Berkunjung ke Tanjung Nyet Desa Labuhan Tereng

Pintu Masuk Internasional yang Butuh Sentuhan

Tanjung Nyet
INDAH : Pemandangan di Destinasi Wisata Tanjung Nyet Desa Labuhan Tereng Kecamatan Lembar Lombok Barat. (ZUL/RADARLOMBOK)

Berbicara mengenai wisata bahari, Kecamatan Lembar merupakan satu di antara sepuluh kecamatan di Lombok Barat yang memiliki potensi wisata bahari. Namun beberapa destinasi yang memiliki potensi sangat bagus belum tergarap maksimal. Di antaranya Tanjung Nyet di Desa Labuhan Tereng.


ZULKIFLI-GIRI MENANG


Tanjung Nyet berada di jalur bawah menuju Kecamatan Sekotong. Tepat di pinggir jalan raya yang berada di tepi laut itu, tersedia lahan yang cukup untuk wisatawan bisa memarkir kendaraan mereka. Sekaligus memberikan ruang bagi pedagang berjualan.

Di Tanjung Nyet ini wisatawan bisa mampir melihat pemandangan lalu lalang kapal dari dan menuju Pelabuhan Lembar. Termasuk lalu lalang perahu nelayan. Tempat yang menarik juga untuk bisa melihat sunset atau matahari tenggelam. Apalagi bila ditemani dengan kuliner makanan laut.

Tetapi sayangnya tidak ditemukan kuliner makanan laut di sini saat Radar Lombok berkunjung Minggu (18/3). Makanan yang dijual terbatas layaknya di warung. Lapak-lapak sendiri tampak tidak tertata rapi. Bahkan ada yang roboh belum diangkat pemiliknya. Alasan tidak ada makanan laut seperti ikan bakar dijelaskan salah seorang pedagang dikarenakan peminatnya masih kurang. Untung katanya, kalau dalam sehari itu ada satu yang membeli ikan bakar. Makanya dia hanya menjajakan pecel, rujak dan minuman kelapa muda.

Kepala Desa Labuhan Tereng, Humaidi mengakui bahwa Tanjung Nyet butuh sentuhan, karena di sana kumuh. Lapak-lapak perlu ditata termasuk diberikan sentuhan lain agar Tanjung Nyet yang memiliki pemandangan bagus bisa menjadi destinasi wisata andalan. Terlebih pada 2024 nanti, Tanjung Nyet merupakan pintu masuk internasional pasca diresmikannya Pelabuhan Gili Mas yang kini dalam proses pembangunan di Desa Labuhan Tereng. Sebagai pintu masuk kata Humaidi, tentu harus ada penataan agar tidak kumuh.

Tetapi memang lanjutnya, dari APBDes sendiri itu tidak kuat untuk melakukan penataan, karena 40 persen lebih dipergunakan untuk penanggulangan bencana. Sempat mau dianggarkan pada APBDes 2018 tetapi urung karena anggaran kebencanaan banjir dianggap lebih urgent.

Oleh karenanya dia berharap ada perhatian dari Pemkab Lobar untuk ikut andil melakukan penataan. Bukan hanya ‘Sekotong Mendunia’ yang harus menjadi perhatian. Lembar juga bisa mendunia kata Humaidi. “Penataan itu kita harapkan bukan hanya di destinasinya, melainkan juga SDM di sana. Karena mau tidak mau di sana akan menjadi pintu masuk internasional setelah Pelabuhan Gili Mas diresmikan 2024,” tandasnya.(*)