Biaya Mahal, Anak Nelayan Ampenan Terpaksa Putus Sekolah

Biaya Mahal, Anak Nelayan Ampenan Terpaksa Putus Sekolah
Sejumlah anak nelayan di pesisir pantai Ampenan, ikut turun melaut untuk menangkap ikan dan terpaksa harus tidak melanjutkan pendidikan dasar, karena persoalan biaya sekolah yang mahal. (YUNI/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Nasib pendidikan anak-anak usia sekolah di kawasan pesisir pantai Ampenan minim mendapatkan perhatian dari Pemerintah Kota Mataram. Akibatnya, tak sedikit anak usia pendidikan dasar drop out bahkan tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP. Salah satu penyebab utamanya adalah, biaya pendidikan dirasa sangat mahal yang harus ditanggung oleh masyarakat nelayan hidup pas-pasan.

Keterbatasan ekonomi dan hidup pasa-pasan, membuat para nelayan di kawasan pesisir Pantai Ampenan tidak bisa berbuat banyak untuk memperjuangkan anak mereka melanjutkan pendidikannya, meski hanya sebatas sampai jenjang pendidikan dasar SD dan SMP.

“Saya sering nonton di TV katanya wajib sekolah 9 tahun, tapi biaya pendaftaran, pembelian seragam hingga buku saja sudah hampir Rp2 juta” tutur Faisal, salah seorang nelayan di pantai Ampenan.

Menurut Faisal, semua orang tua pastinya ingin melihat anaknya untuk tetap melanjutkan sekolah lebih tinggi. Terlebih lagi dengan adanya semboyan yang selalu digaungkan oleh pemerintah, bahwa adanya peraturan untuk anak Indonesia wajib belajar 9 tahun, namun upaya pemerintah untuk merealisasikan hal tersebut tidak maksimal. Padahal di Kota Mataram saja ada program digembar-gemborkan wajib belajar 12 tahun, yang berarti dari SD hingga SMA.