Bobol Bank NTB Syariah, Puspa Jadi Tersangka

Puspa Parhianti (Istimewa/radar Lombok)

MATARAM – Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda NTB telah menetapkan Puspa Parhianti selaku penyedia transaksi dalam negeri (TDN) sebagai tersangka, atas kasus pembobolan dana bank pada Bank NTB Syariah. “Kita sudah menetapkan tersangka. Kita sudah gelar perkara minggu lalu,” ujar Kasubdit II Ditreskrimsus Polda NTB AKBP I Komang Satra saat di ruang kerjanya, Rabu (30/3).

Tindak lanjut yang sudah dilakukan ialah penyitaan terhadap barang bukti, berupa dokumen dari bank yang terkait.  Ke depannya, tersangka akan dipanggil untuk diperiksa sebagai tersangka, namum penjadwalan secara pasti belum bisa disebutkan. “Minggu depan pemanggilan tersangkanya, tapi tergantung dari penyidiknya lagi,” katanya.

BACA JUGA :  Tersangka Pembobolan Bank NTB Belum Ditahan, Berkas Dilimpahkan ke JPU

Disebutkan, saksi ahli dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah didapati. Untuk pemberkasan sendiri segera dilayangkan ke Jaksa Penuntut Umum (JPU), setelah tersangka diperiksa. Puspa Parhianti dilaporkan karena melakukan pembobolan dana bank. Dari hasil audit yang dilakukan, terjadi perbedaan kerugian negara yang ditemukan. Berdasarkan hasil audit eksternal, ditemukan kerugian negara sebesar Rp 11 miliar lebih. Sedangkan hasil audit internal ditemukan kerugian negara sebesar Rp 12 miliar lebih.

Adapun hasil yang akan digunakan ke depannya adalah hasil audit internal karena lebih lengkap dan disertakan juga dengan bukti-bukti yang ada. “Kita tetap akan menggunakan hasil audit internal ini,” imbuhnya.

BACA JUGA :  Tersangka Pembobol Bank NTB Syariah Segera Diperiksa

Aksi pembobolan diduga kuat dilakukan Puspa Parhianti dalam kurun waktu antara tahun 2012 hingga tahun 2020. Total dana nasabah yang diduga dibobol Puspa Parhianti ini sekitar 404 nasabah. Aksi Puspa Parhianti itu baru terbongkar setelah ia dimutasi dari jabatannya. Namun, Puspa Parhianti masih enggan pindah ke tempat kerja barunya. Sementara di sisi lain, pegawai pengganti Puspa Parhianti menemukan banyak kejanggalan dalam pembukuan selama kurun waktu delapan tahun. Semua kejanggalan itu ditemukan sejak P duduk di kursi posnya selama ini. (cr-sid)