BPR NTB Bentuk Tim Konversi ke Syariah

Dirut PT BPR NTB Ketut Sudharmana

MATARAM – PT BPR NTB sudah membentuk tim untuk menyelesaikan proses transformasi dari konvensional menjadi konversi syariah. Tahun 2025 mendatang ditargetkan PT BPR NTB sudah beroperasi penuh sebagai BPR NTB Syariah.

“Perda konversi menjadi syariah sudah ada, dan tim yang mengawal proses berbagai tahapan transformasi ke syariah ini sudah mulai bekerja,” kata Direktur Utama PT BPR NTB Ketut Sudharmana, Kamis (4/7).

Ketut mengatakan jika sudah membentuk tim beserta timeline-nya. Tim ini yang sudah mulai bekerja menyiapkan berbagai kebutuhan proses konversi menjadi syariah, seperti sumber daya manusia (SDM), berbagai perangkat-perangkat aturan lainnya. Termasuk menyelesaikan ketentuan-ketentuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Beberapa hal yang sudah mulai dan akan dilakukan, diantaranya pelatihan untuk pengenalan sistim syariah kepada seluruh karyawan BPR NTB. Selain itu, BPR NTB juga nantinya akan melakukan studi banding, bisa ke BPR Syariah Aceh, dan BPR Jam Gadang Syariah Sumatera Barat.

Pihaknya akan mempelajari dan melihat proses BPR yang sudah sukses konversi dari konvensional ke syariah, bagaimana peran Pemda, dan dukungan para pihak. Beberapa pihak juga sudah siap membantu proses konversi, seperti Bank NTB Syariah sudah siap membantu apa yang jadi kebutuhan BPR NTB dan ada juga Bank Muamalat, dan Tazkia.

Baca Juga :  BPR NTB Berangkatkan Umrah Lima Pegawai Berprestasi

Ketut mengatakan targetnya awal tahun 2025 proses konversi sudah rampung dan bisa mendapatkan perizinan dari OJK beroperasi penuh sebagai BPR NTB Syariah, mengikuti dua BUMD keuangan syariah lainnya, yaitu Bank NTB Syariah dan Jamkrida NTB Syariah.

Menurut Ketut, konversi BPR NTB ke syariah penuh ini sangat mendesak dilakukan. Pertama, agar kerja sama dengan lembaga keuangan syariah lainnya bisa dilakukan. Kedua, banyaknya permintaan dari nasabah agar BPR NTB ini menjadi BPR Syariah. Di lapangan, banyak nasabah yang mempertanyakan, apakah BPR NTB ini sudah syariah atau belum. Ada juga Ponpes yang menempatkan dananya di BPR NTB tidak ingin bunga, karena beberapa ponpes yang menjadi mitra penempatan dana.

Jumlah Ponpes di Provinsi NTB cukup banyak, potensi kerja sama dengan ponpes ini yang juga terus digarap. Banyak Ponpes yang potensial menjadi mitra BPR NTB, tapi karena tau BPR NTB belum syariah, akhirnya belum bisa terlaksana.

Baca Juga :  Transformasi Layanan Menuju BPR NTB Go Digital

“Kenapa juga kami belum bisa bekerja sama dengan Bank NTB Syariah, karena BPR NTB masih konvensional,” jelasnya.

Selain itu, potensi pasar yang sangat besar di NTB dengan populasi penduduk 90 persen muslim, BPR Syariah ingin menggarap potensi yang cukup besar ini terutama di pedesaan yang menjadi basis pembiayaan (kredit) BPR NTB. Di mana pangsa pasar dengan kredit Rp50 juta ke bawah, UMKM, sektor pertanian, perdagangan, dan jasa lainnya sangat besar di pedesaan. Sementara jangkauan kantor layanan BPR NTB itu ada di pelosok -pelosok pedesaan.

“Pangsa pasar yang cukup potensial bagi BPR NTB juga adalah untuk ibadah umrah. Dengan menjadi syariah, pembiayaan umrah lebih gampang dilakukan. BPR NTB saat ini tengah membuat konsep program khusus untuk umrah,” pungkasnya. (luk)

 

Komentar Anda