BI NTB Tanam Perdana Bawang Putih di Sembalun

BI NTB Tanam Perdana Bawang Putih di Sembalun
BAWANG PUTIH: Kepala Perwakilan BI NTB, Prijono bersama Deputi Kepala Perwakilan BI NTB, Wahyu Yuana Hidayat, dan lainnya, saat penanaman perdana bawang putih di Sembalun, Ahad (7/5). (LUKMAN HAKIM/RADAR LOMBOK)

SELONG—Tanaman bawang putih belasan tahun silam sempat membawa nama harum Sembalun di kancah nasional. Dengan bawang putih, Sembalun dikenal sebagai sentra bawang putih dengan kualitas terbaik.

Namun belakangan ini, kejayaan bawang putih Sembalun, Lombok Timur tersebut mulai hilang begitu saja, karena produktifitas menurun, serta kualitas yang jauh dari harapan.

Kini, harapan akan kembalinya kejayaan bawang putih Sembalun, Lombok Timur mulai merekah. Itu setelah Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi NTB memberikan perhatian terhadap kebangkitan kejayaan bawang putih Sembalun, melalui pengembangan klaster benih bawang putih dengan pendekatan murni pupuk organik.

Kepala Perwakilan BI NTB, Prijono, Ahad kemarin (7/5) melakukan penanaman perdana klaster perbenihan bawang putih dengan pendekatan organik murni. Hadir pada penanaman perdana klaster perbenihan bawang putih, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Timur, Muhammad Zaini, Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi NTB, Wahyu Yuana Hidayat, Pimpinan Sub Divisi Kredit Produktif Bank NTB, Ika Ranti, dan Kepala Cabang Bank NTB Selong, Muhammad Zaini.

Program pengembangan bawang putih Sembalun tersebut, Bank Indonesia Provinsi NTB menggandeng ahli pertanian dari Universitas Gajah Mada (UGM) yang lebih fokus dalam pendekatan organik secara utuh. Demplot untuk klaster pembenihan bawang putih organik tersebut diatas lahan seluas 1,1 hektar dengan melibatkan kelompok tani Makem yang beranggotakan 20 orang.

Prijono menegaskan, jika pihaknya berkomitmen untuk mengembalikan masa -masa kejayaan bawang putih dengan menggelontorkan anggaran untuk sentra perbenihan bawang putih dengan kualias terbaik dengan pendekatan teknologi murni organik.

“Kami masuk di kelompok tani yang memiliki komitmen tinggi untuk membuat kluster tanaman bawan putih. BI dan petani memiliki cita cita yakni menjadi penghasil bawang putih yang halal dan toyibah di dunia dari sembalun. Untuk menukseskan ini, petani harus menjalankan komitmen bersama untuk mensukseskan demplot sentra benih bawang putih ini,” kata Prijono. 

Prijono mengatakan, tingkat konsumsi bawang putih masyarakat di Indonesia  cukup tinggi, sebesar 400 ribu ton per tahun. Tingginya jumlah konsumsi bawang putih di Indonesia tersebut tidak diimbangi dengan kapasitas produksi yang mencukupi. Data produksi bawang putih nasional pada tahun 2015 tercatat hanya sebesar 20 ribu ton/tahun, atau setara dengan 5 persen dari total kebutuhan konsumsi. Hal tersebut akhirnya berdampak pada tingginya impor bawang putih untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. “Dalam jangka panjang, impor bawang putih yang tinggi tersebut berisiko memberikan tekanan kepada nilai tukar rupiah,” ujar Prijono.

Melihat hal tersebut, Kantor Perwakilan BI NTB berinisiatif untuk membangkitkan kembali kejayaan bawang putih nasional, dengan daerah Sembalun menjadi ujung tombak peningkatan produksi bawang putih.

Provinsi NTB, khususnya daerah Sembalun, berpotensi menjadi sentra produksi bawang putih nasional mengingat 48 persen  bawang putih nasional disumbang oleh Provinsi NTB.

Tim pendamping Kelompok Tani Makem Sembalun dari UGM, Samuji mengatakan, kondisi unsur hara tanah di Sembalun cukup kritis akibat dari pemupukan kimia yang berlebihan sejak puluhan tahun silam. Dimana dari hasil uji unsur hara tanah, membutikan fakta yang cukup tragis, yakni unsur hara tanah di Sembalun  hanya 300 persen, sementara seharusnya unsur hara tanah yang bisa dianggap produktif dan bagus itu adalah minimal 2300 persen.

Karena itu, untuk mengembailkan unsur hara yang sudah terlanjur rusak, akibat pemupukan kimia yang berlebihan, dilakukan sentuhan melalui mikroba yang bersumber dari berbagai bahan alam yang sudah terdapat di sekitar kehidupan masyarakat di Sembalun. Mulai dari kotoran sapi, ayam, urine, dan berbagai tanaman yang terdapat di sekitar wilayah Sembalun. Berbagai bahan tersebut kemudian diolah dan di fermentasi, baru digunakan di tanah untuk diolah sebelum dilakukan penanaman.

Untuk merubah residu kimia yang sudah puluhan tahun tersebut, maka digunakan mikroba untuk pemuliaan tanah. Pemuliaan tanah hanya bisa dilakukan melalui  mikro pemuliaan tanah. Mikroba bisa dikolaborasikan dengan etanol, gas metan dan NPK.

Tim dari UGM telah memberikan pelatihan kepada kelompok tani untuk pengolahan pupuk organik dan pendekatan lainnya pada Februari 2017. Baru sekarang penanaman dilakukan. Untuk mensukseskan klaster tanaman bawang putiih tersebut, petani harus mecintai apa yang mereka tanam, dan merawatnya sesuai dengan cara yang sudah ditetapkan.

Selain itu, peran dari Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) juga sangat penting pendampingan kepada petani. “Kami berharap PPL tidak hanya fokus mengurus SPJ saja, tapi turun langsung ke lapangan di petani,” ujarnya.

Sedangkan Ketua Kelompok Tani Makem, H. Khaerul menyebut luas areal lahan demplot kluster bawang putih sebanyak 1 hektar 10 are. Dengan melibatkan 20 orang anggota yang masuk dalam kelompok tani Makem.

“Benih bawang putih yang di tanam ini murni dari bawang putih kelas terbaik yang berasal dari Sembalun. Kami berharap penanaman benih bawang putih dengan pendekatan organik ini akan membawa kejayaan bawang putih Sembalun,” harapnya. (luk)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid