BI NTB Siapkan Rp 2,34 Triliun untuk Kebutuhan Lebaran

PENUKARAN : Layanan penukaran uang kertas pecahan kecil oleh mobil keliling Bank NTB Syariah.( IST/ RADAR LOMBOK)

MATARAM – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi NTB memprediksi kebutuhan uang rupiah selama bulan Ramadan sampai lebaran Idul Fitri 1442 Hijrah meningkat 15 persen dengan nilai Rp 2,34 triliun, lebih besar dari kebutuhan tahun 2020 sebesar Rp 2,04 triliun.

Kepala Perwakilan BI NTB Heru Saptaji mengatakan, kebutuhan uang selama Ramadan terdiri dari Uang Pecahan Besar (UPB) sebesar Rp 2,19 triliun dan Uang Pecahan Kecil (UPK) sebesar Rp 0,15 triliun untuk diedarkan di tengah masyarakat selama Ramadan.

“Kami sudah menyiapkan kebutuhan uang tunai masyarakat sebesar Rp 2,54 triliun dengan memperhatikan berbagai asumsi makro ekonomi terkini dan kondisi terkait penyebaran pandemi Covid-19,” ujar Heru Saptaji, Jumat (23/4).

BACA JUGA :  Fatigon Bersama BOTOC Berbagi Takjil

Kebutuhan uang kartal periode Ramadan dan lebaran tahun ini diproyeksi meningkat. Lantaran kondisi ekonomi saat ini mulai menggeliat, terutama apabila dibandingkan dengan tahun lalu yang menerapkan pembatasan secara besar.Dalam rangka memenuhi kebutuhan rupiah di masyarakat, BI bersinergi dengan perbankan yang ada di wilayah NTB.

“Untuk memberikan layanan penukaran kepada masyarakat melalui seluruh kantor cabang bank yang tersebar di seluruh wilayah NTB,” tuturnya.

Kondisi ekonomi saat ini sudah mulai pulih, terlebih di harapkan daya beli masyarakat meningkat kembali. Kendati demikian, dalam melaksanakan kegiatan aktivitas ekonomi, khususnya selama Ramadhan dan Idul Fitri 1442H masyarakat untuk selalu tertib dan mematuhi protokol pencegahan Covid-19 yang berlaku, antara lain, menggunakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.

BACA JUGA :  OJK dan Industri Jasa Keuangan Bantu Korban Bencana di Bima

Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk tidak melakukan penukaran uang melalui jasa penukaran uang tidak resmi atau perantara lainnya. Mengingat terdapat risiko, antara lain tidak ada jaminan ketepatan jumlah uang yang ditukar, kemungkinan menerima uang palsu, serta adanya pungutan biaya.

“Berhati-hati dalam melakukan transaksi tunai. Teliti uang Rupiah yang diterima dengan teknik 3D, yaitu dilihat, diraba, dan diterawang,” imbuhnya. (dev)