BI Proyeksi Triwulan IV Ekonomi NTB Tumbuh Positif

USAHA MIKRO : Beberapa produk UKM yang tengah mengikuti pameran beberapa waktu lalu. (DEVI HANDAYANI /RADAR LOMBOK )

MATARAM – Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi NTB Heru Saptaji menilai pertumbuhan ekonomi NTB sudah mengarah ke kondisi yang lebih baik dari sebelumnya. Meskipun ekonomi secara nasional terjadi resesi dan triwulan III ekonomi NTB minus 1,11 persen.

‘Meski pertumbuhan ekonomi NTB minus 1,11 persen di triwulan III, namun masih ada optimisme ekonomi akan terus tumbuh positif,” kata Heru Saptaji, kepada Radar Lombok, Jumat (6/11).

Heru menerangkan, melihat kondisi sulit saat ini dialami oleh semua daerah, untuk di NTB jika dilihat dengan y on y mengalami ekonomi minus 1,11 persen dari sebelumnya di 2019 minus 1,40 persen. Justru ekonomi NTB pada triwulan III tumbuh 0,13 persen secara q to q. Hal ini menujukkan jika ada optimisme NTB tidak berdampak pada resesi.

“Memang mengalami kontraksi, kalau kita lihat dari prespektif optimisme yang bisa dikatakan secara y on y itu mengecil kontraksinya. Kita bisa melihat secara q to q tumbuh positif,” ujar Heru.

Menurutnya, melihat terjadinya pertumbuhan ini adalah kondisi ditengah tantangan pandemi Covid-19. Secara arah sudah reborn yang mencerminkan bagaimana aktivitas ekonomi mulai bergerak kembali, walaupun tidak seperti kondisi sebelumnya di 2019 lalu.  Karena kondisi di 2019 itu pandemi Covid-19 belum terjadi. Kalau melihat arahnya ini sudah menuju yang baik. Secara triwulan II ke triwulan III di NTB ini mulai bergerak.

Disampaikan Heru, ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya pertumbuhan ekonomi NTB di triwulan III. Salah satunya paling utama di NTB dilihat dari ekspor yang relatif tinggi mencapai 44,63 persen. Bahkan jika lihat lebih dalam lagi eskpor di sektor pertambangan tumbuh 40,32 persen. Kemudian sektor yang menahannya adalah belanja pemerintah.

“Belanja pemerintah kalau APBN relatif juga kisarannya sudah cukup tinggi diangka 60-70 persen. Namun tantangannya memang nanti kita akan lihat di triwulan IV untuk realisasi belanja pemerintah daerah ini yang bersumber dari APBD. Ya memang kalau kita cermati masih dikisaran 50-60 persen,” sebutnya.

Lebih lanjut, dikatakan Heru, ruang untuk melakukan ekspansi belanja pemerintah daerah yang bersumber dari APBD tersebut masih cukup besar. Sehingga di triwulan IV itu kondisinya bisa semakin membaik. Apalagi dari sisi permintaan, terutama pada sektor akomodasi makan minuman tumbuhnya cukup tinggi.

Akomodasi makan minuman itu tumbuh pada kisaran 72,08 persen (q to q). Kita bisa melihat bahwa akomodasi makan mimunan inline dengan kondisi ekonomi daerah lokal. Di mana masyarakat biasanya sudah spending di pariwisata.

Selain itu, peranan industri olahan juga berperan penting dalam pertumbuhan ekonomi yakni sebesar 41,7 persen. Dengan kondisi ini, prospek triwulan IV mendatang dengan modal dasar di triwulan III. Di mana aktifitas ekonomi bergerak dan kemungkinan akan terus membaik. 

Sebelumnya, Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah menerangkan, resesi ekonomi ini terjadi karena menurunnya produktivitas perekenomian negara maupun daerah. Sehingga proritas NTB tentunya menjaga agar produktivitas masyarakat  terjaga dan cepat pulih kembali seperti sebelum Covid. Selama 2020 pemerintah daearah telah berupaya menggerakkan UMKM melalui pengembangan industrialisasi dan pemberian bantuan stimulan.

“Upaya pemulihan ini akan terus berlanjut pada tahun 2021. APBD kita akan berupaya melakukan stimulus agar produktivitas masyarakat berkembang progresif,” ujarnya. (dev)