Berkunjung ke Taman Wisata Ala Jepang di Kebon Talo

Serasa di Jepang, Menikmati Musim Panas

Taman Wisata Ala Jepang di Kebon Talo
PENGUJUNG: Salah satu pengujung menikmati taman sosmed di Lingkungan Kebon Talo, Kelurahan Ampenan Utara. (Sudir/Radar Lombok)

Ada destinasi wisata baru di Kota Mataram, namanya, taman Sosial Media (Sosmed). Taman ini berlokasi di Lingkungan Kebon Talo, Kelurahan Ampenan Utara. Taman ini mirip seperti di Jepang.


SUDIRMAN-MATARAM


SUASANA dan pemandangan indah akan menyambut pengunjung jika datang ke Taman Sosial Media (Sosmed) di Lingkungan Kebon Talo, Kelurahan Ampenan Utara. Di taman ini dikemas sedemikian rupa sehingga serasa seperti berada di Jepang.

Saat memasuki taman ini, pengunjung akan disuguhi keberadaan lampion serta bunga-bunga artifisial berwarna pink. Bunga-bunga ini dibentuk menyerupai bunga sakura, khas negeri Matahari Terbit itu.

BACA JUGA: “Sensasi Senggigi”, Cara Pemuda Hidupkan Pariwisata Senggigi

Destinasi baru ini merupakan salah satu bentuk gagasan dari warga Lingkungan Kebon Talo, Kelurahan Ampenan Utara, Kecamatan Ampenan, yang baru-baru ini viral. Belakangan, kujungan wisata terus meningkat, untuk sekedar berswafoto.

Pengunjung bisa menikmati beberapa tempat dan ornamen ala Jepang yang sudah disediakan secara gratis. Karena kemasannya yang unik, setiap hari taman ini sudah ramai dikunjungan para wisatawan lokal maupun mancanegara.

Salah satu pengunjung Nita Hermawati  menuturkan, dirinya baru mengetahui melalui media sosial (medsos) keberadaan taman itu. Destinasi yang didesain ala Jepang itu disebutnya sangat indah.

Taman Wisata Ala Jepang di Kebon Talo

‘’Ya serasa kita di Jepang, bisa kita menikmati beberapa spot wisata secara gratis,’’ katanya, kepada Radar Lombok, Minggu kemarin, (23/6).

Untuk bisa masuk di area taman ini, pengunjung cukup membayar tiket sebesar Rp 5 ribu. Dengan tiket sebesar itu, pengunjung bisa menikmati semua spot yang ada.

Taman ini memiliki lahan seluas 22 are. Nyaris semua area taman ini dipenuhi dengan bunga-bunga yang indah. Keindahannya ditambah lagi dengan angin yang terasa segar karena dekat dengan sawah warga sekitar.

BACA JUGA: Melirik Potensi Kopang Sebagai Wilayah Bisnis Wisata Bambu

Nita mengaku menyambut baik beberapa inisiasi dari warga sekitar. Ia menyambut positif keberadaan taman ini lantaran semakin banyak destinasi obyek wisata yang bisa menjadi pilihan warga.

Taman ala Jepang yang dikelola oleh warga Tinggar Ampenan bernama, Ray Anugerah. Sosok ini menuturkan, setiap hari pengunjung taman ala Jepang yang diberi nama Taman Sosmed mencapai 150-200 orang, kadang juga lebih.

“Pengunjung taman rata-rata dari kalangan milenial yang aktif bermain sosial media (sosmed), sehingga saat musim libur seperti sekarang ini jumlah pengunjung bisa mencapai lebih 200 orang,” katanya.

Ray menjelaskan, konsep Taman Sosmed ini awalnya adalah taman bunga dan spot foto kekinian. Namun karena bunganya masih kecil-kecil dan belum terlalu banyak, munculkan ide mensiasati spot foto yang unik.

Salah satu spot foto yang dianggapnya unik adalah membangun model rumah Jepang dari bahan triplek lengkap dengan ornamen lampion dan bunga sakura. Hanya saja, bunga sakura itu hanya buatan (artifisial) dari bunga plastik.

BACA JUGA: Pemisahan Tenda Pria dan Wanita di Rinjani Dibatalkan

Kendati demikian, keberadaan rumah Jepang, ornamen lampion dan bunga sakura tersebut spontan menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Ketertarikan ini tidak hanya datang warga Kota Mataram, melainkan juga warga luar kota.

“Keberadaan rumah Jepang inilah yang menjadi daya tarik tersendiri, sehingga sejak kami mulai beroperasional pada 1 Juni 2019, pengunjung tidak pernah sepi,” katanya.

Untuk ide mambangun rumah Jepang sebagai daya tarik utama, ia mengaku sebenarnya tidak ada yang spesial atau kenangan khusus dengan negara Jepang. Namun, ide itu spontan muncul begitu saja.

“Untuk ide taman ini saya banyak melihat di pulau Jawa, tapi untuk rumah Jepang spontan saja  saya buat dan coba-coba, karena di kawasan Montong ala Korea sudah ada meskipun belum maksimal,” katanya.

Dengan melihat tingginya animo masyarakat datang ke Taman Sosmed, ke depan Ray berencana akan menambah koleksi bunga-bunga yang berbunga untuk mengembalikan konsep awal sebagai taman bunga. Sementara spot rumah Jepang akan terus diperbaharui sesuai dengan kondisi kekinian agar pengunjung tidak bosan.

“Kalau tahun ini kita buat konsep Jepang, mungkin tahun depan ada konsep baru lagi,” kata Ray yang enggan membocorkan konsepnya.

Dalam membuat taman ini, modal yang dikeluarkan Ray hanya untuk sewa lahan seluas 22 are lebih sebesar Rp 40 juta, selama lima tahun. “Selebihnya, modal membuat berbagai fasilitas di Taman Sosmed saya dapat dari bantuan sanak saudara dan keluarga,” katanya.

Karenanya dalam mengelola Taman Sosmed, Ray dibantu oleh keluarganya termasuk untuk membuka warung sebagai pelengkap taman untuk memenuhi kebutuhan pengunjung yang haus atau ingin sekedar menyantap makanan ringan.

Di taman ini pengunjung dapat memakai aksesori tambahan seperti bando dari bunga, topi, kursi yang unik-unik dan lainnya. Di Taman Sosmed bahkan ada fotografer handal lengkap dengan kamera LSR dan “light tripod” seperti layaknya foto di studio.

“Satu kali foto hanya seribu, pengunjung sudah bisa mengambil foto melalui bluetooth dan pengunjung bisa memilih foto mana saja yang akan diambil,” kata Enong, salah seorang fotografer yang mangkal di Taman Sosmed. (*)