BERKUNJUNG KE MASJID KUNO KARANG BAYAN

Masjid Kuno Karang Bayan, merupakan salah satu obyek bersejarah bagi masyarakat Desa Karang Bayan, Kecamatan Lingsar. Bukti peninggalan itu, saat ini menjadi obyek wisata reliji, namun sayang di lokasi masih minim fasilitas penunjang.

______________________________

HERY MAHARDIKA – GIRI MENANG

______________________________

SEKIAN kali berkunjung ke Masjid Kuno Karang Bayan, ternyata tak membuat para pengunjung merasa bosan. Setiap hari, para pengunjung yang berasal dari dalam negeri maupun mancanegara pasti ada saja yang berkunjung ke obyek bukti peninggalan sejarah syiar Islam yang masih unik, dan khas tradisional Sasak tersebut.

Untuk mencari lokasi obyek ini, pengunjung baru mungkin agak sedikit kesulitan, karena sejumlah arus jalan menuju ke obyek tidak ada satupun plang penunjuk arah, kecuali pengunjung harus turun dari kendaraan bertanya ke masyarakat sekitar.

Dari Kota Mataram, pengunjung bisa berkendara sekitar 20 menit tiba di lokasi. Tapi ingat, bagi pengunjung yang menggunakan mobil atau bus harus pelan-pelan, karena jalannya masih sempit, disertai banyak belokan.

Namun sepanjang jalan, pengunjung akan disambut dengan udara masih segar yang berasal dari areal pertanian, maupun perkebunan di sepanjang obyek tersebut. “Disini memang kita harus hati-hati, apalagi pengemudi mobil. Karena jalannya masih ukuran kecil. Kalau ada dua mobil berpapasan, salah satu kendaraan harus diam dulu,” kata Sahnan (40), salah warga Desa Batu Mekar kepada Radar Lombok, Minggu (31/7).

Desa Karang Bayang memang tidak setenar dengan Desa wisata lainnya. Namun ternyata mampu menawarkan keindahan alam dan kehidupan tradisional, apalagi pada musim buah-buahan, pengunjung akan disambut dengan berbagai macam buah-buahan, terutama durian. “Paling enak disini berkunjung pada musim buah-buahan,” kata Rahman (35) salah satu warga Desa Karang Bayan.

Diakui, memang saat ini pengunjung ada saja yang datang. Namun tak seramai pada saat musim buah-buahan, biasanya pada awal tahun. Makanya pengunjung saat ini hanya bisa disambut dengan tempat bersejarah saja.

Kembali melanjutkan perjalan ke masjid kuno, mempermudah menemukan lokasi ini pengunjung bisa mempertanyakan SD Karang Bayan, kemudian belok kiri disambut dengan jalan rusak. Bagi anda yang menggunakan mobil dan motor bisa parkir dibawah, dijamin kendaraan anda akan aman. Baru kemudian pengunjung masuk lagi ke gang kecil menelusuri rumah-rumah warga.

Sayangnya, kini rumah-rumah warga telah menggunakan batu-bata, hanya tersisa empat rumah saja yang masih tradisional. Setelah berjalan sekitar 100 meter, pengunjung tiba di lokasi. Memang dilokasi sangat disayangkan masih minim fasilitas umum seperti papan seputar sejarah peninggalan masjid kuno, kemudian masih sulit informasi bagaimana sejarah perjalanan secara detail, dan bukti-butki peninggalan lainnya masih dirahasiakan oleh tokoh setempat.

Tiba dilokasi, pengunjung bisa langsung bertemu dengan juru kunci (marbot) Masjid Kuno Karang Bayan, Nuarsah (60). Secara historis, Karang Bayan merupakan salah satu daerah yang dijajah oleh Karang Asem Raya. Hal ini juga dikenal sebagai salah satu daerah percaya Islam Waktu Telu.

Menurut sesepuh di desa ini, mereka percaya bahwa nenek moyang mereka berasal dari Bayan, salah satu kecamatan di bagian utara Lombok yang merupakan pusat kepercayaan Islam Waktu Telu. Asumsi ini diperkuat dengan dialek Sasak yang sama digunakan antara masyarakat Karang Bayan dan Bayan. Selain juga kemiripan nama desa, dan kemiripan bentuk bangunan bersejarah yang masih berdiri di tengah-tengah desa.

Ada 4 bangunan tradisional tetap yaitu Bale Adat, Sekenem, Bangaran dan Masjid. Di masa lampau, Bale Adat digunakan sebagai tempat berkumpul, di mana penduduk desa diskusi kegiatan sosial mereka. Sekarang tempat ini dihuni oleh generasi ke-5 dari kepala desa.

Kemudian Bale Adat hanya terdiri dari satu ruangan dan teras. Di depan rumah ini, ada Sekenem. Sekenem adalah ruang tamu. Dalam sekenem, ada berugaq dimana tamu bisa beristirahat. Sementara dibalik Bale Adat berdiri Bangaran. Bangaran adalah monumen yang melambangkan batu pertama diletakkan ketika pertama kali nenek moyang masyarakat Karang Bayan membangun desa ini.

Bangaran berasal dari kata “Bangar”, berarti untuk melakukan deforestasi. Hanya beberapa langkah ke selatan dari Bale Adat, masjid sepi masih berdiri dan dilingkari oleh pagar bambu tersebut. Arsitektur ini paling mirip dengan Masjid Beleq di Bayan, Lombok Utara. Di depan masjid, ada sisa bangunan. Itu adalah dapur yang digunakan sebagai tempat persiapan sebelum memasuki masjid. “Semua bukti peninggalan ini tidak boleh dirubah, hanya bisa ditambah mana yang mengalami kerusakan. Kalau bentuk tidak boleh,” tegasnya.

Menurut kepercayaan sesepuh setempat, masjid kuno Karang Bayan dengan areal seluas 4 are bisa menampung sebanyak-banyaknya orang. Dari struktur bangunan panjang masjid 7 meter dan lebar 6 meter. Temboknya pakai bambu yang dianyam, atap pakai ijuk.

Untuk menghidupkan tempat ini, para sesepuh telah sepakat mengajarkan anak-anak mengaji Al Quran selesai magrib. “Kesepakatan ini telah berlangsung 1,5 tahun, mereka diajarkan selesai magrib,” tandasnya.

Terpisah, Camat Lingsar, Rusditah menyampaikan, pada tahun ini Kementerian Pekerjaan Umum melalui Dinas PU Provinsi NTB akan membuka jalur sepanjang obyek wisata mulai dari Batu Mekar dengan menyasar air terjun Tete Batu (himpunan). Pengerjaan akan tembus ke Karang Bayang, selanjutnya menyasar lokasi kerajinan ketak di Batu Mekar. “Nantinya akan ada jalur untuk jalan kaki, sepeda, dan sepeda motor. Panjang sekitar 2 kilometer, sedangkan jumlah anggarannya belum tahu,” jelasnya.

Fasilitas penunjang dilokasi itu bisa diusulkan lewat pemerintahan desa, mengingat besarnya anggaran desa. Begitu juga jalan masuk ke lokasi masjid tersebut. “Kalau bale adat saat ini tengah diperbaiki mana yang rusak itu. Kedepan obyek wisata di Kecamatan Lingsar akan terus dikembangkan,” pungkasnya. (flo)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid