BPR Diimbau Minimalisir Risiko Kredit Bermasalah

Yanuar Alfan

MATARAM – Kondisi ekonomi lesu seiring dengan daya beli masyarakat yang kian anjlok berdampak langsung terhadap bisnis yang dilakoni Bank Perkreditan Rakyat (BPR).

Tak hanya penyaluran pembiayaan yang melambat, tapi juga berdampak terhadap rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) yang bertengger di dua digit. Ketua Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) Provinsi NTB, Yanuar Alfan mengatakan, kondisi ekonomi yang masih labil, memberi andil besar terhadap kinerja BPR yang ada di Provinsi NTB.

 ‘Pangsa pasar BPR itu di sektor riil yang ada di tengah masyarakat. Jadi sangat wajar kinerja BPR kurang bagus di semester I tahun 2017 ini karena ekonomi juga lagi lesu,” kata Yanuar Alfan, Selasa kemarin (18/7).

Menurut Yanuar, kondisi ekonomi dan daya beli masyakat di sektor riil belum begitu membanggakan di semester I ini hendaknya menjadi pertimbangan bagi BPR   untuk lebih hati-hati menyalurkan kreditnya kepada masyarakat. Artinya, tidak hanya mengejar target penyaluran kredit yang tinggi, tapi juga harus mengedepankan prinsip kehati-hatian. Dengan demikian, risiko kredit bermasalah bisa diantisipasi, terlebih lagi, untuk mengejar target penurunan rasio kredit bermasalah atau NPL di bawah 10 persen.

Selain itu, sambung Yanuar, manajemen BPR Syariah dan BPR  harus mulai menyusun strategi dan harus jeli menangkap peluang ke sektor mana yang masih cukup menjanjikan dan aman untuk penyaluran kredit/pembiayaan. “Teman –teman BPR harus ekstra hati-hati untuk meminimalisir resiko kredit bermasalah,” ujarnya.

Yanuar menambahkan, selain kondisi  sektor produktif yang menjadi portofolio mayoritas pembiayaan dari BPR di NTB masih kurang menggembirakan. Hal yang menjadi persoalan di tengah BPR adalah harga jual kredit yang disalurkan BPR kepada debiturnya juga masih relatif tinggi yang disebabkan cost of fund yang masih tinggi. Dimana rata-rata produk dana pihak ketiga (DPK) dari BPR 60 -70 persen itu didominasi dana mahal yaitu deposito dan pinjaman antar bank. Akibatnya, dana kredit yang disalurkan kepada debitur jauh kalah saing dengan bank umum yang sudah menerapkan  suku bunga kredit ke debiturnya lebih murah.  “Masalah lain juga adalah pangsa pasar BPR sekarang sudah dimasuki oleh bank umum yang membuat  BPR sulit begerak,” pungkasnya. (luk)