Berkunjung Ke Hutan Kebun Raya Lemor Lombok

Berwisata Sekaligus Belajar Ilmu Tumbuhan

Berkunjung Ke Hutan Kebun Raya Lemor Lombok
KEBUN RAYA LOMBOK: Sejak ditetapkan sebagai Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) melalui Kepmenhut SK.22/menhut-II/2012, kini Kebun Raya Lemor Lombok mulai ramai dikunjungi wisatawan maupun pelajar. (IRWAN/RADAR LOMBOK)

Tahun 2007 lalu, Tim Pusat Konservasi Tumbuhan LIPI melakukan survei lokasi di NTT dan NTB. Dari hasil analisis kelayakan, Hutan Lindung Lemor di Suela, Lotim, dipilih menjadi lokasi pembangunan hutan kebun raya, dan kini telah menjelma jadi salah satu destinasi wisata di Lotim.


JANWARI IRWAN – LOTIM


SUARA riuh aneka burung, maupun serangga langsung menyambut kedatangan para pengunjung yang tiba di lokasi hutan kebun raya yang ada di Lotim ini. ditambah dengan udara yang agak dingin, dengan pemandangan sekeliling ratusan bahkan ribuan pohon tersaji di Kebun Raya Lemor atau yang lebih akrab disebut Hutan Kebun Raya Lombok, membuat perasaan menjadi segar dan nyaman. Apalagi melihat hamparan rumput hijau yang terawat, menjadikan suasana hati terasa tenang, dengan oksigen alami memenuhi paru-paru.

Ya, ini adalah Hutan Kebun Raya Lombok, yang belakangan terakhir menjadi salah satu daya tarik pariwisata di Lotim. Keberadaan Hutan Kebun Raya ini memang sudah memasuki usia puluhan tahun. Mengingat kebun raya ini mulai dirintis sekitar awal tahun 2007 silam.

Kawasan Hutan Kebun Raya Lombok yang berfungsi sebagai hutan lindung, kemudian ditetapkan sebagai Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) melalui Keputusan Menteri Kehutanan, SK.22/menhut-II/2012.

“Pada tahun 2007 memang lokasi ini dipilih dari sekian tempat yang ada di NTB dan NTT. Lokasi inilah yang dinilai paling tepat. Pembibitan mulai tahun 2010, dari tanaman koleksi yang ada diambil dari hutan lindung,” jelas Indrum, Pengelola Hutan Kebun Raya Lombok.

Hutan Kebun Raya Lombok terdiri dari areal hutan untuk konservasi seluas 82,9 hektar, dan areal terbuka seluas 48 hektar. Hutan ini memiliki 1.227 spesimen, mulai dari tanaman anggrek 30 genus, 42 spesies, dan 90 masih sp. Untuk tanaman non anggrek ada 31 famili, 126 genus, 115 spesies dan 121 masih sp.

Untuk mengisi tanaman koleksi yang ada di Hutan Kebun Raya Lombok ini, memang butuh waktu bertahap. Karena untuk mengoleksi sejumlah tanaman ini dibutuhkan waktu bertahun-tahun. Penanaman tanaman koleksi baru mulai dilakukan sekitar tahun 2011 lalu. “Kalau untuk tanaman anggrek itu mulai dilakukan tahun 2013,” katanya.

Dari tahun ke tahun, jumlah spesies tanaman anggrek terus bertambah. Sehingga di dalam kawasan hutan ini pun terdapat sebuah taman anggrek yang paling banyak disenangi pengunjung yang datang ke Hutan Kebun Raya Lombok.

Selain untuk konservasi, keberadaan hutan ini dihajatkan untuk penelitian, jasa lingkungan, hingga sarana wisata dan rekreasi. Diungkapkan Indrum, setiap hari libur sejumlah pelajar mulai dari Taman Kanak-Kanak, murid SD, sekolah menengah, hingga mahasiswa datang ke lokasi ini.

Di area ini, para pelajar menggelar kegiatan Camping, Pramuka, atau hanya sekadar berlibur bersama keluarga menikmati suasana pepohonan yang rindang untuk bersantai. “Para pejabat pemerintah juga sering datang kemari sekedar untuk bersantai,” ujarnya.

Saat ini, sejumlah mahasiswa luar daerah juga tengah melakukan penelitian di lokasi Hutan Kebun Raya Lombok. Mereka meneliti sejumlah koleksi tanaman lokal yang ada di hutan ini dari wilayah Sunda Kecil (NTT dan NTB). “Untuk masuk ke wilayah hutan Kebun Raya Lombok ini semua gratis. Ini menjadi tempat wisata rekreasi sambil belajar mengenal tumbuhan dan alam,” pungkasnya. (*)