BMKG Gelar Sekolah Lapang Iklim

SEKOLAH LAPANG: Meningkatkan kemampuan para petani dalam membaca iklim yang pada akhirnya dapat mengetahui musim tanam yang tepat, BMKG menggelar sekolah lapang iklim di Kota Raja, Lotim, Senin (10/4) ( IRWAN/RADAR LOMBOK)

SELONG—Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) menggelar Sekolah Lapang Iklim 3 untuk masyarakat, berlokasi di Desa Kotaraja, Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur (Lotim).

Kepala Pusat BMKG, Maman Sudarisman, menyampaikan bahwa kegiatan ini  sangat bermanfaat untuk masyarakat di Lotim, terutama untuk masyarakat Kecamatan Sikur. Pasalnya, petani akan menguasai perubahan iklim yang terjadi didaerahnya, sehingga mengetahui waktu yang tepat untuk aktifitas menanam.

“Intinya BMKG akan memberikan informasi tentang iklim dan cuaca yang dibutuhkan oleh para petani, maupun pemerintah daerah. Karena itu diharapkan masyarakat mengikuti kegiatan dengan baik,” harap Maman, Senin (10/4).

[postingan number=3 tag=”bmkg”]

Dikatakan, saat ini BMKG juga sudah melaksanakn kerjasama dengan semua  pihak, terutama dengan pemerintah daerah ,yaitu Dinas Pertanian, bahkan TNI  dan Polri, dalam memberikan informasi tentang iklim yag terjadi di wilayah Lombok Timur.

Hal ini dilakukan agar masyarakat mengetahui iklim yang sedang terjadi. “Dengan adanya sekolah ini, kita berharap peserta aktif selama kegiatan berlangsung,” harapnya.

Sementara Asisten I Bidang Pemerintahan Setda Kabupaten Lombok Timur, H. Moh. Juani Taufik, mengatakan Kabupaten Lombok Timur sesungguhnya memiliki keragaman agroekosistem yang merupakan potensi dan peluang yang sangat besar untuk pengembangan berbagai komoditas unggulan pertanian. Baik  tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan juga peternakan.

Kabupaten Lombok Timur dengan dataran tingginya seperti Sembalun, yang memiliki geografis dan iklim spesifik untuk pengembangan berbagai komoditas hortikultura, terutama sayuran dan buah-buahan. ”Demikian juga di dataran tengah dan selatan Lotim, sangat potensial untuk pengembangan tanaman  pangan, khususnya padi, jagung dan kedelai,” terangnya.

Disampaikan, tahun 2010 produksi padi tercatat sebanyak 300.011 ton,  kemudian meningkat menjadi 354.692 ton pada tahun 2014. Berikutnya pada tahun 2015 dengan adanya upaya khusus (UPSUS), ketiga komoditas tersebut juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan, dimana untuk padi meningkat menjadi 436.796 ton atau 23,14  persen. Sedangkan jagung dari 82.971 ton tahun 2014, menjadi  122.108 ton atau 35,12 persen  tahun 2015.

“Meskipun kedelai  bukan termasuk komoditas unggulan di  Lotim, namun  dukungan Pemda terhadap program prioritas Nasional ini juga cukup tinggi. Sehingga mengalami peningkatan dari 1.671 ton pada tahun 2014 menjadi 5.810 ton pada tahun 2015 atau 247,6 persen,” akunya.

Sementara itu, dengan adanya sekolah lapang, ini masyarakat diharapkan mampu membuat perencanaan pertanian, berdasarkan informasi iklim yang diperoleh untuk meningkatkan produktifitas pertanian.

Selain itu, petani dapat melakukan antisipasi perubahan iklim dengan memanfaatkan informasi iklim teknologi budidaya, serta menerapkan pengendalian hama terpadu utk meminimalisir dampak perubahan iklim.

Tak hanya itu, dengan adanya sekolah ini, masyarakat atau peserta dapat  Memahami  pengaruh iklim terhadap tanaman dan menjadi wahana untuk menyesuaikan produk informasi iklim dengan kebutuhan penggunanya, dan memanfaatkan informasi iklim secara efektif dalam mendukung pertanian.

“Sekali lagi saya berharap agar kegiatan sekolah lapang iklim ini berjalan dengan baik, dan medapatkn ridho Allah  SWT,” pungkasnya. (cr-wan)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid