BI Bantu Petani Kembangkan Konsep Pertanian Terpadu

PUPUK ORGANIK: Kantor Perwakilan BI Provinsi NTB melatih petani dan peternak dari kaum perempuan untuk memanfaatkan limbah kotoran sapi sebagai pupuk organik dalam program penerapan konsep pertanian terpadu. (LUKMAN HAKIM/RADAR LOMBOK)

MATARAM–Peran sektor pertanian dalam menopang perekonomian di Provinsi NTB sangat besar. Hanya saja, selama ini dukungan lembaga perbankan terhadap sektor pertanian di Provinsi NTB masih minim. Padahal, pangsa sektor pertanian terhadap total PDRB NTB di tahun 2016 mencapai lebih dari 21 persen. bahkan sektor pertanian menjadi penopang stabilitas harga, mengingat inflasi di Provinsi NTB masih cukup diwarnai oleh gejolak harga pangan.

Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi NTB melihat penanganan sektor pertanian masih belum tergarap secara optimal untuk memberi nilai tambah bagi para petani. oleh karena itu, Bank Indonesia Provinsi NTB menggandeng Balai Pengembangan Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi NTB dan Petugas Penyuluh Lapangan (PP) untuk menerapkan konsep pertanian terpadu dan terintegrasi.

“Kami di BI NTB berinisiatif mengembangkan konsep pertanian terpadu untuk memberi nilai tambah bagi petani,” kata Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi NTB,Wahyu Yuana Hidayat, Rabu kemarin (15/2).

[postingan number=3 tag=”petani”]

Dikatakan, sektor pertanian menjadi penopang stabilitas harga, mengingat inflasi di NTB masih diwarnai oleh gejolak harga pangan. Peran sektor pertanian yang begitu penting dalam perekonomian di Provinsi NTB, membuat BI NTB tergerak ikut turun secara aktip membantu Pemprov NTB membangun sektor pertanian yang semakin kuat dan memiliki nilai tambah dalam mendorong perekonomian petani menjadi lebih baik lagi.

Baca Juga :  Wabup Dorong Bulog Serap Gabah Petani

Salah satunya adalah mendorong sektor pertanian di NTB untuk terus maju, melalui program pengembangan konsep pertanian yang terintegrasi, khususnya antara sub sektor pertanian dan peternakan.

“Untuk konsep pertanian terpadu ini, kami sudah melakukan sosialisasi kepada PPL dan petani di sejumlah daerah. Nantinya akan ada ‘demplot’ untuk pengembangan konsep pertanian terpadu ini,” jelas Wahyu.

Sementara itu, Manager Pelaksanaan dan Pengembangan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) Kantor Perwakilan BI Provinsi NTB, Ni Nyoman Sariani mengatakan, pelaksanaan sosialisasi kepada PPL dan petani tersebut diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam memahami konsep pertanian terpadu. Sehingga petani dan peternak dapat mengoptimalkan pemenuhan kebutuhan pakan dan pupuk yang berasal dari daerahnya sendiri.

“Pentingnya sistem pertanian dengan cara organik, selain karena ramah lingkungan, sistem tersebut dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil pertanian,” kata Nyoman.

Baca Juga :  Inginkan Petani NTB Seperti di Selandia Baru

Menurut Nyoman, sosialisasi kepada PPL dan petani ini bertujuan agar mereka memahami pentingnya sistem pertanian terpadu yang diintegrasikan dengan sektor peternakan. Contoh sederhana bentuk integrasi dimaksud adalah bagaimana kotoran dan ‘urine’ dari ternak sapi dapat dimanfaatkan menjadi pupuk untuk pertanian.

Sementara itu hasil pertanian yang tidak termanfaatkan dapat diolah kembali menjadi bahan pakan ternak. “Konsep pertanian terpadu ini untuk Sumbawa akan dikembangkan di Desa Batu Kering dengan luas lahan uji coba 10 are,” sebut Nyoman.

Untuk di Kabupaten Sumbawa tepatnya di Desa Batu Kering, BI Provinsi NTB akan menjadikan demplot seluas 10 are untuk kandang komunal sapi yang diintegrasikan dengan pengembangan tanaman horti dengan memanfaatkan kotoran sapi dan urine dari peternakan sapi tersebut. Dengan demikian, pertanian  terpadu yang diintegrasikan untuk tanaman horti dengan cara total organik.

“Kami juga mendatangkan pendamping bagi petani dalam mengolah limbah ternak sapi itu menjadi pupuk organik dan juga cara pemakaiannya. Sehingga limbah kotoran ternak tersebut betul-betul bisa dimanfaatkan untuk memberi nilai tambah bagi petani,” tutupnya. (luk)