Biaya Umrah Naik Jadi Rp 38 Juta

IBADAH UMRAH : Kantor Kemenag Kota Mataram banyak menerima konsultasi tentang pelaksanaan ibadah umrah yang kembali dibuka. (Ali/Radar Lombok)

MATARAM — Pemerintah kembali memberangkatkan jamaah untuk melaksanakan ibadah umrah ke tanah suci Makkah. Tapi karena pelaksanaannya masih di tengah pandemi Covid-19 yang belum berakhir. Berimbas pada biaya pelaksanaan ibadah umrah yang meningkat cukup drastis. Jamaah harus menguras kocek lebih dalam untuk melaksanakan umrah saat ini. Karena sebelum pandemi Covid-19, biaya pelaksanaan ibadah umrah sebesar Rp 25 juta. Tapi kini melonjak menjadi Rp 38 juta.

“Sebelum pandemi biaya umrah itu Rp 25 juta. Sekarang setelah pandemi meningkat menjadi Rp 35 juta sampai Rp 38 juta,’’ ujar Kepala Seksi Haji dan Umrah Kementerian Agama (Kemenag) Kota Mataram H Kasmi di Mataram, Senin (10/1).

Meningkatnya biaya umrah ini karena jamaah harus melaksanakan sejumlah protokol kesehatan. Seperti untuk tes PCR dan biaya melaksanakan karantina. Karena biaya makan dan minum selama karantina itu jadi tambahan biaya. Itu termasuk yang dibayarkan jamaah.

“Jadi itu sebabnya biaya umrah jadi naik saat pandemi sekarang ini,” katanya.

Sebelumnya, pada Sabtu 8 Januari lalu, tahap pertama pemberangkatan umrah sudah dilaksanakan pemerintah. Jumlah yang diberangkatkan di tahap pertama sebanyak 419 jamaah.  Namun keberangkatan tahap pertama itu, dipastikan tidak ada jamaah dari NTB. Jamaah yang diberangkatkan ini berasal dari Jakarta, Batam dan Kalimantan oleh salah satu perusahaan travel.

BACA JUGA :  Target Merger BPR NTB Berpeluang Molor Lagi

“Belum ada jamaah asal NTB yang diberangkatkan di tahap pertama,” ungkapnya.

Kemudian ditahap selanjutnya, pemberangkatan jamaah umrah dilaksanakan 16 Januari mendatang oleh perusahaan travel yang sama. Di rombongan ini, diikuti oleh sembilan orang jamaah asal NTB. Dilanjutkan dengan keberangkatan di tanggal 19 Februari 2022, itu ada 90 orang jamaah NTB ikut.

  Kasmi menambahkan, ibadah umrah yang kembali dibuka disambut gembira oleh perusahaan travel. Soal belum adanya jamaah asal NTB yang diberangkatkan di tahap pertama karena beberapa pertimbangan. Salah satunya karena perusahaan travel banyak yang belum siap untuk memberangkatkan jamaah. Terutama tentang persyaratan jamaah yang berangkat minimal dua kali sudah menerima suntikan vaksin Covid-19. Dia memastikan, perusahaan travel lainnya akan menyusul memberangkatkan jamaah.

BACA JUGA :  16 Kecamatan di Lotim Dinyatakan Bebas Covid-19

“Yang kemarin banyak perusahaan travel yang belum siap. Selanjutnya banyak yang akan menyusul memberangkatkan jamaah,” jelasnya.

Aturan lainnya untuk pemberangkatan jamaah umrah di masa pandemi. Seluruh keberangkatan dipusatkan melalui Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta. Sebelum berangkat, jamaah juga harus mengikuti karantina terlebih dahulu maksimal 5 hari di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta. Jadi seluruh keberangkatkan dipusatkan di satu pintu, yaitu dari Bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta dan harus ikut karantina sebelum diberangkatkan. Karena jamaah harus mengikuti karantina. Berimbas juga pada masa pemberangkatan jamaah yang bertambah.

“Keberangkatan sekarang bisa lebih lama dari biasanya. Minimal di atas 15 hari. Soalnya kan banyak waktu lebih banyak di perjalanan. Itu bedanya pelaksanaan ibadah umrah yang sekarang,” pungkasnya.

Kepala Kemenag Kota Mataram H Muhammad Amin mengatakan untuk pelaksanaan keberangkatan ibadah umrah kembali dibuka pemerintah.

“Sudah dibuka lagi sekarang. Nanti akan ada jamaah yang dari Lombok,” katanya. (gal)