BPS Ingatkan Pemprov NTB Waspadai Deflasi

BPS NTB: Kepala BPS Provinsi NTB, Endang Triwahyu Ningsih, didampingi Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS NTB, Ni Kadek Adi Madri, ketika gelar press conference di Mataram, Senin (3/10) (LUKMAN HAKIM/RADAR LOMBOK)

MATARAM—Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB perlu mewaspadai ancaman terjadinya deflasi selama tiga bulan berturut-turut. Pasalnya, jika deflasi terjadi selama tiga bulan berturut, maka itu menandakan bahwa masyarakat NTB tidak memiliki daya beli.

“Pemerintah daerah perlu mewaspadai deflasi yang terjadi. Kalau tiga bulan berturut-turut itu berbahaya. Artinya masyarakat NTB daya belinya rendah,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB, Endang Triwahyu Ningsih di Mataram, Senin (3/10).

BPS Provinsi NTB mencatat selama dua bulan berturut-turut yakni Agustus dan September 2016,Provinsi NTB mengalami deflasi. Jika pada bulan Agustus mengalami deflasi 0,34 persen. Sementara di bulan September, BPS NTB mencatat Provinsi NTB kembali terjadi deflasi sebesar 0,63 peren.

Menurut Endang yang baru menduduki jabatan sebagai Kepala BPS NTB menggantikan Wahyudin yang kini menjabat sebagai Kepala BPS Provinsi Aceh itu mengimbau Pemerintah Provinsi NTB untuk mencarikan langkah-langkah konkrit, sehingga tidak terjadi deflasi pada bulan Oktober ini.

Sebab, jika terjadi deflasi selama tiga bulan berturut-turut akan membahayakan perekonomian Provinis NTB sendiri. Karena tidak ada pergerakan aktifitas ekonomi, dan bisa jadi menunjukan produk unggulan baik itu hasil pertanian dan lainnya tidak memiliki nilai jual.

BPS Provinsi NTB mencatat bahwa pada bulan September 2016 NTB mengalami deflasi sebesar 0,63 persen . Angka deflasi ini berada di bawha angka inflasi nasional yang tercatat sebesar 0,22 persen.

Deflasi Provinsi NTB bulan September 2016 sebesar 0,63 persen terjadi karena adanya penurunan indeks pada kelompok transport, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 1,85 persen, kelompok bahan makanan sebesar 1,78 persen dan kelompok perumahan , air, listrik gas dan bahan bakar sebesar 0,03 persen.

“Berdasarkan hasil pemantauan, perkembangan harga berbagai komoditas secara umum menunjukan penurunan,” kata Endang.

Dikatakan, Provinsi NTB secara umum terjadi penurunan indeks harga konsumen (IHK) dari 124,71 pada bulan Agustuss 2016 menjadi 123,93 di bulan September 2016. Dengan angka deflasi tersebut, maka lanjut inflasi NTB tahun kalender (September 2016 – Desember 2015) mencapai 1,52 persen dan laju inflasi tahun ke taun (September 2016 – September 2015) mencapai 2,93 persen.

Jika dirinci menurut kota-kota IHK di NTB, maka Kota Mataram pada bulan September 2016 kelompok komoditas yang memberikan andil deflasi adalah kelompok bahan makanan sebesar 0,35 persen. sementara di Kota Bima, kelompok yan memberikan andil deflasi adalah kelompok bahan makanan sebesar 0,72 persen. (luk)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid