau tidak, saya siap menjadi pelatih untuk mencari generasi penerus,’’ ungkapnya.

Ada banyak hal yang membuatnya tertarik dengan pencak silat. Selain karena terlahir dari lingkungan pencak silat. Pencak silat dinilainya adalah sebagai budaya bangsa yang perlu dilestarikan. ‘’Harus diingat, kita juga bisa merdeka juga karena pencak silat. Pendahulu kita dulu berjuang melawan penjajah dengan pencak silat. Saya bangga dengan kebudayaan bangsa sendiri. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan melestraikan budaya ini,’’ terangnya.

Di Polda NTB sendiri, ia mengaku mulai melatih pada hari Selasa dan Jumat. Dengan melatih para anggota Shabara Polda NTB yang masih baru. ‘’Polri sendiri punya bela diri. Itu yang kita kombinasikan dengan pencak silat. Tujuannya tak lain untuk menunjang tugas kita sebagai kepolisian. Karena tidak setiap saat kita akan pegang senjata,’’ tandasnya. (**)